RSS

Mengumbar Amarah

05 Jul


Gunslinger’s Revenge begitulah judulnya. Saya yakin sebagian besar anda tak pernah denger judul film ini. Karena film ini memang tidak terkenal . Dibintangi oleh aktor dan aktris yang juga tak terkenal, bahkan saya gak yakin kalo film ini pernah dibuat untuk tayang di layar lebar. Saya pun nontonnya Cuma lewat VCD, itupun bajakan pula , heheheheheh. Film nya sederhana ditilik dari sudut apapun mulai ceritanya , setting filmnya , visualnya termasuk tokoh – tokohnya. Pokoknya semuanya sederhana.
Dan saya pun tak hendak bercerita tentang film ini. Saya hanya ingin menyampaikan satu hal yang membuat film ini begitu tertanam di otak saya , sebuah alasan yang juga sangat sederhana. Yaitu adegan dalam film ini tentang dua orang lelaki yang terlibat konflik dan ingin menyelesaikan masalahnya dengan cara khas koboy “Gun’s Fight”. Berdiri berhadapan sambil megang pistol lalu adu cepat membunuh lawan. Ketika mereka saling memaki dan siap adu nyawa , datanglah si tokoh utama . Jangan berfikir si tokoh utama ini seorang “ Cowboy Super atau Gun’s Fighter ”. Yang ada dia adalah seorang dokter yang mengabdikan hidupnya di tempat terpencil itu. Dia segera melerai keduanya yang juga memang bukan cowboy beneran tapi dua orang petani yang bertengkar hanya karena hal yang sangat sepele. Tapi sampai mau adu nyawa. Lalu alasannya dimana film ini begitu menghujam benak saya ??? Yaitu “lima menit” yang digunakan oleh si dokter unyuk mengulur waktu saat melerai mereka dengan mengalihkan perhatian kedua orang itu dari rasa marahnya. Karena si dokter tahu “ sebesar apapun, puncak kemarahan itu paling lama hanya lima menit tapi dalam lima menit itu anda bisa melakukan hal hal yang akan anda sesali kemudian bahkan bisa seumur hidup“. Ini adalah petikan kalimat yang berasal dari si dokter.
Lima menit bisa jadi adalah titik kritis dari kemarahan.
Pernah dengar berita menghebohkan tentang seorang pemuda di Aceh bernama Ibrahim yang membantai tiga orang keponakannya dengan sadis ? Karena alasan yang amat sangat sepele hanya karena tidur siangnya terganggu. Sekilas hal itu gak masuk akal untuk terjadi, tapi kenyataannya terjadi juga. Padahal si Ibrahim bukan residivis, bukan psikopat dan tak punya catatan kejahatan . Pokoknya sebelum kejadian dia hanya orang biasa sama seperti kita dan sebelum kejadian diapun tak akan pernah berfikir seumur hidupnya akan membunuh orang terlebih pada keponakannya sendiri ( bahkan dalam salah satu petikan berita dia mengaku sangat akrab dan menyayangi keponakan yang dia bunuh itu). Saya coba merekonstruksi kejadian itu dalam benak saya. Si Ibrahim tidur siang dalam keadaan hati yang tidak nyaman karena suatu hal. Lalu ponakannya yang kecil yang tak mengerti keadaan si paman terus mengganggu, dalam beberapa kabar dikatakan merengek minta uang jajan. Karena si paman kesal dia lupa bahwa yang dia hadapi seorang anak kecil berumur lima tahun. Saat sadar diapun panik luar biasa tapi kepanikan tersebut justru membuat dia melakukan hal hal bodoh berikutnya dengan tujuan menghilangkan saksi dua ponakan berikutnya jadi korban. Naudzu biLLah min dzalik.
Lalu apa maksudnya kisah tragis ini saya angkat ? Saya Cuma mau bilang seandainya si Ibrahim bisa melewati lima menit titik kritis kemarahannya, pasti kejadian itu tak akan terjadi. Puncak kemarahan hanya lima menit dengan nafsu amarah yang menggebu – gebu, lalu seiring munculnya kesadaran kita akan lebih berfikir jernih dan menimbang nimbang konsekwensi bila kita melampiaskan kemarahan kita. Karena amarah alasan – alasan sepele bisa menyebabkan hal yang luar biasa buruk. Misalnya seseorang terbunuh hanya karena tak sengaja bersenggolan dijalan, karena saling tatap mata dan banyak lagi alasan – alasan aneh lainnya.
Zidane membuat Prancis kehilangan kesempatan menjuarai piala dunia 2006 dan kehilangan kesempatan menutup karier dengan momen indah karena tidak bisa membendung amarah, padahal andai sebelum menanduk materazzi dia melewatkan dulu ( mungkin tak perlu sampai ) lima menit, meski terlihat bodoh tapi dia tak akan terusir dari lapangan.Seseorang kadang juga bisa hancur kredibilitasnya karena mengumbar kemarahan di media . Seperti Luna Maya yang sempat jadi musuh wartawan karena mengumbar kemarahan di social media. Dan sekarang ada Nazaruddin yang mengumbar kemarahan lewat BBM, apa yang dia lakukan nantinya hanya akan bikin susah dirinya sendiri. Terlepas yang dikatakan benar atau tidak. Bahkan saya yakin lebih banyak kasus kejahatan seperti pembunuhan , penganiayaan dan kekerasan lainnya terjadi karena hal yang sifatnya insidentil dibanding karena direncanakan. Karena mereka mengumbar kemarahan ditempat dan dengan cara yang salah , yang seharusnya sangat tidak perlu dilakukan.
Sebenarnya ada banyak cara untuk melewati titik kritis itu dengan lebih positif tanpa harus terjebak dalam tindakan bodoh. Contohnya dalam agama di katakan bila kamu sangat marah maka berwudhulah, karena amarah itu seperti api maka air akan memadamkannya. Ah… andai si Ibrahim sempetin berwudhu saat marah menguasai dirinya maka mungkin dia tak perlu meratapi penyesalannya seumur hidup. Dan berwudhu gak sampai lima menit. Atau paling mudah adalah saat ada benar – benar marah cukup berdiam dan tarik nafas dalam – dalam . Inilah yang selalu berusaha saya lakukan saat merasa benar – benar marah .Sederhana sekali bukan ?
Dari semua yang saya tulis , saya hanya ingin bilang “ saat anda dikuasai rasa marah yang terbaik anda lakukan adalah jangan melakukan apa – apa. Karena apapun yang anda perbuat saat itu kemungkian besar pasti salah. Tapi berilah lima menit pada otak anda untuk berfikir dan anda akan tahu apa yang perlu diperbuat atau yang tak perlu diperbuat. Dengan catatan anda masih punya otak”

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 5, 2011 in Aku Menulis

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: