RSS

Keras Kepala

01 Des

“Manusia itu sulit belajar, sampai sesuatu yang buruk menimpa dirinya”.

Kebanyakan kita adalah mahluk yang keras kepala. Walau menunjukkannya kadang dengan cara yang berbeda – beda. Ada yang menunjukkan sikap itu secara frontal, ada yang secara halus ada juga dengan cara yang masa bodoh. Seperti saat seorang guru meminta murid – muridnya untuk kerja bakti membersihkan halaman sekolah. Lalu para murid tak setuju. Maka reaksi penolakan akan berbeda – beda.

Ada yang secara frontal akan berkata,” Bu guru, mengapa kami harus mengerjakan hal itu. Kami tidak gratis bersekolah disini. Lagipula apa gunanya petugas kebersihan sekolah ?” Ada juga yang menurut tapi berpura – pura, hanya acting saja. Ada juga yang seolah tak mendengar suruhan itu, lalu bersikap masa bodoh

Atau ketika kita memperingatkan seseorang untuk berhenti merokok. Maka reaksi penolakan juga akan kurang lebih seperti itu. Ada yang akan berkata “ mulut – mulut saya , duit – duit saya, paru – paru juga punya saya , kok situ yang repot ?” Lalu ada yang akan mematikan rokoknya, tapi saat yang memperingatkan tak ada, ia akan membakar rokoknya lagi. Ada juga yang tak perduli dan terus menghembuskan asap ke udara.

Padahal kita tak sekedar memperingatkan. Kita pun telah menjelaskan alasan – alasan mengapa rokok itu berbahaya. Juga akibat – akibat buruk yang timbul karena rokok. Tapi seperti kutipan diatas “ mereka tidak akan belajar, sampai sesuatu yang buruk menimpa mereka. Yah , saat kanker paru – paru menggerogoti tubuh mereka. Saat sang istri nelangsa, karena suami tak lagi perkasa. Saat jantung mereka berdetak tidak sempurna. Barulah mereka belajar , bahwa apa yang mereka lakukan ternyata salah. Apalagi bila kemudian akibat buruk itu turut ditanggung orang – orang yang mereka sayangi. Misalnya buah hati mereka terserang asma atau yang lebih buruk. Atau sang istri harus mengambil tanggung jawab ekonomi, karena sang kepala keluarga kehilangan produktivitasnya.

Konon sifat keras kepala manusia dalam segala hal itu telah ada, bahkan sebelum manusia itu dilahirkan. Walau mungkin hanya sebuah amsal. Untuk menjelaskan, mengapa Manusia itu sulit menanam kebajikan. Bila ia tak melihat keuntungan riil dari apa yang ia lakukan. Mereka secara umum malas beribadah, tak begitu suka bersedekah, enggan menolong atau melakukan perbuatan baik lainnya. Karena manusia tak melihat dampak langsung dari perbuatan baik tersebut terhadap dirinya.

Semua itu telah bermula sejak didalam kandungan. Saat masih dalam kandungan. Apa yang penting bagi sebuah janin adalah tali pusar ibunya. Itulah pusat kehidupannya. Dia seakan – akan tak butuh apapun didalam sana. Saat diciptakan organ tubuh seperti tangan , kaki, mulut, mata dan yang lain. Seandainya bisa ia akan menolak. Karena didalam plasenta itu sama sekali tak ada gunanya. Hanya akan mempersempit ruang geraknya.

Ketika disampaikan bahwa itu semua akan berguna suatu saat nanti, di tempat yang akan ia lewati dengan waktu yang lebih lama dari yang ia jalani sekarang. Ia bergeming dan berfikir sebaliknya. Si janin tak butuh tangan yang hanya selalu terlipat, kaki yang hanya selalu tertekuk, dan mata diruang gelap yang selalu tertutup begitu juga mulut, hidung atau telinga . Semua tak berguna bagi dia. Dan Kalau ditanya keinginannya. Maka yang dia akan minta adalah diperbesar tali pusarnya. Karena bagi dia hanya itulah yang berguna. Lalu apa yang terjadi saat si bayi lahir kedunia. Maka tali pusar itulah yang pertama dipotong. Apa yang menurutnya tak berguna, sekarang justru menjadi penopang hidupnya. Tapi karena sebagai janin yang tak sempurna otaknya, Tuhan tak memberi padanya keleluasan untuk melakukan apa yang diinginkannya. Karena kalau diberi keleluasaan. Si janin tak akan terlahir sebagai bayi, tapi terlahir sebagai sebuah bola daging.

Tapi saat si bayi menjadi manusia. Keadaan yang sama terulang lagi. Bedanya dia bukan lagi sebuah janin. Kini ia adalah manusia yang telah sempurna otaknya. Hingga campur tangan Sang pencipta terhadap seluruh tindakan dan keinginannya tak lagi sama seperti saat ia masih berbentuk janin.

“Tuhan hanya menunjukkan mana yang baik dan mana yang buruk. Selebihnya manusia yang memilih dengan segala tanggung jawab dan semua konsekwensinya”.

Saat manusia diperingatkan untuk banyak – banyak berbuat baik, banyak – banyak beribadah dan tinggalkan lah perbuatan buruk. Karena amal perbuatan baiklah yang akan menjadi penopang hidup mu kelak di alam yang akan kamu lewati lebih lama dari alam sekarang. Ia pun bergeming dan berfikir sebaliknya. Bagi dia apa yang ia butuhkan adalah harta yang banyak, gelar pendidikan yang tinggi dan jabatan yang hebat. Sehingga apapun dilakukan untuk meraihnya. Karena bagi manusia itulah penopang hidup sesungguhnya.

Lalu apa yang terjadi saat ia harus meninggalkan dunia nya yang sekarang ini ? seperti si bayi dan tali pusar yang terpotong. Maka apa yang ia perjuangkan mati – matian, (harta, jabatan dll)itulah yang pertama ia tinggalkan. Sayang saat itu ia bukan janin lagi yang tak sempurna otaknya.

Dan yang lebih naas, masa belajar sudah lewat. Dan saat itu adalah waktunya menerima kenyataan.

Diolah dari berbagai sumber.

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 1, 2011 in Aku Menulis, Opini

 

2 responses to “Keras Kepala

  1. mridwanpurnomo

    Desember 1, 2011 at 1:11 pm

    moga hlang sifat itu dari kita…..

     
    • abieomar

      Desember 2, 2011 at 5:30 am

      Amin !
      Makasih Mas Ridwan dah bersedia mampir dan komentar .

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: