RSS

Margin OF Horror

22 Des

“Apa,…. ke dukun?” Tanyaku setengah ingin tertawa.

“Bukan , tapi paranormal.” Jawabnya.

“Emang apa bedanya?”

“Ya, bedalah. Loe mau gak.?” kali ini nadanya tinggi.

Aku tak bisa menahan tawa. Bagaimana tidak, Irwan kawanku sekantor, yang selalu tampil “hebat” memintaku menemaninya ke paranormal. Benar kata orang, penampilan kerap menipu. Dan temanku ini buktinya. Tapi, sepertinya menarik juga. Aku kadang penasaran dengan aktivitas klenik. Walaupun menganggapnya omong kosong. Lagipula sekedar menemani. Kurasa tak ada salahnya. Apalagi siang ini tidak banyak yang dikerjakan dikantor.

Tempatnya, jauh dari yang aku bayangkan. Sebuah rumah berlantai dua, cukup mewah. Dan peranormal yang kami temui juga masih cukup muda. Taksiranku umurnya kepala empat. Sangat ramah. Bahkan Irwan terlihat sangat akrab dengannya. Sepertinya langganan.

“Ki, gimana nih. sepertinya khasiatnya dah kurang.” Irwan menyampaikan keluhannya, setelah beberapa saat berbasa-basi.

“Kamu ada melanggar pantangan ya ?”

“Gak ada, ki!”

Paranormal itu manggut-manggut.

“Terakhir kali kamu kesini kapan?”

“Udah hampir tujuh bulan, ki.”

“Owh,.. pantes.Harus di-update tuh. Emang yang kamu pake jangka waktu khasiatnya Cuma segitu.”

Diupdate? Aku sungguh penasaran.

Aku mencolek pinggang temanku,” emang yang di-update apa Wan?” Tanyaku pelan. Tapi tak cukup pelan untuk mereka berdua. Mereka menoleh kearahku. Paranormal itu hanya tersenyum kecil.

“Susuk!”Jawab Irwan cepat dan tandas. Seakan ingin berkata,loe gak usah banyak tanya.

What the..****…???? Gilaaaaa,…Bukan Cuma status FB, tapi susuk pun pake diupdate.

“Ya udah, ki.Kalo gitu.”Jawab temanku.

“Mas Irwan.Gak tertarik untuk upgrade gak?”

Perutku terasa ingin pecah menahan tawa. Update dan upgrade pun merambah dunia klenik. Dari pembicaraan mereka,aku menangkap Upgrade yang dimaksud adalah mengganti bahan susuk. Bahannya bermacam-macam dengann harga dan khasiat yang juga bermacam-macam. Tapi sepertinya temanku memilih sekedar update. Mungkin uangnya kurang atau alasan lain, aku tak tahu. Mereka kemudian masuk keruangan lain yang dibatasi tirai. Hanya beberapa menit mereka telah kembali. Senyum puas terlihat diwajah kawanku.

Ternyata kawanku ini sudah cukup lama menggunakan susuk. Tapi aku sama sekali tak menyadari. Waktu aku tanyakan.Dia bilang, susuk gue Cuma berefek pada wanita kaleee,.. Kalo loe mau ngerasain efeknya. Loe operasi kelamin dulu sono.

“Mas ini temannya,mas Irwan ?” Tanya paranormal itu padaku.

“Iya,ki!”

“gak tertarik, kayak Mas Irwan?”

“Oh,..Gak Ki, saya sudah berkeluarga.”

“Hmmm,…siapa tau …??

“Tidak Ki.Saya cukup bahagia kok.”Potongku.

Paranormal itu manggut-manggut.

“Selain susuk,emang service-nya apalagi Ki ?”Iseng aku bertanya. Dan lucunya,tanpa sadar aku menggunakan kata “service”. Siapa tahu istilah itupun sudah dipakai disini.

Wajah Ki Sableng pamungkas, nama paranormal itu berbinar-binar. Dan mulailah obrolan kami mengalir. Dia melayani servive jenis apapun dari pelet sampai santet. Dia sanggup membuat orang saling mencintai, juga saling membenci. Dan sepeti susuk,service-nya juga pake paket-paket tertentu. Yang biasa,kilat sampai kilat khusus. Udah kayak kantor pos aja pikirku.

Soal santet pun demikian. Harga tergantung banyak hal. Mulai siapa sasarannya. Semakin tinggi status korban,semakin mahal pula harganya. Saat kutanya mengapa? Setan pun suka duit katanya bercanda. Walau kemudian dia menjelaskan bahwa orang-orang seperti itu ”sulit”. Karena biasanya punya pelindung. Dan yang membuat mahal adalah sesajen dan “media” yang dgunakanpun harus khusus. Tak sampai disitu, kita pun boleh memilih cara mati si korban. Apakah langsung koit,pakai sakit dulu. Cara halus ataukah kasar. Kasar yang dimaksud adalah dengan dengan memasukkan benda-benda keras ke tubuh korban.

Bullshit ! Pikirku.

“ Lalu, gimana kalo gagal KI apakah uang kembali?”

Dia tertawa.

“Kamu pikir disini toko elektronik. Kalo ingin uang kembali. Mintalah pada setan?”

Sial pikirku.

“Memang kemungkinan gagal ada. Tapi sangat jarang. Margin of horror nya Cuma satu persen”

Whattt???

“Margin of error kali KI”

“Saya paranormal, bukan lembaga survey. Dan memang kegagalan akan menimbulkan sesuatu yang horror.”

Whatever-lah pikirku.

Karena rasa penasaran dan ingin membuktikan. Aku tertarik untuk mencoba keampuhan ilmu si dukun. Tentu saja aku bukan suruh nyantet. Yang ringan bin aman dari segi harga dan resiko. Kebetulan belakangan ini, tepatnya semenjak anak kami lahir enam bulan yang lalu. Aku merasakan ada yang beda dengan istriku. Kejenuhan atau sesuatu semacam itu menghinggapi dirinya. Yah, hubungan kami belakangan terasa hambar. Mungkin pengaruh anak.Perhatiannya kini terfokus pada anak kami. Hingga sibapak kurang mendapat perhatian. heheheheeh….

Lebih-lebih dua bulan belakangan. Wajahnya selalu terlihat seperti orang lelah. Kurang bersemangat. Beberapa kali aku ajak berkomunikasi. Tapi dia tak banyak berbicara. Tapi aku yakin,mungkin ini pengaruh sibayi. Yang butuh perhatian lebih. Hingga Ratna istriku jadi seperti itu.

“Baik, Ki. Aku ingin agar rasa cinta yang ada pada istriku tumbuh kembali.”

“Kepada Mas?”

“Terserah Ki, kepada siapa aja.”Jawabku dongkol, “Emang pada siapa lagi. Saya kan suaminya, cintanya pasti pada saya lah.”

Dasar ni aki-aki. Rutukku dalam hati. Dan kamipun tertawa.

“Diterima.”Ia diam sejenak,” Mau paket apa.Kilat atau biasa?”

“Bedanya apa Ki?”

“Kalo kilat, efeknya terjadi sekarang juga. Kalo biasa butuh dua atau tiga hari lagi.

“Ya, udah.Yang kilat, Ki!”

“Deal !..  Ingat “anak-anak” saya bukan komputer yang bisa di-undo. Saat perintah dijalankan, permintaan tak bisa ditarik.”

Ia lalu menyalami tangan saya. Menuliskan nama istriku disecarik kertas berwarna kelabu. Membakarnya lalu melemparkan keudara. Seperti trik sulap, api dan kertas itu lenyap begitu saja. Ia mengangguk kearahku. Seakan ingin mengatakan sudah selesai. That easy ?????

Aku dan Irwan pun berpamitan pada Ki Sableng itu. Dengan masih menyimpan sejuta tawa diperutku. Kami kembali ke kantor. Irwan memohan agar soal susuk itu menjadi rahasia kami saja. Aku mengiyakan, lagipula bagiku itu bullshit.

Sorenya aku pulang dengan perasaan tak sabar untuk membuktikan keampuhan si dukun. Sepanjang jalan diatas motor aku tak berhenti tersenyum.Bagaimana tidak, mungkin inilah untuk pertamakali dalam hidupku. Aku membayar setengah juta rupiah untuk sebuah omong kosong.

Aku tiba dirumah saat hari mulai gelap. Semua biasa saja, kecuali lampu diteras depan yang belum dinyalakan. Dan pintu terkunci. Aku mengetuk pintu dan memanggil nama istriku. Hmmm,..sepertinya tak ada orang.

Untung aku selalu membawa kunci serep. Pintu terbuka. Lampu dalam rumahpun belum dinyalakan. Tak ada orang. Hanya dapur yang terang. Karena lampu dapur memang tak pernah dimatikan. Aku beranjak kekamar. Juga tak ada Ratna dan anakku. Pasti dia ke rumah Wa Bayah pikirku. Memang dia sering mengeluh takut sendirian dirumah. Biasanya bila bukan Wa Bayah yang datang kerumah kami menemaninya, maka istriku yang datang kerumahnya. Dia tanggal hanya beberapa puluh meter dari rumah kami.

Aku mengganti baju. Lalu berencana menjemputnya kesana. Seperti biasa. Tapi niatku tertahan, saat mataku tertumbuk pada secarik kertas diatas meja rias istriku. Tertindih oleh bedak bayi.

Dan itu tulisan istriku. Rapi sekali.

Bang. Ratna minta maaf. Saat abang pulang, Ratna tak ada dirumah. Abang tak perlu cari, karena saat surat ini sampai ditangan abang. Ratna sudah pergi jauh.

Ratna bingung bang harus bilang apa, tapi sesungguhnya sejak aku menjadi istri abang, aku tak pernah mencintai abang. Aku sudah mencoba. Tapi tak bisa. Karena aku mencintai orang lain.

Dia pergi entah kemana. Dalam kesedihan akan kepergiannya itulah, abang datang. Aku menerima lamaran abang, karena berharap dapat melupakannyanya. Memang beberapa waktu, itu berhasil.Tapi beberapa waktu yang lalu dia datang lagi. Aku bingung bang. Karena aku tak bisa mengacuhkan, bahwa hatiku masih miliknya. Aku sedih pada abang dan diriku sendiri. Karena abang pasti akan terpukul bila tahu, bahwa tinggal bersama dengan orang yang tak mencintai abang.

Sejak pertama kami bertemu kembal dua bulan lalu. Aku telah mencoba menata hati .Berat sekali rasanya meninggalkan abang dan anak kita. Tapi entahlah, hari ini aku tak merasa sanggup lagi. Aku merasa terbakar bang. Aku juga tak ingin tinggal serumah dan terus-terusan membohongi perasaanku pada abang.

Tentu abang masih ingat, saat dulu kutanya alasan abang mau menikahi aku. Waktu itu abang bilang. Aku mau kamu menjadi wanita yang kelak melahirkan anak-anakku kelak .Dan aku telah melahirkan Irma buat abang. Berarti aku telah melakukan apa yang abang inginkan. Aku tahu abang laki-laki yang kuat. Karenanya relakan aku bang. Kami saling mencintai, tentu abang mengerti itu.

Irma ada dirumah Wa Bayah. Aku bilang, bahwa bapaknya akan datang nanti mengambilnya. Aku titip Irma pada abang. Sekali lagi jangan cari aku bang. Dan kalau bisa lupakan aku bang.

Aku terhenyak.Benar-benar terhenyak. Rasanya seperti tersiram air es seempang.

Dukun itu, ceracauku…….. Apakah aku salah meminta, atau inilah yang disebut margin of horror ?

*Pesan : Untuk setiap masalah yang anda hadapi, dukun bukanlah solusi.

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 22, 2011 in Aku Menulis, Fiksi, Humor

 

Tag: , ,

One response to “Margin OF Horror

  1. Ida Ratna Isaura

    Januari 20, 2012 at 7:40 am

    Haii Ratna. . . . . 🙂

    ke dukun yuk?

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: