RSS

Jangan Protes Rambut saya

08 Sep

Loki sebenernya bukan lah tipe orang yang terlalu peduli dengan penampilan. Dia lebih suka tampil cuek dan apa adanya. Dia juga tak terlalu peduli akan penilaian orang terhadap dirinya. Kalaupun ada yang sedikit dia menaruh perhatian terhadap penampilannya. Itu adalah rambutnya. Memang sejak kuliah sampai lulus sekarang , ia tetap mempertahankan rambut gondrong nya.

Yah kira – kira seperti inilah

Tapi Soal rambut yang dia biarkan gondrong inilah, yang kadang jadi masalah dan sering menimbulkan protes dari keluarga dekatnya.

Bapaknya bilang,” gimana kamu bisa dapat kerja dengan penampilan seperti itu, dasar preman pasar. Udah kamu gabung aja sama Betty tuh kerja di salon.”

Errrggghhhh…!!! Kalo bukan babe udah aku ajak dia berantem rutuknya dalam hati. Masak aku disamain sama banci kaleng ?

Ibunya bilang,” ki, kata bapakmu itu ada benernya. Jaman kuliah mu kan udah selesai, cobalah ubah penampilanmu. Biar terlihat lebih rapi dan dewasa.”

Neneknya bilang,” Cu, tiap nenek liat kamu. Jadi ingat almarhum kakekmu dulu di jaman perang, keluar masuk hutan. Tapi kalo kakekmu abis perang jadi veteran, nah kamu lulus kuliah kok jadi orang utan ”

Mendengar kata-kata neneknya dia masih bisa menahan pasrah. Tapi cekikan panjang dari neneknya itu yang membuatnya hampir tidak tahan.

Beberapa teman cewek bilang,” wajah kamu itu tirus Ki, dengan rambut gondrong membuat wajahmu terlihat semakin lonjong. Dan kesannya kamu jadi kurus banget. Seperti pemadat yang penyakitan.”

Mereka selamat karena mereka semua cewek.

Temen cowoknya gak bilang apa – apa. Pokoknya no comment.

Tapi yang sedikit mengganggu perasaannya adalah Fitri, tetangga sebelah yang sudah cukup lama di dambakannya. Waktu tembakan untuk kali ketujuh, jawaban yang ia terima masih sama.

“ Aku gak mau ntar jalan sama kamu, dikira orang aku lagi jalan sama ibuku. Dan aku gak mau, rambutmu menduakan cintaku.” Tau kan maksudnya. Dia sungguh cinta pada Fitri, tapi ini bukan semata soal rambut, tapi prinsip. Harusnya kalo benar Fitri juga cinta juga  diriku, tentu dia bisa menerima aku apa adanya pikir Loki. Kerennya, She has to receive me just the way I am. Karena Loki anak sospol jadi harap maklum kalo inggrisnya belepotan.

Terakhir Mario Teguh bilang,” Adikku yang baik hatinya, kamu tidak bisa merubah orang lain karena itu diluar kuasamu. Tapi tentu kamu bisa merubah apa yang ada pada dirimu. Dan bila kamu merubah dirimu dulu. Maka niscaya orang pun merubah diri mereka terhadap dirimu.” Bagi orang mungkin itu kalimat yang superrr….. tapi bagi Loki “ Auk ah, gelap !”

Nah, agar semua pendapat diatas kesannya tidak seperti penganiayaan. Berilah Loki kesempatan untuk menjelaskan. Salah satunya tadi sudah, yaitu soal prinsip yang dia maksudkan pada Fitri gadis tercinta.Bagi Loki rambut gondrong adalah secuil bukti dari sisa – sisa idealisme yang ia punya saat masih kuliah. Orang sekarang semua sibuk berlindung pada penampilan untuk melakukan pencitraan. Sedang Loki No way !

Loki sangat setuju kalimat “Don’t judge a book from it covers” artinya kira – kira “ jangan menilai Mandra dari monyongnya atau jangan menilai Tukul dari bibirnya. Rambutku mungkin gondrong tapi hatiku kan selembut salju bukan es batu pikirnya.

Lalu dimata Loki orang gondrong itu terlihat penuh kharisma. Terlihat jantan dan terkesan sebagai free man, para pencinta kebebasan. Dan kadang juga terkesan seperti jagoan, tak percaya lihatlah para preman. Yang lebih penting banyak tokoh – tokoh pahlawan tempo dulu berambut gondrong. Coba lihat contohnya : Jaka sembung, Joko Tingkir, si Buta dari Goa hantu Badra Mandrawata, gannicus, Hercules,William Wallace sampai Ki Joko Bodo. Tak percaya ? Lihatlah gambar di bawah ini.

Masih kurang ??? Ni ada tambahan

Sudah bisa kan memahami alasan mengapa Loki tetap mempertahankan penampilan gondrongnya.

Sampai suatu hari prinsip yang dia banggakan itu goyah.

Prahara itu berawal dari acara syukuran yang diadakan keluarganya. Saat acara khitanan adik terkecilnya. Dalam acara itu ayahnya mengundang seorang Ustadz untuk mengisi Tauziyah bagi para undangan.

Dalam tauziyah ustadz itu, ada satu ucapan yang sangat mengganggu pikirannya. Yang sempat dia ingat dari ucapan itu adalah,” Haram hukumnya laki – laki yang berpenampilan menyerupai perempuan, dan sebaliknya perempuan yang berpenampilan menyerupai laki – laki”. Apalagi Loki sempat menangkap ekor mata si Ustadz mengerling kearahnya.

Dia sampai berfikir buruk, jangan – jangan si Ustadz ini membawa tauziyah pesanan dari ayahnya. Satu hal yang pasti dia harus mendapat klarifikasi dari si Ustadz. Nanti saat acara itu bubar. Karena bagi Loki hal ini sangat penting , karena menyangkut masalah prinsip dan harga diri. Dengan sedikit amarah dan rasa tidak puas Loki menunggu kesempatan bertemu Sang Ustadz.

“ Ustadz apakah gondrong itu haram.” Tembak Loki “to the point”. Saat dia mendapat kesempatan menemui si Ustadz. Si Ustadz tersenyum.

“ Saya tidak berani menyimpulkan,” kata si Ustadz.

“ Tapi maksud Ustadz tentang laki – laki yang menyerupai perempuan itu apa.” Sergah Loki.

“ Saya pikir itu tak perlu penjelasan. Dan memang seperti itulah yang tertulis dalam hadits.” Jawab Si Ustadz tenang.

“ Tapi saya pernah dengar Ustadz bahwa gondrong itu sunnah. Nabi Muhammad S.A.W kan gondrong ustadz. Seperti kata salah satu jemaah Islam di daerah sulawesi sana. Bahkan pirang lagi. Bagaimana itu ustadz ?” Yang dimaksud Loki adalah Jemaah An-Nadzir.

“ Mungkin ada benarnya klaim itu,” kata si ustadz, lanjutnya,” di awal Islam Nabi memang mungkin gondrong, dan begitu juga kebanyakan sahabat. Tapi setelah Islam berhasil dalam dakwah. Dan kewajiban melaksanakan haji di mulai kan gak mungkin gondrong lagi. Karena  ber–Ihram adalah salah satu rukun haji. Dan dalam Ihram mereka diharuskan memotong rambut. Jadi gak mungkin kan gondrong lagi.”

“ Tapi kan tak ada hadits yang mengatakan , bahwa gondrong haram.”

“ Memang tak ada jawab ustadz. Tapi menyerupai perempuan tetaplah tidak dibenarkan” Sambil tersenyum kecil.

‘ ya udah Ustadz. Gini aja . Apakah penampilan saya ini menyerupai perempuan.” Tanya Loki tandas.

Sang Ustadz tersenyum kembali, lalu menjawab :

“ Kamu kan udah dewasa, saya pikir kamu bisa menilai dan memutuskan sendiri apa yang benar menurut diri mu. Jadi semua saya serahkan sama kamu. Pikirkanlah sendiri.” Tutup si Ustadz

Beberapa hari belakangan kata – kata si ustadz benar – benar menjadi beban pikiran Si Loki. Rambut yang dia miliki telah menjadi semacam identitas bagi dirinya.

Karena tulisan ini sudah cukup panjang terpaksa lah harus di potong menjadi beberapa bagian. Bagaimanakah nasib Rambut si loki ? Apakah tetap panjang atau terbuang ? atau dia bisa mendapatkan solusi unik sehingga si rambut kesayangan bisa di pertahankan ? Kalo ingin tahu tunggu saja kisah selanjutnya….

sekian

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 8, 2011 in Aku Menulis, Fiksi

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: