RSS

Dangdut , Ceritamu Kini

14 Agu

Coertessy of Google


“Bisa tampil beda” dan “berani tampil beda” adalah dua hal yang dilakukan orang untuk menarik perhatian. Dan cara ini biasanya hampir selalu berhasil. Tapi karena efek yang menyertainya kadang buruk, hingga tak banyak orang yang mau melakukannya.

Bisa tampil beda tidaklah sama dari sekedar berani tampil beda. Untuk bisa tampil beda, kita harus punya ide yang orisinil, kreatif dan menarik. Terkadang melawan arus tapi “tidak sekedar melawan arus”. Terkadang menimbulkan kontroversi tapi berisi.

Dalam dunia musik, Rhoma Irama dan Iwan Fals adalah salah dua dari jenis musisi yang “bisa tampil beda”. Mereka bisa anggap pembaharu dalam dunia musik. Menjadikan Musik tidak hanya sekedar hiburan. Tapi juga sarat dengan muatan pendidikan moral dan kritik sosial.

Sebelum Bang Haji muncul, musik dangdut lekat dengan konotasi negatif. Dianggap musik golongan kelas bawah. Bahkan ada yang menganggap sebagai musik comberan. Musik Dangdut identik dengan suasana mesum remang – remang berisi suara genit dan manja wanita berbaur suara parau lelaki mabuk.

Kemudian muncullah Bang Haji yang pelan – pelan berhasil menghapus stigma negatif tersebut.Padahal memilih jalur dangdut saat itu bukanlah pilihan bijak. Tapi Bang Haji tak sekedar berani tapi juga “bisa” menampilkan sesuatu yang beda. Oleh beliau musik dangdut menjadi sangat diterima bahkan sampai bisa lolos masuk dalam pesantren.

Atas peran beliau Musik dangdut mengalami metamorfosa. Dari ulat bulu yang menimbulkan alergi menjadi kupu – kupu cantik. Bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, bahkan meng-ekspansi negeri jiran. Konon lagu begadang diterjemahkan ke banyak bahasa dan cukup populer di Jepang. Dan kemudian juga melahirkan banyak seniman dangdut sopan yang tak perlu tampil seronok.

Bang Iwan Fals melakukan hal sama. Saat kebanyakan musisi karena suasana politik, memilih bermain di jalur aman. Bang Iwan justru melakukan hal sebaliknya. Ia dengan lantang menyuarakan kritik sosial. Tentu saja memicu kontroversi, tapi berisi. Beliau pun tak sekedar berani tapi juga bisa tampil beda.

Bukan Cuma mereka berdua.Dalam bidang lain pun , banyak orang seperti mereka. Sosok terkenal, melawan arus kadang menimbulkan kontroversi di masanya. Tapi mereka hadir dengan ide orisinil, kreatif dan berisi.

Untuk berani tampil beda, kita hampir – hampir tak membutuhkan apa-apa. Asal cukup kuat mental dan menyiapkan muka tembok, untuk melakukan hal – hal yang kontroversial. Mengubah sampah jadi berita. Menyajikan sampah jadi wacana. Atau mengutip slogan sebuah acara infotainment “ mengangkat hal- hal tabu, agar layak diperbincangkan”.

Di dunia musik dangdut ada juga orang yang terkenal hanya dengan modal “berani tampil beda”. Inul Daratista dan Dewi Persik adalah dua diantaranya.

Popularitas mereka saya lihat semata – mata karena keberanian mereka untuk tampil beda.Walau punya album tapi Inul hampir – hampir tak punya karya musik, kecuali goyangannya. Orang bukan ingin menonton Inul bernyanyi tapi bergoyang. Lagu yang ia nyanyikan hanyalah sebuah pesan sponsor.Ketika muncul pegoyang – pegoyang lain yang lebih gila. Inul pun banting setir jadi pengusaha karaoke.

Tak jauh beda dengan Dewi Persik. Awal kemunculannya dia begitu fresh. Tapi karena ia memang bukan seniman sejati. Akhirnya untuk menjaga popularitasnya bukannya berkarya, tapi bertingkah. Ia artis spesialiasi infotainment. Suaranya memang bagus, tapi banyak sekali yang suaranya lebih bagus dari dia. Lagipula dia tidak terkenal sebagai penyanyi bersuara bagus. Tapi penyanyi bergoyang gergaji. Dan kini dia pun banting setir jadi artis film horor erotis.

Dari segi karya, musik dangdut memang sudah sekarat. Dulu di dunia musik dangdut karya – karya baru begitu sering bermunculan. Tapi sekarang ? Lihatlah pementasan dangdut di mana saja atau di chanel TV apa saja. Lagu yang dinyanyikan itu – itu juga. Penyanyi saja yang berubah – ubah. Dan gaya yang ditampilkan juga kembali ke gaya jaman sebelum Bang Haji muncul, dengan warna yang dibawanya..

Dangdut sekarang adalah dangdut koplo. Cocok untuk menggambarkan masyrakat yang semakin edan. Dan pembajakan musik ikut membantu mengantar musik dangdut menuju ketempat peristirahatannya. Menyusul “lagu anak – anak” yang telah mendahului meninggalkan kita.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 14, 2011 in Aku Menulis

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: