RSS

Tersia

11 Mar

Kesedihan ini darimana. Keharuan ini akan kemana.
Kepundak gunung dimana lahar menggila.
Atau kepalung laut dimana kegelapan menghimpit rasa.

Aku lelah. Beban terasa distiap langkah.
Ikut kemanapun tujuanku terarah.
Dan aku gamang harus berbuat apa.
Hatiku beku tanpa rasa. Suaraku tersekat diujung lidah.

Wahai kau pemilik cinta. Seperti apa, aku harus meminta?
Apakah bersimpuh menundukkan kepala.
Atau suguhan wajah dengan airmata.

Aku tak kuat menunggu,
stiap dentang detik kurasa seperti palu, memukulku lumat menjadi debu.

Katakan apa yang harus kulakukan?
Menyebut namamu spnjng malam. Menyimpan wajahmu dalam ingatan. Semua itu hanya membuat perihku semakin dalam.

Aku diterpa kegilaan hati, seperti ngengat dan cahaya api,
Ianya terbang menuju kematian, tertipu oleh cahya berkilauan.

Wahai kau, yang dihatiku kini bertahta.
Tidakkah kau merasa. Bahwa diammu sungguh menyiksa.
Jatuhkan padaku putusan. Agar aku tau apa yang kau inginkan.

Aku rasa. Seperti inilah kita nanti adanya.

Aku jadi bakteri. Hidup sendiri, membelah diri.
Sedang kau jadi merpati. Terbang berpasangan, kesana kemari.
Aku tenggelam dilumpur dalam. Dengan seluruh jiwa terbenam.

Baiknya gelora yang tersisa. Kita sudahi saja. Karena kau akan baik2 saja. Sedang aku hancur tak bersisa.

¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 11, 2011 in Catatan Lama, Puisi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: