RSS

Menjadi Silent reader

13 Okt

Bila saya ditanya, apa yang paling ingin kamu ketahui setelah mem – publish artikel ? Maka yang ada dipikiran saya adalah, Siapa sajakah yang telah membaca tulisan saya. Saya tak tahu bagaimana dengan sobat yang lain.

Hampir semua penulis pasti akan merasa gembira bila artikel yang ia tulis di baca orang. Karena memang itulah tujuan semua penulis. Maka tak heran berbagai trik dilakukan untuk menarik pembaca berkunjung. Mulai judul yang menjebak, provokatif sampai penggunaan huruf kapital yang mencolok. Bahkan bila bisa menggunakan judul huruf berwarna. Saya yakin akan ada pelangi di halaman depan blog kita .

Kebanyakan penulis punya perasaan sama. Semakin banyak yang membaca tulisannya, semakin senang lah hati. Bila ada yang berkomentar kesenangan itu semakin bertambah. Lalu saat ada yang mengapresiasi apa yang di sampaikan melalui pujian , walau mungkin sekedar basa – basi . maka kebahagian itupun mencapai puncaknya. Terakhir saat ada pembaca yang memberikan vote, like atau +1, maka di hati hanya ada satu kata, sempurna.

Bagi penulis pemula, jumlah pembaca, komentar dan vote menjadi semacam suplemen untuk terus semangat berkarya. Apalagi bila komentar itu datang dari blogger yang menjadi favorit kita. Atau penulis yang sudah punya nama besar di dunia blogger. ( Saya yakin setiap penulis masing – masing punya favorit.Termasuk bila yang ia favoritkan adalah dirinya sendiri).

Tapi untuk tulisan dengan tingkat keterbacaan yang tinggi. Tentu nyaris tak mungkin untuk mengetahui siapa saja yang telah membaca artikel yang kita tulis.Satu – satunya jalan untuk tahu si pembaca hanyalah dari komentar yang ia tinggalkan. Bila si pembaca tak berkomentar jadilah ia sosok yang disebut Silent reader.

Alasan orang menjadi silent reader tentu bermacam – macam. Bisa jadi karena ia tak punya akun dan blog, tidak tahu mau komentar apa, merasa tak cukup penting untuk berkomentar, artikel kita kurang menarik untuk dikomentari, sudah terlalu banyak komentar di artikel atau komentar yang ingin ia sampaikan telah ada yang mewakilinya. Dan berbagai alasan lain.

Pembaca yang memilih menjadi silent reader biasanya karena mereka menganggap cukuplah menjadi penikmat atau kadang – kadang jadi pengamat. alasannya lebih aman dan nyaman. Apalagi kadang tanpa sengaja kita terjebak untuk berkomentar salah. Atau dibuat salah oleh pemilik tulisan. Ingat ! Tulisan yang di publish bisa di edit ulang oleh pemiliknya menjadi berubah sama sekali, sedang komentar kita tidak. Bahkan saat komentar ter-submit , kita hanya bisa pasrah. Menghapusnya pun sudah tak bisa. Mungkin hal ini bisa diperhatikan oleh admin. Tidak seperti di Facebook.

Yang lebih parah, bila ada penulis yang sedikit gila lalu mengedit komentar kita. Karena saya pernah mengalami sendiri. Komentar yang saya submit di suatu artikel jadi berubah. Si penulis menghapus sebagian komentar. Hingga komentar yang ingin saya berikan berupa sindiran berubah jadi pujian. Tapi saya maklumi, karena belum sampai tahap merugikan. Biasanya yang seperti ini di blog – blog.

Jadi bila ingin aman, damai dan tentram , menjadi Silent Reader adalah pilihan. Meskipun banyak juga memilih menjadi Ember Reader.

sekian !

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 13, 2011 in Opini

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: