RSS

Surat Cinta

21 Agu

Jatuh cinta adalah hal yang indah. Saat seseorang mengalaminya, begitu banyak rasa campur baur disana. Harap , cemas, rindu, gelisah mengisi separuh hati kita.Lalu bermacam tingkah aneh yang kadang tak sadar dilakukan, menjadi bagian dari hari – hari kita. Melamun sendiri,senyum – senyum sendiri, tidur tak nyenyak , makan tak enak(ini sih kata lagu) jadi rutinitas baru kita setiap hari.

Tapi ada yang berbeda saat ini seiring berkembangnya jaman dan kemajuan tekhnologi. Saat ini jalan untuk mengungkapkan rasa cinta tidaklah serumit beberapa tahun yang lalu. Media yang digunakan pun lebih banyak, lebih cepat, lebih praktis dan instant. Dan kegiatan menulis surat cinta dalam arti sebenarnya, tidaklah relevan lagi. Karena perangkat elektronik telah menggantikan peran kertas, pena dan tinta.

Saya bersyukur , karena termasuk orang yang sempat merasakan nikmatnya menulis surat cinta. Yang saat ini bisa dibilang sudah jadi barang langka. Karena tergantikan SMS cinta, Status cinta, Inbox cinta atau email cinta. Waktu jaman diserang penyakit cinta dulu HP masih barang mewah dan langka, internet Cuma ada di kota. Sehingga untuk urusan cinta, kertas dan pena menjadi pelariannya. (Ketahuan deh, kalo udah tua, heheheheheh)

Saya masih ingat kapan pertama kali menulis surat cinta. Karena ada kejadian unik yang menyertainya. Waktu itu , saya lagi naksir berat pada adik kelas. Saat SMP , saya termasuk pemalu (awalnya, setelah itu malu-maluin). Setelah ritual kirim – kirim salam , saya memberanikan diri mengirim surat cinta. Setelah si surat disiram parfum,Kemudian saya titip pada teman sekelasnya yang kebetulan paling akrab sama si target.

Lalu sampai beberapa waktu kemudian, tiba – tiba saya menjadi terkenal dan jadi bahan bicara satu sekolah. Kenapa ? Rupanya teman yang saya titipin itu ceroboh. Tak tahu bagaimana surat itu “kedapatan” guru di dalam kelas. Lalu oleh Si Guru surat cinta itu di suruh baca di depan kelas. Akibatnya , ya itu tadi.

Tentu saja awalnya saya tak tahu kejadian itu. Hanya ada perasaan aneh ,karena saat bertemu anak – anak lain semua senyum – senyum aneh pada saya. Atau yang nyeletuk “ cie.. cie… cie… !” Karena gak ngerti, ya saya cuek aja. Lalu beberapa hari kemudian , saya tanya ke adik kelas yang saya titipin itu, nasib surat saya. Dia Cuma senyum – senyum juga. Mau maksa , gak mungkin. Apalagi anak itu cewek juga, sekaligus teman akrab target saya.

Akhirnya saya pasrah. Karena kebiasaan yang berlaku, bila surat cinta tidak di balas artinya di tolak. Sampai kemudian saya tau kejadian sebenarnya. Owh…. ternyata ini jawaban dari senyum aneh dan popularitas yang yang saya terima dengan tiba – tiba.

Bagi saya pengalaman menulis surat cinta itu indah dan luar biasa pada seluruh prosesnya. Jatuh cinta itu indah dan proses pengungkapannya juga. Menulis surat cinta adalah bagian dari proses itu. Dan tempo itu, menjadi semacam ritual yang harus dilalui.

Seluruh perasaan yang terlibat dalam proses itu begitu berwarna. Bahagia dan antusias saat menulisnya, harap dan malu saat mengirim atau menitipkannya. Lalu cemas, rindu dan gelisah saat menunggu balasannya. Dan meledak saat dapat balasannya. Meledakkan tawa atau meledakkan airmata karena kecewa. Semua momen itu begitu berkesan dan kadang terjadi cukup lama, tergantung kapan balasan surat itu tiba.

Tapi jaman sudah berubah. Sekarang semua serba cepat dan instan. Saat jatuh cinta , tak perlu tunggu lama . Kirim sekarang , dibalas sekarang. Momen harap, malu, cemas rindu dan gelisah sangat singkat. Atau malah tak ada. Langsung “To the point” bahagia atau kecewa. Karena balasan tak perlu lama.

Dulu kita bisa koleksi lembaran – lembaran kertas surat cinta, dengan segala bentuk, warna dan tulisannya. Juga kreatifitas yang tergambar disana. Sekarang yang bisa di koleksi Cuma inbox. Nasib surat cinta sekarang tak jauh beda dengan Kartu Lebaran, Kartu Ul-tah dan semacamnya.

Saya bersyukur jaman saya ABG dulu , tekhnologi belum banyak ikut campur dalam urusan cinta. Hingga citarasa sebagai “manusia” sangat dominan. Sekarang perangkat elektronik dan segala turunannya, seperti tekhnologi SMS, media sosial atau yang lainnya menggerus banyak hal dari sisi “perasaan kemanusiaan” kita.

By the way. Sekarang memang tak seperti dulu. Dulu proses adalah bagian indah, sekarang hasil adalah segala – galanya.

(Beberapa waktu lalu disebuah komunitas blog yang saya ikuti, ada pekan menulis surat cinta. Walau menurut saya peserta bukan menulis surat cintanya, tapi mengarang surat cinta. Awalnya saya merasa akan mengetahui masa lalu dari beberapa penulis surat itu, melalui surat yang ditulisnya. Karena saya pikir, acara itu dimaksud kan agar para peserta menggali kembali kenangan masalalu cinta nya. Dan menulis ulang surat cinta yang pernah di buatnya dimasa lalu. Atau kenangan yang masih terekam. Tapi ternyata isinya surat cinta banyak dunia, hehehehehehe)

Artikel serupa pernah saya posting DISINI

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 21, 2011 in Aku Menulis

 

Tag: , , , , , ,

2 responses to “Surat Cinta

  1. Dhenok

    Agustus 21, 2011 at 6:05 am

    terakhir saya bikin surat cinta gara2 disuruh sama dosen untuk tugas.. hahahahaha, keren kan tuh dosen..

     
    • abieomar

      Agustus 21, 2011 at 11:31 am

      heheheheheeeh,……. Dosen nya opengen nostalgia tuh !
      Lagipula si dosen tau, anak jaman skarang dah gak ada lagi yang surat – suratan, hehehehhhehheh

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: