RSS

Si Pahit Lidah

12 Nov


Di sebuah pagi yang cerah.

“Luke, bantu aku menempel kertas ini dipapan pengumuman”. Seru seorang teman kepadanya.

” Kenapa papannya di taruh di luar ?” tanyanya, tanpa beranjak dari duduknya dan melepaskan pandangan dari buku yang dibacanya.

” Namanya juga pengumuman, ya ditaruh diluar lah “.

” Ntar , kalo hujan, kertas – kertas itu basah oleh tempias hujan”. Ujarnya.

” Bilang aja kalo gak mau bantu,” sahut sang teman dengan ketus,” dasar pemalas !”, rutuknya, sambil melakukan sendiri pekerjaan itu dengan wajah masam. Sementara dia tetap duduk ditempatnya seolah tak peduli.

Setengah jam setelah papan itu terpasang. Hujan turun dengan derasnya tempias air yang dibawa angin membuat kertas – kertas yang tertempel dipapan pengumuman itu hancur tak bersisa.

Disebuah pagi yang lain.

” Luke , dari pada kamu di kamar terus. Tuh ! Ambil parang dan bersihkan kebun dibelakang !” Pinta ibu kepadanya.

” Nanti siang aja mak “. jawabnya. saat itupun dia sedang membaca buku.

” Kamu kalo di suruh ndak pernah langsung mau “. Tukas sang ibu.

” Bukan gak mau, tapi nanti siang aja “.

” Paling nanti juga ndak kamu kerjakan. Kalo ndak mau nanti aku bayar orang aja “. Dia tak menjawab. Sang ibu berlalu dengan jengkelnya.

Satu jam kemudian si ibu tergopoh – gopoh kebingungan. Memanggil – manggilnya. Karena anak tetangga yang disuruh si ibu untuk menggantikan tugasnya diserang kawanan tawon. dia disuruh mengantar anak itu ke klinik.

Si pahit lidah. begitulah gambaran dirinya di mata orang. Karena tingkahnya dan kata – katanya kadang membuat orang tersenyum pahit atau merasa pahit. Dan terkadang juga menciptakan sesuatu yang pahit.

Oleh teman – temannya dia dijuluki “anak keramat”. Julukan yang baginya lebih tepat dianggap sebuah olok – olok. Tapi dia tak begitu perduli, Karena ia memang tak terlalu suka berteman. Atau lebih tepatnya kurang bisa berteman. Akhirnya Ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menyendiri. Karena dalam lingkungan “normal” dia adalah anak aneh.

Dia bermulut sangat pedas. Di sekolah guru pun tak ada yang menyukainya. lebih dari separuh guru mengeluarkannya dari kelas. Karena “kepolosannya” dalam berbicara sering mempermalukan gurunya. Atau tertidur karena kebosanan. Alasan para guru biasanya ” luke itu sudah terlalu pintar, jadi dia tak perlu guru lagi”. Saat Luke mendengar alasan itu, dia cuma tersenyum kecut. Mereka memang tak cukup pantas menjadi guruku katanya menghibur diri.

Begitupun dengan teman – temannya. Ia kurang bisa diterima. Adalah sudah biasa dalam pergaulan untuk saling berbual diantara sesama teman. Atau berbasa – basi omong kosong. Tapi oleh Luke semua omongan tipe seperti itu akan benar – benar menjadi basi. Hampir tak ada yang bisa berbual atau berbicara kosong di depan Luke. Karena keterus terangan Luke akan mempermalukannya. Luke bisa merasakan seseorang berkata benar atau sedang berbual. Dari tatapan mata , bahasa tubuh atau intonasi suara. Dan tentu saja analisa terhadap apa yang didengarnya. Pada dasarnya Luke tidak percaya pada apapun dan siapapun. Kecuali ia telah merasakan sendiri atau melihatnya sendiri. Atau minimal kepalanya menganggap masuk akal. Kalaupun ada yang berhasil membohonginya, biasanya ia segera mengetahuinya. Dan biasanya tak akan terulang di saat yang lain. Karena itulh teman – temannya menganggap “ sulit “ berteman dengan orang seperti luke. Luke pun berpikir sama. Akhirnya Luke tersisih dalam pertemanan normal.

Dalam keluarga kecil dan keluarga besarnya Luke adalah anak yang dianggap sulit diatur, keras kepala dan tidak mau mendengarkan. Lebih banyak bertanya daripada bekerja saat di suruh. selalu mempertanyakan hal – hal yang menjadi aturan umum dalam keluarga. Akhirnya dia cenderung di acuhkan dan tidak di dengarkan. Karena yang keluar dari mulut Luke kadang dianggap “ancaman” bagi kemapanan.

Lalu bagaimana anggapan Luke terhadap dirinya ? Aku adalah sedikit diantara orang – orang waras yang ada di dunia.

Soal Kertas dan papan pengumuman. Luke bukan tak mau membantu, tapi dia tahu itu akan percuma. Luke tahu hujan akan turun. Bukan karena dia keramat. Luke sangat suka memperhatikan gejala alam. Dengan hanya merasakan hembusan angin ,dia bisa memperkirakan kecepatannya. Dan tentu saja arahnya. Dia juga bisa membaca awan dari bentuknya. Mana awan kosong dan mana awan berisi. Di tempat tinggalnya cuaca hampir tak dapat di tebak. Karena siklusnya sudah rusak. Cuaca yang terik , bisa tiba – tiba hujan. Begitupan sebaliknya. Kuncinya adalah berita cuaca. Luke adalah seorang peng-konsumsi informasi yang rakus. Walau daerahnya tidak masuk dalam ramalan cuaca. Tapi ibukota daerahnya masuk. Dari situ ia bisa membaca dengan memperhitungkan jarak antara ibukota daerahnya dengan tempat tinggalnya ditambah kombinasi arah dan kecepatan angin, lalu bentuk awan. Dan dari sanalah ia bisa memprediksi, apakah hujan akan singgah atau tidak ditempatnya. Sangat sederhana.

Soal Serangan lebah, ia pun sudah menduganya. Kebun kelapa dibelakang rumahnya adalah tempat tinggal berbagai macam serangga. Lebah madu dan tawon tanah atau kadang disebut lebah pembunuh adalah beberapa diantaranya. Hewan – hewan ini sangat aktif di pagi hari. sedang siang hari saat sinar terik matahari mereka mengurangi aktifitasnya. Bagi Luke terlalu beresiko bekerja di pagi hari. Apalagi membersihkan lahan sangat rentan mengusik hewan – hewan itu. Lebah madu bukanlah hewan yang agresif, dan tidak mudah menyerang. Hewan ini akan mati setelah menyuntikkan sengatnya, karena harus merobek bagian tubuhnya saat melepaskan jarum sengat itu. hingga lebah madu hanya akan menyerang dalam keadaan yang luar biasa. Tapi Tawon tanah atau lebah pembunuh sangat berbeda, hewan ini sangat agresif dan mudah sekali menyerang. Dengan hanya kita berada di dekat sarangnya.Dan seekor lebah pembunuh bisa menyengat dalam jumlah yang seperti tak terbatas, ia sanggup menyengat berkali- kali dan tetap hidup. Dan sakit yang diakibatkan puluhan kali lebih parah daripada sengatan lebah madu. Sesuai ukurannya yang beberapa kali lebih besar.

Pada awal – awalnya dulu, dia berusaha menjelaskan alasan penolakannya. Tapi dia hanya dianggap mencari alasan untuk menutupi kemalasannya. Tak jarang dia mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan. Tapi dia memilih untuk diam. Walau tetap kukuh pada apa yang ia pilih. Selebihnya Luke tidak peduli. Rasa sepi, kadang diacuhkan, angkuh, keras kepala, tidak mau mendengar, pemalas dan banyak cap lain yang ia dapatkan dengan terpaksa ia terima saja.

Sampai suatu hari ia bertemu dengan “seseorang dari jauh”. Dan akan merubah hidup Luke untuk selamanya.

Seperti apa ?

Sekian .

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 12, 2011 in Aku Menulis, Fiksi

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: