RSS

Ayo Kritik KPK !

07 Okt

Apakah KPK tidak boleh di kritik ? Tentu saja boleh. KPK bukan malaikat. Andaipun KPK itu malaikat, juga tetap boleh di kritik. Karena di negara demokrasi, bahkan Tuhan pun ada yang meng-kritik.

Harus diakui kehadiran KPK adalah angin segar bagi kebanyakan rakyat Indonesia yang termiskinkan karena prilaku para pemimpin korup dan jajarannya. Jadi wajar bila ekspektasi terhadap keberadanya begitu besar. Seperti sel kanker, korupsi telah menggerogoti hampir seluruh bagian tubuh dari negeri ini. Hampir – hampir tak meninggalkan area bersih. Dan rakyat telah benar – benar muak. Dan saat ini, KPK menjadi satu – satunya alat untuk kemoterapi.

Tentang besarnya harapan rakyat terhadap KPK, dapat kita buat analogi seperti ini. Sosok KPK bagi rakyat adalah seperti sosok suami bagi seorang istri. Seorang istri yang menyandarkan segenap harapannya pada suami akan menganggap suaminya sosok sempurna setengah dewa. Tak ada cacat dan tanpa kesalahan.Bila suatu hari ada orang menyampaikan berita bahwa si suami selingkuh. Di banding mencari tahu apakah berita itu benar atau tidak, dia memilih bersikap reaktif. Sambil menggeleng – gelengkan kepala dia berkata ” tidak mungkin.. tidak mungkin” berulang – ulang. lalu menuduh si pembawa berita hanya ingin merusak nama baik suaminya dan menghancurkan rumah tanggannya.

Begitulah sosok KPK dimata rakyat. Begitu besarnya ekspektasi rakyat.Sehingga kita sering lupa mengkritisi kinerjanya. Apalagi banyaknya LSM – LSM dan tokoh – tokoh individu yang haus ekspos memanfaatkan momen tersebut. Di negeri ini bila anda memaki polisi, memaki jaksa dan memaki hakim, anda akan segera mendapat simpati rakyat. Karena ketiga lembaga tersebut adalah manifestasi atau perwujudan dari bobroknya penegakan hukum di negeri ini. Terlepas apakah mereka memang pantas dimaki atau tidak ? Dan inilah yang di manfaatkan para pemancing di air keruh tersebut. lalu sebagai pembanding Nama KPK lah yang dijual. karena rakyat cinta KPK walau kadang membabi buta. Sialnya KPK menikmati itu, merasa sukses, merasa cukup kerja dan lupa tugas utamanya.

Kalau mau jujur dan obyektif. Kita bisa lihat bahwa KPK saat ini dalam bekerja cenderung bermain di jalur aman. Mungkin karena efek trauma terhadap kasus Antasari. Padahal seperti kita tahu, koruptor itu bersarang dijalur berat. Makanya amunisi hebat yang dimiliki KPK cenderung salah sasaran. Mereka terkesan memilih minggir bila berhadapan dengan kekuasaan. Padahal letak korupsi sebenarnya ada pada pemegang kekuasaan, dalam hal ini eksekutif.

Kenyataannya amunisi KPK selalu di tumpahkan ke Legislatif. Padahal dalam beberapa hal , fungsi DPR itu sama dengan KPK dalam hal pengawasan. Jadi logikanya agak aneh bila KPK lebih memilih mengawasi pengawas dibanding mengawasi yang pegang uang. Sekali lagi, saya tidak bilang DPR itu bersih. Dan KPK juga punya wewenang untuk mengawasi DPR sebagai salah satu penyelenggara negara. Tapi fokus lah pada sasaran utama.

Sebagai contoh KPK bisa dengan mudah memanggil para pimpinan banggar DPR untuk dimintai keterangan. Karena perkataan seorang staf kemenkertrans yang tertangkap tangan. Padahal bos dari si staf saja belum dipanggil untuk keperluan yang sama. Untuk pembanding, KPK tak pernah berani memanggil orang – orang yang namanya disebut oleh Nazaruddin. Apa KPK pernah memanggil Anas Urbaningrum, Andi malarangeng, Angelina Sondakh bahkan Edi Baskoro pun disebut juga untuk dimintai keterangan ?

Padahal dari nilai kesahihan berdasar posisi pemberi keterangan, jelas lebih sahih keterangan Nazaruddin. Staf kemenkertrans sampai sekarang “tidak diakui” oleh mentrinya sendiri. Sedang Nazaruddin ? Dari struktur organisasi di partai penguasa, dia orang ketiga. Dan dia juga anggota dewan. jadi sebagai sumber dia berkategori A1.

Berangkat dari kasus ini, wajar bila keseriusan KPK dipertanyakan. Belum lagi bila kita bicara soal Century, IT KPU dan kasus lain yang melibatkan pemegang kekuasaan. Semua menguap tak tentu rimbanya. Dan harusnya masyarakat lebih obyektif terhadap kritik pada KPK. Jangan karena kebencian kita pada DPR, membuat kita reaktif. Dan memusuhi semua yang meng-kritik KPK. jadi bila ada dasar mengkritik KPK sah – sah saja. Walaupun untuk membubarkan, belum cukup relevan.

Sebagai tambahan. Ada satu kalimat menarik yang dikeluarkan juru bicara KPK menanggapi kritik Fahri soal audit keuangan KPK. Yang saya kutip dari sindonews.
“Coba tolong sampaikan ke pak fahri, kalau benci ya jangan berlaku tidak adil”. kalau Syahrini bilang, jawaban ini “sesuatu banget”. Jawaban juru bicara sebuah lembaga profesional kok melankolis begitu ya ? Dan arahnya jadi personal banget. Mungkin beliau tahu, bahwa indonesia adalah bangsa melankolis hingga kalimat seperti itu akan menarik simpati masyarakat. Apakah untuk pencitraan ?

Padahal akan lebih elegan, kalau tanya jawab itu berjalan seperti ini

Fahri : KPK harus di audit, karena menerima dana asing (padahal dana dari dalam negeri juga sudah banyak sekali).
KPK : Silahkan diaudit, KPK selalu terbuka dan siap kapanpun.
Fahri : KPK juga harus menjelaskan mengapa cara kerjanya yang terkesan tebang pilih.
KPK : KPK tidak tebang pilih tapi bekerja berdasarkan skala prioritas. Jadi agar cepat, KPK mendahulukan penyelesaian kasus yang ringan – ringan dulu. Bukankah kata agama ” mulailah dari yang mudah dahulu”.
Fahri : ( sambil mengangguk – angguk) Ohh,.. terus yang berat kapan ?
KPK : Ehmm,.. itu sih biar jadi PR pimpinan KPK berikutnya. Kita kan hanya tinggal beberapa bulan lagi,… gitu lohhh,…. !
Fahri : @$%??!&%$^#…………….

Dialog diatas hanya dialog imajiner. Jadi tak perlu dianggap serius.
Sekian .

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 7, 2011 in Aku Menulis, Berita

 

Tag: , , , ,

2 responses to “Ayo Kritik KPK !

  1. freedom

    Oktober 7, 2011 at 3:10 am

    wkwkwkwwk setuju kritik boleh agar orang2 yang ada di kpk ga salah jalan tapi yang lebih pantes dkritik dpr disitu lebih banyak sarang penyamun drpd kpk 😛

     
    • abieomar

      Oktober 9, 2011 at 3:22 pm

      Yap. Karena tanpa kritik orang akan mudah lupa. Kayak orde baru yg lenggang kangkung karena gak ada yg berani kritik, hehheheh

      Kalo DPR kan udah banyak yg kritik, jd biarin z.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: