RSS

Tentang Rasa Empati

12 Mar


Beberapa malem yang lalu lagi nonton TV , pas ganti – ganti chanel (biasa menghindari iklan) gak sengaja singgah kesalah satu siaran TV yang lagi nyiarin Film India. Pada dasarnya saya gak gitu suka Film India. Walaupun waktu kecil sempet tergila2 juga, tapi karena tren Film India belakangan kayaknya temanya gitu – gitu aja, maklum ngikutin selera pasar akhirnya bosen dah ( Lha kuk jadi ngomongin film India yah).

BTW, saya gak lagi pengen ngomongin Film India, tapi saat kejadian pindah chanel tadi telinga saya sempet denger satu perkataan yang menurut saya begitu menarik dari salah seorang pemerannya. Dia seorang ibu di film itu , begini kira – kira kalimatnya yang sempet saya kutip ” Saya bangga dan tidak malu punya anak seperti Rahul walaupun dia tidak sempurna, saya justru malu seandainya saya punya anak seperti kalian.” Karena nangkepnya hanya sekian detik (tanpa bisa di replay) makanya kutipannya pake kira2, semoga tidak salah.

Pertanyaannya apa yang membuat si ibu mengeluarkan kalimat demikian ???


Si ibu punya anak terkebelakang secara mental (semacam idiot lah) dan jadi bahan olokan dari temen2 remajanya yang notabene normal semua. Menurut saya sindiran si ibu luar biasa , seakan – akan si ibu mau bilang dalam versi panjang ” Anak saya cacat tapi tidak pernah melukai perasaan orang lain bahkan dalam niat sekalipun dengan hinaan – hinaan , padahal otak dia tak sempurna. Dan sebagai ibu saya tak pernah merasa di susahkan oleh kelakuannya , karenanya saya bangga terhadapnya. Sedang kalian dikaruniai kesempurnaan secara mental , tidak cacat dan bisa berfikir dengan baik tapi bukannya bersimpati dan memiliki rasa empati terhadap anak yang cacat ini tapi justru menjadikannya sebagai bahan olok – olokan. Dan seandainya saya ibu kalian tentu saya akan merasa malu dengan kelakuan kalian.”

Luar biasa bukan ? setidaknya bagi saya tentunya.

Dan tiba – tiba kutipan tersebut sungguh – sungguh menyentuh hati saya dan ingin merefleksikannya dalam perjalanan hidup saya. Lalu saya merasa bahwa rasa simpati dan empati merupakan barang langka dan bukan menjadi bagian dari karakter kita sehari – hari. Okelah kita sering merasa bersimpati atau kasihan pada orang lain, setelah itu terus apa ? hanya sekedar rasa kasihan bukan ?

Kurangnya rasa simpati dan empati dapat kita contohkan pada banyak hal yang lumrah. Contoh nomor satu tentu saja anak si ibu tadi.Dikebanyakan kita , biasanya waktu anak – anak bahkan ada yang sampai tua. Saat melihat orang cacat dibanding merasa simpati dan berempati, kita kadang cenderung memandang rendah dan malah tak jarang menjadikannya bahan olok – olokan. Bahkan memanggilpun dengan menyebut cacatnya, contoh Si Anto pincang / pilas, Si Atik juling, Si Ujang bengek, Si Amat telengong dll. Tanpa mau tahu apakah gelaran tersebut menyakiti hati mereka. Dan biasanya orang2 yang mendapat gelaran tersebut pasrah dengan gelaran yang mereka dapat. Entahlah kalau dalam hati mereka berdo’a, misalnya “semoga entar anakmu lebih parah”. Ingat ! Mereka orang yang terzalimi dan do’a orang seperti itu dijamin makbul.

Saat masih kecil saya yakin kebanyakan kita , akrab dengan perilaku demian. Saat lihat temen kita celaka biasanya sih ringan – ringan. Seperti jatuh dari sepeda , tersandung batu, kecebur parit dll. Yang pertama kita lakukan biasanya ngakak habis – habisan tak jarang ditambah seruan – seruan ” Kapok ! , Rasain lu !, atau Masih mau ?!?” dan bila si temen tersebut menangis, maka sempurnalah pertunjukan hari itu. Padahal seandainya rasa simpati dan empati itu ada dan menjadi bagian dari karakter kita, tentu yang pertama kita lakukan adalah menghampiri si temen membantunya berdiri sembari bertanya ” kamu gak papa kan ?” So sweet .

Atau saat sekolah dulu , saya masih ingat salah satu hal yang membuat kebanyakan anak lain tertarik adalah saat salah satu dari mereka mendapat hukuman, misalnya terlambat terus dihukum hormat bendera angkat kaki satu plus pegang telinga di bawah terik matahari. Wah… pokoknya dianggap momen langka dapat tontonan gratis . Andai ada HP , momen itu pasti ada yang abadikan . Lalu tak jarang kita menunggu – nunggu kira2 ada hukuman tambahan gak ?

Contoh lain , ini pengalaman pribadi kali. Waktu kecil dulu apabila ada salah seorang ortu temen yang lagi nyariin anaknya sambil bawa ranting kayu ( mungkin si anak dianggap bandel oleh si ortu karena gak tidur siang atau males ngaji dll). Pokoknya dengan sukarela dah bantuin tu ortu nyariin anaknya, malah kadang kita lebih rese’ dari si ortu sendiri. Niat sebenarnya bukan bantuin tuh ortu, tapi pengen melihat momen – momen KDRT, heheheheheh.

Entahlah , masih kecil dah dihinggapi setan yang membuat kita merasa seneng saat si temen dihajar ortunya.Bahkan seandainya begitu di dapat si anak langsung di hajar sama ortunya, tanpa sadar sepanjang jalan kita ngikutin kejadian itu sampe si temen dan ortunya nyampe di rumah mereka. Hebat kan ???

Yah apa mau dikata terkadang ” perasaan senang saat orang lain menderita” dah jadi bagian dari kehidupan kita. Makanya pantas saja kalo dah besar kebanyakan kita adalah orang2 yang gak begitu peduli dengan nasib orang lain.

Tak heran bila ungkapan – ungkapan seperti ” Kacian deh loe !, Tu mah derita Elo !, atau Emang gua pikirin !”. Begitu populer dikalangan anak muda sekarang. Karena mungkin itulah kalimat sempurna untuk menggambarkan watak dari kebanyakan kita.

Maret, 2011

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 12, 2011 in Aku Menulis

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: