RSS

Wanita Dan Hujan (2)

07 Sep


Percayakah anda bahwa dalam hujan tersimpan misteri yang hanya di pahami oleh mereka yang mencintainya. Juga tentang adanya semacam ikatan atau “sesuatu”, apapun itu yang susah dipahami antara hujan dengan mereka yang tergila – gila. Tapi tidak memiliki arti bagi mereka yang tak menyadarinya. Aku adalah contohnya. Walau lucu juga, karena para pencinta itu kebanyakan wanita. Apakah karena wanita …..?

Hmm,.. kalau anda sudi. Berilah kesempatan untukku bercerita. Tentang mereka para pencinta.

Aku kenal dia sebagai orang Jogja. Tentu saja dia adalah yang kedua, dari tiga wanita yang pernah aku ceritakan sebelumnya. Aku tidak bisa cerita bagaimana dia. Karena belum cukup lama mengenalnya. Aku menyebut namanya Salsa. Sekarang terserah anda membayangkan bagaimana dia. Tapi jangan berfikir tentang telenovela. Karena tak ada artis berjilbab dalam telenovela.

Sebelum aku bercerita tentang alasan , yang membuat dia jatuh cinta pada hujan. Aku ingin memberitahukan, rahasia kecil yang ia simpan. Tapi aku tanya dulu,” Apakah anda pernah dengar tentang malaikat hujan ?” Kalau belum, itu masalah anda.Tapi aku sudah pernah dengar. Yah,.. Salsa adalah seorang malaikat hujan. Terserah anda untuk tidak percaya atau malah terperangah. Setidaknya itulah yang dikatakan Dea.

Siapa pula Dea ? Ia seorang gadis kecil yang telah terbang tinggi diantara hamparan awan. Saat kezhaliman memaksanya pergi meninggalkan dunia fana. Dan dalam tulisan ini Salsa, Dea dan hujan tidak bisa dipisahkan. Karena mereka adalah simpul dari cerita yang akan aku tuliskan. Tentang mengapa wanita ini mencintai hujan.

Inilah kalimat pertamanya tentang hujan ,” Hujan!!! Suara gemuruhnya yang khas kembali meramaikan suasana di luar kamarku. Hatiku layaknya ladang gersang yang kembali tersiram air. Sejuk….dan hmmm…aroma tanah yang tersapu hujan adalah salah satu aroma favoritku, selain aroma sedap masakan Ummiku.”

Aroma hujan ? Aku pernah baca bahwa ada sebuah senyawa bernama “petrichor” dengan bau dan aroma khas yang keluar dari tanah , ilalang dan rerumputan lain sesaat setelah hujan. Dan senyawa ini menjadi semacam “aromaterapi” yang mampu menghadirkan ketenangan. Mungkin aroma inilah yang Ia maksud, selain aroma masakan Umminya tentu saja. Dan perasaan tenang itu tergambar dari ucapannya

“Hmmmffhh…tak ada yang berbeda darinya. Semua tetap sama, suasana kelabu dan basahnya selalu memberikan dimensi ruang yang berbeda di mataku. Jauh dari penatnya jalanan yang kerap membuat kepalaku berdenyut, jauh dari hati yang tersapu amarah dan kekesalan, serta serasa lepas dari bejibun tugas yang tak kunjung habisnya. Dan gadis kecil itu tetap sama!!!”. Aku kira anda bisa menangkap ketenangan yang dia maksud. Lalu tentang si gadis kecil yang tetap sama ?

Dia lah Dea. Gadis kecil yang menemaninya menikmati hujan, walau dari kejauhan. Waktu itu adalah bulan Juni yang basah. Seperti biasa, Ia bercengkerama dengan hujan dari balik kaca jendela. Saat wajah mungil dengan senyum polos itu terjebak di pelupuk matanya. Ia mengangkat tangan coba menyapa, si gadis kecil tersenyum balas melambaikan tangan kearahnya. Senyum mereka bertabrakan di udara. Anda boleh menambahkan efek petir membahana, bila anda suka. Dan bulan Juni yang basah itupun dinikmati oleh mereka berdua. Menghadirkan cinta, walau hanya bertepuk sebelah. Karena ternyata Dea si gadis kecil hanya ingin menikmati hujan untuk dirinya. Enggan berbagi dengan siapapun juga.

Tapi cinta sejati tak mengenal penolakan. Ketika anda mencintai hujan, pedulikah anda pada “ apakah hujan mencintaimu juga ?”. Atau ketika anda jatuh cinta pada Agnes Monica, pentingkah untuk mengetahui apakah Agnes peduli pada anda ? Begitulah Salsa, ia menyayangi si gadis kecil tanpa mengharap perlakuan yang sama, karena “ Aku menyayanginya, seolah tengah melihat gambaran diriku yang selalu tertawa oleh hujan. Gadis cilik itu benar-benar telah menempati ruang di sudut hatiku.” Katanya.

Lalu Juni yang basah perlahan berlalu. Meninggalkan aroma bernada sendu. Sampai Di ujung Juni Ia menyadari, si gadis cilik tak lagi terlihat di balik kaca jendela itu. Ia merasakan ada yang berbeda. Saat sepi yang terangkut oleh hujan menghadirkan kesedihan. Memang kelabunya hujan tak selalu menghapuskan beban…tapi juga menyangsikan sebuah kebersamaan, kebahagiaan dan kesedihan.

Hujan hadir seperti pusaran yang membawa ketenangan. Seperti tarian ia menghibur jiwa yang sarat oleh beban. Memberi kehidupan baru pada hati yang pernah terbakar oleh buruknya kenangan. Seperti tunas baru yang tumbuh pada lahan yang hangus terbakar. Sebagai awal baru bagi kehidupan. Manusia berasal dari air, itulah yang dikatakan Tuhan. Para ahli pun mengiyakan. Mari berasumsi bahwa air yang dimaksud adalah air hujan. Hujan bisa menghapus kesedihan, seperti saat ia mengguyur kaca mobil anda yang penuh debu dan kotoran.

Lalu bagaimana rahasia kecil antara salsa dan Dea tentang malaikat hujan ??? Tunggulah sekejap, pasti akan kuceritakan. Pada saat hujan datang tahun depan , heeheehehehehe ….kidding.

Untuk sementara bantu aku mencerna , apa yang ia katakan ,” Tak ada yang lebih tabah… dari hujan di bulan Juni, dirahasiakan rintik rindunya… kepada pohon yang berbunga. Tak ada yang lebih bijak… dari hujan di bulan Juni, dihapusnya gambar tapak kaki yang meninggalkan jejak… yang melangkah ragu di jalan ini. Tak ada yang lebih arif…. dari hujan di bulan Juni, dibiarkannya yang tak terucap… terserap akar pohon dan bunga.” Setelah aku baca. Otak bodohku tak menangkap kesan apa – apa. Semoga tidak dengan anda. Mungkin puisi itu hanya buat mereka para “pencinta”. Padahal puisi itu telah aku tulis ulang sesuai selera. Terilhami HB Jassin si Paus sastra. Yang barusan aku baca.

Sudahlah, kita lewati saja bagian itu. Karena ada bagian yang lebih mudah, tentang malaikat hujan. Saat Salsa dan Dea pertama kali berada dalam sebuah percakapan :

“ Kok kamu ada disini ??” Salsa memulai. Dea tepat berdiri di depan kaca jendela kamarnya. Tersiram derasnya hujan. Memandang kearahnya dengan pendar mata penuh gairah.

“ Kakak adalah malaikat hujan kan?? Ayo keluar kak…aku udah lama menunggu kakak…” Sahut Dea riang. Salsa terdiam. Tetap terdiam seperti terhipnotis saat Dea meraih tangannya, setengah menyeretnya keluar dari kamar. Mereka pun bersama, melangkah dalam hujan.

“ Kakak mau lihat surga nggak ??” Suara Dea memecah kediaman,” Kak,,,surga ada disana. Kalau kita berdoa sama Tuhan, nanti kita akan didatangi malaikat hujan. Dia hanya datang ketika turun hujan.”

“ Siapa yang bilang begitu ??”

“ Eyang.” Sahut Dea. Sembari mengatur nafas, lanjutnya,” Eyang selalu bilang begitu sama Dea.” Jawab gadis kecil itu polos.

“ Memangnya Dea berdoa apa sama Tuhan ?”

“Dea berdoa, supaya Dea bisa bobok lagi sama eyang di langit sana. Trus Dea juga minta…Tuhan kasih uang yang banyak buat ayah Evan dan mama Elis, biar Dea nggak disuruh jual kue lagi setiap hari….biar Dea bisa nemenin kakak “malaikat hujan” menari di bawah derasnya hujan…”

Nah… sekarang anda sudah dengar cerita tentang malaikat hujan, kan ? Maaf bila cerita itu tidak sehebat yang anda bayangkan. Seperti sudah saya bilang, Salsa hanya menjadi malaikat hujan, bila anda setuju dengan apa yang Dea pikirkan. Seperti ucapnya di akhir percakapan, setelah cukup lama menhabislkan waktu di atas bangku taman.

“ Kakak malaikat hujan yang baik…terima kasih udah nemenin dea disini. Dea mau pulang dulu, karena sebentar lagi ayah dan mama Dea pulang. Besok – besok, kalau kakak malaikat hujan kangen sama Dea…kakak lihat kelangit itu ya…Dea akan ada disana menunggu kakak, dan… dan… menari hujan untuk kakak…” Ucap si gadis kecil, sebelum ia berlari menuju hamparan kelabunya awan.

Hampir tak ada cerita yang tersisa setelah itu, tentang Dea si gadis kecil . Selain secuil berita yang tertera diatas koran sore yang Salsa pegang. Dengan judul berita “ Penganiayaan Anak di Bawah Umur Oleh Kedua Orang Tua Tirinya Hingga Menyebabkan Kematian”. Juga secarik kertas lusuh di tangan salsa, diatasnya tertera tulisan “ Kakak malaikat hujan… Dea mencintaimu… sama seperti Dea mencintai hujan…..” Selebihnya ??? Seperti yang anda duga. Airmata.

Lalu sekarang dimana wanita ketiga ? Kurasa ada baiknya bila semuanya berjalan perlahan – lahan. Lagipula dari Salsa si wanita kedua kita kita belum menarik kesimpulan. Kesimpulan ? Agar lebih afdol, biar Salsa sendiri yang mengungkapkan.

“Gadis kecil di tepi jendela kusam itu kini benar – benar telah pergi. Meski mengenalnya hanya dalam segaris senyuman, namun ia telah memberiku banyak kisah tentang kehidupan. Melalui kisah langit dari ‘eyangnya’…aku belajar, bahwa kita tak perlu mengingat seluruh kebaikan Tuhan untuk mensyukuri nikmat-Nya lebih dari apapun, tapi cukup dengan menengadahkan kepala kita ke langit…kita akan melihat salah satu karunianya yang terindah…# hikari sora~langit biru # akan kau lihat disana!! Melalui caranya menikmati hujan, aku belajar…bahwa menikmati luka dan mengubahnya menjadi tawa, hampir sama dengan mengubah dinginnya hujan menjadi sebuah kehangatan yang tak tergantikan!! Dan melalui secarik kertas lusuhnya, aku belajar… bahwa kehidupan telah memberi kita beribu alasan untuk menangis, namun ia juga memberi alasan untuk tetap tersenyum, meski dalam kegalauan…”

Sekian

Iklan
 
11 Komentar

Ditulis oleh pada September 7, 2011 in Aku Menulis, Fiksi

 

Tag: , , , ,

11 responses to “Wanita Dan Hujan (2)

  1. NATALIUZONE

    September 7, 2011 at 3:18 am

    Indah, keduanya sama-sama indah..
    Wanita itu indah, begitu pula hujan, aroma yang keluar sesaat setelah hujan reda, adalah hal yang begitu menarik, dan selalu kurindukan.

     
    • abieomar

      September 7, 2011 at 4:39 am

      Wahh,.. wah,..wah,,!

      Kayaknya ntar aku harus nulis juga tentang para pria pencinta hujan , bro !
      Dan kamu jadi pria pertama, wkwkwwkwkwkwk

       
      • nataliuzone

        September 7, 2011 at 8:10 am

        Hahahaha, jangan aah..
        but anda seorang blogger yg romantis lagi puitis..
        hehehe

         
    • abieomar

      September 7, 2011 at 12:18 pm

      romantis bin puitis

      wkwwkwkkkwkwkwwkwkwkwkwkwkwkwkwkkwkkwkw

       
  2. Nick Salsabiila

    September 7, 2011 at 3:29 am

    waaaa……cakeeeppp…
    aduh..aku kok jadi terharu gini yaa…kayaknya tulisan ini lebih bagus saat berada di sini ya…di tengah goresan pena seorang lelaki pengamat hujan, pengeja hujan, juga pengurai hujan….
    terima kasih yaa…telah kau luangkan waktu utk memahami…betapa hujan adalah sebuah sabda kecil dari Tuhan…yg membuatku mampu mencintainya sedalam aku belajar mengenalinya…^__^
    keep writing mas..tulisanmu indah…jauh lebih indah…dibanding kebingunganmu pada para wanita yg mencintai hujan…hahaha…^___^
    nice having u in my circle of friendship…..

     
    • abieomar

      September 7, 2011 at 4:47 am

      Thank’s Salsaaa…. Komen mu sangat berharga, heheheheheh

      Tapi jangan nangis disini yah,.. gak ada tissue……

      Oh, ya. saya menikmati kebingungan terhadapmu dan mereka. Hujan bagiku adalah masa kecil yang indah,…..
      Dan saya juga sangat bersyukur bisa kenal sama salsa,….
      And So, U have to start to write again, Ok !

       
  3. Alkhansa Humairo

    September 7, 2011 at 7:42 am

    kereeeeen… tulisan keren, indah dan penuh makna.. 😀
    pasti mbak nick salsabila kan malaikat hujannya.. 😀

     
    • abieomar

      September 7, 2011 at 12:02 pm

      Thank’s khansa,….

      Soal malaikat ujan, tanya langsung dah sama yang bersangkutan, heheheheh
      Trus periksa punya sayap apa gak ????

       
  4. Hana

    September 7, 2011 at 10:24 pm

    Bahasanya indah skali bang,seindah turunnya hujan….like this pokonya! ^^

    salam kenal dari saya,seorang wanita yg juga mencintai hujan…

     
    • abieomar

      September 8, 2011 at 5:19 am

      Salam kenal balik buat Hana….,

      Tetaplah mencintai hujan, karena sudah banyak yang terinspirasi sama hujan, heheheheh

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: