RSS

Hewan Pun Bisa Jadi Guru

05 Agu


Manusia adalah mahluk yang berfikir. Kemampuan berfikir membuat manusia bisa belajar dan menarik pelajaran dari siapapun atau apapun. Dari pengalaman diri sendiri, dari sesama manusia bahkan dari mahluk lain.

Kehidupan dan tingkah laku hewan pun dapat menjadi tempat belajar bagi manusia. Bila manusia cukup arif dan mau sejenak mengamati dan berfikir.

Dalam teks – teks kitab suci , banyak sekali kisah dan prilaku hewan yang di jadikan perandaian. Agar manusia mau merenung. Kisah tentang semut dan koloninya, lebah dengan madu yang dihasilkannya, unta dengan sifat-sifatnya adalah sebagian dari itu.

Kearifan-kearifan lokal yang berbentuk kisah dan dongeng pun banyak yang menyajikan hal serupa. Kancil dan buaya, merpati yang tak pernah ingkar janji, katak yang ingin jadi lembu dan sebagainya.

Dari semut kita bisa belajar kerja keras, gotong royong, persatuan dan sikap kekerabatan yang kental. Semut adalah mahluk yang sangat ulet. Apakah ada yang pernah melihat semut sedang santai bermalas-malasan ? Ngopi sambil ngerokok ? Ngegosip ? Saya sendiri hanya pernah lihat semut tidur di film.

Biar kecil tapi semut sangat kuat, ia sanggup mengangkat beban beberapa kali bobot tubuhnya konon bisa sampai seratus kali. Selalu bekerja dalam tim dan menjaga komunikasi. Lihatlah setiap seekor semut bertemu kawannya. Ia selalu singgah , menautkan antenanya. Seakan berbagi info atau sekedar berbagi salam. Dan cara ini efektif untuk melindungi koloni dari penyusupan musuh.

Kerja keras , kompak dan jiwa kebersamaan yang tinggi dapat membuat gundukan tanah menjadi sarang bagi koloni mereka. Bila pikiran manusia bisa melihat melalui kacamata semut, pasti akan takjub dengan kemegahan dan keindahan hasil karya para semut tersebut.

Semut sangat peduli pada bangsanya, mengumpulkan persediaan makanan untuk kepentingan bersama. Tak ada semut yang menimbun makanan untuk kepentingan sendiri. Saat diantara mereka melihat sumber makanan, segeralah teman-temannya di beritahu. Tak ada semut yang dengan licik menyembunyikan sumber makanan itu untuk dinikmati sendiri atau terbatas pada kroni-kroninya.

Kepedulian pada kelangsungan hidup koloni, juga terlihat saat koloni itu mendapat serangan dari musuh. Biar kecil mereka adalah hewan pemberani. Cobalah panjat pohon mangga yang penuh semut / serangga, maka kamu hanya akan melihat semut / serangga berjalan menuju satu arah. Ya, kearah mu. Kalau ada yang kearah lain , mungkin dia tak menyadari keberadaanmu. Tak ada cerita semut lari dari kenyataan, bersikap pengecut apalagi menjadikan kawannya tameng untuk melindungi diri . Maka kadang membuat miris menyaksikan sebuah koloni semut yang kalah perang. Semboyan “Lebih baik mati daripada terjajah dan diperbudak” benar – benar sempurna di perankan.

Semut memberi bukti bahwa ukuran bukanlah segalanya. Mereka kecil tapi kuat, ulet dan pemberani. Rajin bekerja dan menabung, kompak dan setia kawan. Banyak sekali sifat positif dari mereka yang bisa di petik.

Dari lebah kita bisa mendapat pelajaran yang sama tentang kerja keras, pelayanan pada kaum, kesetiaan, keberanian dan memberi manfaat pada alam termasuk manusia di dalamnya. Lebah membantu bunga melakukan penyerbukan. Produk yang dihasilkan semuanya produk berkualitas nomer wahid. Madu, Royal Jelly, Propolis, dan yang lainnya.

Lebah memberi pelajaran cara berorganisasi. Walau sangat sederhana tapi sangat solid. Pembagian tugas yang jelas antara pekerja dan prajurit. Dan tak ada cerita tentang oknum lebah yang berusaha memperoleh keuntungan dari tugas yang diembannya. Apalagi bikin jebakan betmen untuk dapat ongkos tilang.

Dari Onta kita bisa belajar tentang dedikasi,keikhlasan dan kesabaran. Pernah dengar onta mengeluh ? Tentu saja tidak. Andaipun mereka mengeluh , kita juga tidak tahu. Walau wajah onta selalu terlihat memelas dan tua seperti hewan paling menderita di dunia, tapi mereka tetaplah pekerja keras kelas berat. Onta hewan pekerja yang tak perlu di pecut karena mereka punya dedikasi dan tanggung jawab pada tugasnya. Kerja kuat tapi makannya 20 % lebih sedikit dari hewan lain. Minum banyak tapi sanggup tidak minum untuk waktu sangat lama.

Onta juga hewan yang sangat sabar. Kita pernah lihat kuda ngamuk, sapi ngamuk, kerbau ngamuk dan orang ngamuk. Tapi onta ngamuk ? Padahal mereka “dipekerjakan” lebih banyak dari para tukang ngamuk itu. Di suruh berpanas – panas di tempat yang sangat panas. Membawa beban menempuh jarak yang jauh. Tapi sekali lagi, mereka tak pernah mengeluh seperti sebagian pegawai negeri. Yang di kantor kerjanya ngerumpi, tapi mengeluh tiada henti.

Dari Buaya kita bisa belajar kesetiaan pada cinta. Dan oleh Budaya Betawi di wujudkan dalam filosofi “ Roti Buaya”. Padahal Buaya sering dilecehkan oleh manusia, dengan mengistilahkan lelaki tukang kawin sebagai Buaya darat. Buaya juga sering diperandaikan dengan orang yang rakus dan serakah. Padahal Buaya sering tidak makan berbulan-bulan.

Kita bisa belajar dari ikan tentang konsistensi. Salah satu hal yang sering di kambing hitamkan atas keburukan prilaku seseorang adalah pengaruh lingkungan. Maka tengoklah ikan laut, walau tinggal di air asin tak membuat daging ikan menjadi asin. Setelah mati baru bisa dijadikan ikan asin.

Tentang hal ini kita juga bisa belajar dari Burung Elang. Elang adalah hewan yang tak pernah terpengaruh suasana lingkungan. Sebaliknya dia lah yang menciptakan suasana. Lihatlah saat Elang datang, tiba – tiba suasana jadi mencekam bagi mahluk yang lain. Induk ayam berteriak – teriak mengumpulkan anak-anak nya. Burung – burung lain menghilang di udara. Ular – ular yang biasa jadi mangsa tak tampak batang hidungnya. Para tikus mencicit lalu pulang ke lubangnya.

Karena Elang punya wibawa. Dengan tatapan matanya membuat yang di tatap klepek – klepek.

Dari monyet kita bisa belajar memikirkan masa depan. Lihatlah monyet saat diberi buah , dia akan memakannya. Diberi lagi , dimakan lagi. Diberi lagi , karena sudah kenyang dibuatlah semacam tembolok dilehernya untuk menaruh buah itu. Diberi lagi, di taruh di tembolok yang sebelah. Diberi lagi, karena tembolok penuh, ditaruh di ketiak kiri. Diberi lagi, diketiak kanan. Diberi lagi, dipegang tangan kanan. Diberi lagi, dipegang tangan kiri. Diberi lagi, karena tangan penuh digunakan kaki kanan (kaki monyet kan bisa megang). Diberi lagi, yang ini tak diterima. Karena ia telah jatuh telentang diatas tanah.

Tapi kita tentu cukup pandai mengatur diri agar tak sampai jatuh terlentang saat dapat rezeki.

Kita bisa belajar antri dari bebek, walau cuma Bebek yang lagi akting iklan.

Masih banyak hewan yang darinya kita bisa belajar. Tinggal kemauan dan kemampuan berfikir yang kita butuhkan.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 5, 2011 in Aku Menulis

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: