RSS

Kata Pamanku Tentang Poligami

07 Agu

Gambar hanya ilustrasi
Namanya Tajuddin dan tidak masuk dalam daftar Udin sedunia. Sukurlah tidak, karena kalo masuk dan dia tidak suka. Yang keluar dari mulutnya adalah “ ouwhh… mau juga saya kasih ‘bagian’ nya ini” .

Aku tak mau bercerita soal sifatnya yang pemberang. Tapi satu sifatnya yang satu lagi, yaitu tukang kawin alias “Poligamer”.

Pamanku tujuh kali nikah, tiga sudah dicerai. Dan sekarang punya empat isteri , itupun karena batas maksimal yang diperbolehkan Cuma segitu. Maklum biarpun poligamer tapi pamanku termasuk orang yang takut agama. Kemana – mana di kepalanya selalu ada kopiah berhias benang keemasan mengelilingi kopiah itu. Sebuah kopiah khas dari daerah tertentu di Sulawesi sana.

Sifat tukang kawinnya ini yang sering aku protes.

“ Paman, kenapa sih kerjanya kawin terus ?”

Dia Cuma melongok kearahku sambi senyum kecil. Bila aku memaksa maka jawabannya.

“ Sudah takdir ”.

Grrrrr. Enak bener jawabannya. Soal takdir ini, aku sebenarnya tahu yang dia maksud. Tapi tentu saja aku tak setuju, dan bagiku dia cuma mengada – ada.

Menurut dia, sebagai orang Bugis harusnya tau bahwa kepanjangan dari kata “ Bugis” itu, “Banyak Uang Ganti Isteri”. Jadi kalo orang Bugis kaya, trus isterinya cuma satu maka akan dapat julukan “Ogi’ dodong” arti bebasnya kira-kira “Bugis payah”. Mendengar penjelasan “ancur” ini, saya gemes plus gak sanggup menahan ngakak.

Memang pamanku ini hidupnya bisa dibilang mapan. Sejak muda pekerja keras. Sawah dan kebun nya luas. Punya toko besar dan kini jadi juragan beras. Di tempatku beliau masuk golongan atas.

Menurutnya lagi, orang Bugis yang tidak banyak isteri biasanya karena tak punya kesempatan dan cukup uang. Tapi kalo ada orang miskin punya banyak isteri itu baru top markotop.

“ Tapi lihat tuh Jusuf Kalla, orang Bugis kaya raya isterinya Cuma satu”. Bantahku saat ittu.

“ Memangnya kamu tau, isterinya Daeng Yusuf Cuma satu ?”

Aku terdiam sejenak.

“ Pastilah Paman . Yusuf Kalla tuh orang terkenal, tiap hari masuk berita. Kalo isterinya banyak, pastilah semua tau. Masuk di gosip sehari tujuh kali”.

Dia menghela nafas, lalu bergumam pelan.

“Yah….Berarti Daeng Yusuf Ogi’ dodong”

Aku benar – benar terdiam.

Suatu hari aku mendapat kabar pamanku sedang sakit. Sebagai keponakan kesayangan, tanpa membuang waktu aku datang menjenguknya. Soal ponakan kesayangan ini sebenarnya aku juga bingung. Diantara ponakannya yang lain akulah yang paling bandel , paling sering membantah dan paling sering memprotesnya. Ponakannya yang lain semua penurut dan takut pada beliau, karena pamanku memang tempramental. Anehnya kalau pamanku ada sesuatu selalu aku yang diajak, sering dikasih duit dan dibiayai sekolah paling banyak. Tentu saja ponakan lain pada iri. Bahkan ada yang bilang, ” jangan – jangan aku ini anak dari isterinya yang kedelapan. Tapi apa peduliku.

Sesampai dirumah paman, aku lihat di luar kamar beberapa dari isteri dan anak-anaknya berkumpul mengobrol. Kehebatan lain dari pamanku ini, para isteri dan anak-anaknya terlihat rukun satu sama lain. Beberapa dari mereka tersenyum padaku, akupun membalasnya.Aku menuju ke kamar dan melongok kedalam . Loh ! Kok kosong.

“ Paman , mana Has ?” Tanyaku pada isterinya yang termuda. Walau dia harusnya adalah bibiku, tapi aku selalu memanggil namanya saja. Soalnya dia lebih muda dariku. enak aja mau dipanggi bibi.

“ Paman mu pergi ke gudang “ sahutnya sambil merapikan baju. Saat itu dia lagi menyusukan anak. Gudang yang dimaksud adalah gudang beras, yang letaknya di belakang toko pamanku.

Sesampai digudang aku melihat pamanku sedang menulis di meja kerja. Dan ia terlihat baik – baik saja.

“ Loh, katanya paman sakit ?”

“ Ponakan apa kamu itu, sudah sembuh paman baru kamu muncul. Ndak bawa – apa lagi.” Semprotnya. Aku tersenyum kecil dan menjawab

“ Siapa suruh paman cepat sembuh, heheheheh………”.

Dia menatapku sejenak

“ Beginilah kalo orang hidup bahagia”. Bangganya, “ jarang sakit. Kalo sakitpun tidak perlu lama – lama. Apa gunanya banyak isteri’.

Beh ! Muncul lagi songongnya.

“ Iya, paman bahagia, tapi isteri paman menderita”.

“ Tau darimana kamu isteriku menderita. Coba liat mereka cocok tho, tidak pernah ribut. Liat muka mereka . Apakah keliatan muka – muka orang menderita ?“ elaknya

“ Memang kelihatannya begitu paman, tapi mana paman tau hatinya sedih atau perasaannya menderita”

“ Aih,..Kalo bicara perasaan ndak usah sudah. Perasaan itu tidak tergantung keadaan. Banyak perempuan yang jadi isteri satu-satunya tapi menderita. Lalu kenapa ndak boleh , bukan isteri satu-satunya tapi bisa senang ?” Lalu lanjutnya,” Ada orang yang tinggal di rumah gedung, belum tentu lebih bahagia dari orang dipenjara. Buktinya lebih banyak orang bunuh diri lompat gedung, daripada bunuh diri dipenjara”.

Berdebat dengan pamanku ini sebetulnya percuma. Aku merasa orang yang keras kepala, tapi pamanku ini keras kepalanya dia seperti keras kepalaku di kali tiga.

“ Trus.., memangnya paman itu banyak isteri ada manfaatnya, selain untuk bikin enak paman sendiri ?”

“ Owh,.. banyak sekali manfaatnya “.

Dan mulailah ia bercerita.

Menurut beliau poligami jaman dulu itu bukan sekedar kebutuhan tapi juga keperluan. Contohnya pada masa lalu sering kali terjadi peperangan. Karena yang turun berperang selalu kaum lelaki, maka populasi laki – laki selalu lebih sedikit dari perempuan (belum termasuk faktor biologis, bahwa mendapat anak laki-laki lebih sulit). Apalagi kalau kalah perang. Keadaan ini membuat jumlah janda dan anak terlantar jadi banyak. Nah terbatasnya sumber – sumber ekonomi pada masa lalu membuat kehidupan para janda ini jadi sangat sulit. Masa lalu seluruh pekerjaan itu sifatnya kerja kasar yang hanya cocok buat laki – laki. Dulu belum ada peralatan modern dan pekerjaan lembut, jadi tidak ada wanita karier .Praktis para janda dan anak terlantar ini banyak yang hanya menggantungkan hidupnya dari pertolongan orang.

“Nah disinilah masalahnya”.kata pamanku” Orang nolong yang itu seringkali merasa. Buat apa aku nolong orang ini. Dirumah aku juga punya keluarga yang harus dikasih makan ?”. Dia menatapku, seolah menilai reaksiku.

“ Biar adil buatnya dan lebih mudah membantu si janda. Caranya mengambil si janda jadi keluarga. Di kawini.Semua senang tho !” Tutupnya.

“ Iya kalo itu aku setuju paman. Tapi buktinya, isteri muda paman anak gadis semua” protesku. Kena kau kali ini pikirku.

“ Itulah yang kamu tidak faham. Memang isteri paman gadis semua, tapi ibu mereka kan janda semua. Aku kawinin anaknya, sekaligus menolong ekonomi ibunya yang janda. Sama aja tho. Kan itu menolong janda juga. Jalannya saja yang beda”.

Muka ku memerah, ini orang ada saja alasannya. Seharusnya dia jadi anggota DPR, karena pinter sekali berkelit.

“ Ya, udah terserah paman. Tapi itukan berlaku dijaman perang. Sekarang kan kita disini tidak sedang perang. Paman mau ngomong apalagi ?”

“ Siapa bilang kita tidak sedang perang ? Presiden SBY sendiri yang bilang kalau bangsa ini sedang berperang”.

“ Perang apaan paman ?”

“Alahh.. Apa guna mu sekolah? Kita perang melawan kemiskinan”. Jawabnya

“ Jadi maksud paman, paman banyak isteri untuk memerangi kemiskinan ?”

“ Bisa Tho ! Daripada temanmu si Cuplis itu, yang ikut LSM itu. Bicara aja soal kemiskinan tapi ndak ada bukti. Liat Paman , berapa orang miskin yang paman tolong. Si Tini itu, mamaknya aku bukakan toko baju.Adik-adiknya aku biayai sekolahnya semua. Si Mariani juga begitu, Mamaknya aku modali sawahnya. Saudaranya kubelikan kapal biar bisa melaut. Baru si Hasna, mamaknya ku kasih naik haji,ehh… kakaknya kubelikan mobil taksi. Coba temanmu si Cuplis ? ada kah dia belikan kapal orang, ada kah dia kasih naik haji orang. Malah mungkin uang LSM dikasih masuk semua keperutnya sendiri”.

Betul – betul percuma aku sekolah. Karena menghadapi pamanku yang tak tamat SD ini saja bikin aku speechless.

Dan mulailah kotbah panjangnya soal manfaat poligami mengalir deras dari mulutnya. Di dunia ini banyak orang kaya, yang bingung mau diapakan uangnya. Hingga uang nya dipake aneh –aneh. Beli batu harga 1 miliar, beli gambar (lukisan) harga bermiliar. Beli mobil yang Cuma cukup buat dua orang tapi harganya bermiliar. Uang sebanyak itu bisa dipake mensejahterakan banyak orang. Kenapa uang itu tak dipake poligami biar banyak yang ikut merasai. Daripada dipake ber zina aja.

Gara – gara miskin banyak perempuan jadi pelacur. Sampai – sampai banyak negara pusing. Terpaksa semua negara Eropa melegalkannya. Lucunya poligami dilarang, katanya merendahkan perempuan. Lalu apakah pelacuran meninggikan derajat perempuan ? Padahal memberantas pelacuran itu gampang menurut pamanku. Berapa jumlah pelacur di Eropa ? Anggaplah 3 juta. Berapa jumlah orang kaya di Eropa ? Pasti lebih banyak. Seandainya boleh berpoligami. Masalah pelacuran akan selesai dalam sehari.

Beh ! Retorika pamanku boleh juga. Tapi aku tetap tidak setuju. Karena kalo aku setuju dengan pamanku. Maka aku siap – siap jadi terdakwa di Kompasiana.

“ Kenapa pele’ paman kok gak ada kawinin pelacur ?”

“ Lah, jatah paman sudah habis tho !, kupake menolong janda-janda. Yah.. sekarang giliranmu lagi”. Katanya sambil melirik kearahku, dengan senyum penuh arti.

“Apa..! Jadi paman mau suruh aku kawinin pelacur ?” Sahutku setengah berteriak.

Dia tertawa terbahak-bahak. Sangat lepas , hingga aku bisa melihat langit-langit mulutnya.

Dasar paman kurang ajar, sungutku. Tentu saja dalam hati. Soalnya kalo dia dengar pasti yang keluar dari mulutnya.

“ouwhh… mau juga saya kasih ‘bagian’ nya ini”.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 7, 2011 in Aku Menulis, Fiksi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: