RSS

Pamanku VS Pengemis

09 Agu


Sudah berapa hari ini pamanku terlihat tidak senang dan uring-uringan. Mudah saja bagiku untuk mengetahuinya. Berbeda dengan kebanyakan orang, Kalau lagi tak enak hati wajah pamanku tidak masam, jutek atau eneg. Tapi terlihat seperti orang bingung yang sedang mikirin negara. Lalu tak henti – hentinya membetulkan kopiah kebesaranya. Aku jadi penasaran.

“ Kenapa lagi paman ? Seperti orang mikirin rakyat saja “. Tegurku, seraya duduk disebelahnya. Dia melongok kearahku , sedikit termangu . Seolah menimbang – nimbang apakah aku bisa membantu mengatasi masalahnya.

“ Itu para pengemis, selama bulan puasa ini tiap hari ada aja yang datang. Bisa sampai tiga orang ganti – gantian. Pusing aku”. Keluhnya.

“ Lho , paman kan juragan paling sukses di kampung. Masak nyumbang pengemis aja mengeluh. Cuma berapa je’ itu”. Sahutku. Dasar, orang kaya pelit makiku dalam hati.

“ Bukan menyumbangnya yang paman tidak suka. Paman ini tak pernah lupa zakat sedekah. Tapi datang ke toko itu yang paman tidak cocok”. Elaknya,” menggangu bisnis itu, na banyak pembeli paman terganggu’.

“ Owh, kalo gitu paman. Kasih pindah aja sudah toko paman, biar ndak diganggu lagi’. Sahutku sambil tertawa.

“ Ouwh.. mau juga kukasih bagiannya ini’. Bukannya dibantu mikir. Malah bikin tambah pusing saja kamu itu”. Katanya sambil melotot.

Masih tertawa aku pergi , meninggalkan si paman yang dilanda pusing.

Beberapa hari kemudian, aku datang lagi ketoko paman. Aku melihat pamanku sedang sibuk mengatur anak buahnya di toko. Ada yang berubah kali ini. Beliau terlihat ceria, kopiahnya terpasang sangat rapi dikpalanya. Sepertinya urusan dengan para pengemis sudah beres nih.

“ Salam alaikum , paman”.

“ Alaikum salam, bos”.

Berarti si paman memang sedang senang. Satu kebiasaannya kalo lagi senang. Dia kerap memanggilku dengan sebutan bos, mungkin sebagai bentuk sindiran. Kadang juga dia menjulukiku “la kalasi”. Susah nyari padanan katanya. Tapi kalau tau cerita Pak Belalang. Seperti Pak Belalang itulah orang “kalasi”. Kalau suka nonton Naruto, bolehlah Shikamaru , hehehehehe

“Wah, paman senang sekali ini. Bagaimana urusan pengemis , udah beres ?

“ Jangan panggil namaku Tajuddin. Kalo pengemis saja tak bisa kuhadapi”.

Hmm. Songong lagi, songong lagi.

“ Beh ! Jangan – jangan paman main usir aja lagi”.

“ Owh,.. tidak. Orang kaya tidak boleh kasar sama orang miskin , bisa pemmali”. Katanya, dan tak berhenti senyum senyum. Pemmali maksudnya pamali atau kualat.

“ Trus gimana dong ?”.

“ Ya, aku kasih uang. Tapi sebelum pulang. Saya kasih baca dia undang – undang. “Bahwa orang miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”. Nah.. baru saya bilangi. Itu di TV banyak pengemis ditangkap gara – gara tidak mau “dipelihara” negara. Nanti kalo kamu juga di liat polisi, bisa ditangkap kamu. Karena dikira tidak mau dipelihara negara,“. Katanya,Ia tak bisa menyembunyikan tawanya.Lalu lanjutnya,’ Liat, sudah 3 hari tak ada lagi pengemis datang, hahahahaahahahah…….”

Aku geleng – geleng kepala. Dasar orang licik makiku dalam hati.

Tapi semua berubah, ketika empat hari kemudian aku datang ke tokonya. Tak ada lagi rona ceria tersisa diwajahnya. Bahkan kopiah kebesarannya pun miring 45 derajat. Wah, gerangan apa yang membuat hati Tajuddin serusuh ini ?

“ Halo paman !” Tegur ku.

“ Hmm….” gumamnya enggan menjawab.

“ Ada masalah apalagi paman ?” Tanyaku.

“ Aih,.. itu pengemis”.

“ Lho ! Bukannya kemarin – kemarin sudah beres ?” ujarku heran.

“ Iya,.. tapi 2 hari ini tambah parah. Yang datang tambah banyak, mana tambah sering”.

“ Kenapa paman tidak bacakan lagi undang undang”.

“ Itu dia masalahnya.Na belum paman keluarkan undang – undang, dia sudah kasih keluar Al-Qur’an. Baru dia baca, lupa paman isinya, tapi begini kira kira “ sesungguhnya pada harta orang kaya itu, terdapat hak orang miskin”. Kata pamanku menirukan ucapan pengemis.” Baru itu pengemis itu bilang, terserah daeng sudah, mau ikut yang mana ? Mau bilang apa paman coba ?”

Aku hampir tak sanggup menahan tawa. Apalagi waktu menutup kalimat dengan kata “coba” mulutnya menganga cukup lama, menghadap kearahku. Jadinya tawa itu ku simpan sekuat-kuatnya diperutku.

“ Ya , udah. Sekarang paman ku panggil apa ?”

“ Apalagi maksudmu itu ?”

“Kan paman bilang hari itu “ jangan panggil namaku Tajuddin, kalo pengemis saja tak bisa kuhadapi”. Jadi apa sudah kupanggilkan paman ?” Tanyaku lugu, seakan tak berdosa.

“ Owh.., mau juga ku kasih bagiannya ini”. Sahutnya seraya berdiri.

Tapi sebelum sempurna berdirinya, aku telah berdiri duluan lalu berlari. Di luar toko aku tak sanggup lagi menahan tawa yang kusimpan dari tadi. Wkwkwkwkwkwkwkwkwk….

Terus apa hubungan cerita ini dengan judul ?

Sebenarnya cerita diatas Cuma selingan , dan disinilah poinnya.

“ Hati – hati komen pada lapak orang di Kompasiana, Karena komen yang telah di submit tidak bisa dihapus. Kecuali oleh yang punya lapak atau Admin. Jadi sebelum komen pikir – pikir dulu”

Sekian dan terima kasih. Selamat menunaikan Ibadah Puasa dan jangan lupa Sedekah

(Gambar di unduh dari Google)

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 9, 2011 in Aku Menulis, Fiksi

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: