RSS

Road To Celebes : Sambabo Waterfalls

27 Mar

Day two (15 Maret 2012)

Kota Mamuju di guyur hujan saat kapal Ferry yang membawa kami tiba disana pukul  4 sore. Molor hampir 8 jam dari waktu normal. Karena kondisi laut yang sangat buruk. Tapi tak apalah , seperti kata salah seorang teman saya “ yang penting sampai dengan selamat dulu “. Soal lain bisa diatur kembali.

Sebelumnya saya sudah pernah menginjak kota ini. Tapi tak ada memori yang tersisa karena saat itu sudah lewat terlalu lama. Lagipula sama seperti saat ini , dulu pun di Mamuju ini saya hanya singgah sebentar seperti transit saja untuk tujuan selanjutnya. Karena menginap di Mamuju tidak ada dalam rencana kami, maka sore itu kami bermaksud melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Majenne.

Keluar dari pelabuhan . Seperti biasa kami harus melapor di pos polisi terdekat sembari menunjukkan surat jalan kami pada polisi disini. Surat jalan di stempel dan seperti yang kami sudah duga “pungli lagi”. Jam menunjukkan pukul ± 05.00 ketika kami menunggalkan kota Mamuju. Jarak menuju Majenne hampir 100 KM. Tapi kami akan singgah dulu di sebuah kecamatan bernama Malunda yang masuk wilayah Majenne. Dan jaraknya hanya ±60 KM dari Mamuju. Disanalah tempat menginap pertama yang kami rencanakan.

Jalan yang saya lewati luar biasa. Ada anekdot yang mengatakan “Mamuju adalah singkatan dari Maju mundur jurang”. Dan anekdot itu cukup mewakili kondisi jalan yang saya lewati. Medan jalannya lumayan terjal dan berkelok – kelok juga sempit. Apalagi kondisi cuaca yang tak terlalu bagus. Sepanjang jalan kami di guyur hujan gerimis. Untunglah kami membawa jas hujan sehingga sedikit meolong keadaan. Tapi satu hal yang juga cukup membantu adalah aspalnya lumayan bagus. Walau ada beberapa yang rusak, tapi secara umum cukup baik.

Tapi karena itu adalah jalan poros provinsi penghubung antar provinsi maka kami cukup banyak menemui truk besar lalu lalang dan tentu saja mobil – mobil lain. Karena jalan tidak begitu lebar saya harus ekstra hati – hati. Padahal saat itu gelap sudah mulai turun dan hujan belum ada tanda akan berhenti. Dan kami berpacu dengan waktu karena kemalaman di jalan bukanlah salah satu opsi. Saya memacu kendaraan dalam keadaan lapar dan kedinginan. Walau begitu saya tetap menikmati perjalanan , karena jalur yang saya lewati cukup menantang dan kondisi alam yang sangat berbeda dengan tempat asal saya. Hutan dan bukit yang saya lewati cukup membuat mata terhibur. Secara umum ini perjalanan yang cukup menarik.

Saya beserta teman – teman sampai di Malunda ketika hari sudah cukup gelap. Jam setengah 7 malam. Dan yang kami pikirkan saat itu adalah tempat menginap. Di malunda tempat yang kami datangi adalah sebuah desa bernama Sambabo. Sebuah desa yang melekat cukup kuat di benakku. Karena disitulah satu – satunya tempat di Sulawesi yang pernah masuk dalam daftar perjalanan hidup saya. Saya pernah tinggal disini walau tidak terlalu lama ± 6 bulan. Disini saya punya cukup banyak teman tapi masalahnya saya meninggalkan tempat ini sudah sangat lama ± 10 tahunan. Dan saya sedikit berjudi , apakah orang – orang yang saya kenal disana masih mengenal saya ? Terus terang saya tak punya satu pun keluarga disini. Jadi sejak saya meninggalkan tempat ini dulu, sampai sekarang komunikasi hampir – hampir terputus. Tapi satu hal yang membuat saya optimis adalah dulu waktu saya tinggal disini , orang – orang disini semuanya sudah seperti keluarga semua.

BismiLLah,.. sembari mengingat – mengingat yang pertama saya lakukan adalah mencari tempat bertanya. Dan berhasil saya hanya perlu bertanya sekali. Karena nama yang saya tanyakan ternyata ada. Akhirnya aku mendatangi rumah yang di tunjuk. Rumah milik seorang yang dulu bisa dibilang telah menjadi kakak angkatku. Namanya Abdullah, saya biasa memanggilnya Kak Ullah. Pertama bertemu dia agak terperangah setengah kurang percaya. Kalimat pertama yang meluncur dari mulutku setelah mengucap salam adalah “ kakak masih ingat saya gak ?” Dia menjawab “ kenapa tidak , kamu Pidi kan !” . Aku sangat terharu dan tanpa tersadar kami berpelukan.

Malam itu kami beristirahat di rumah Kak Ullah. Dan kami bercerita cukup banyak tentang keadaan tempat ini serta perubahan – perubahan yang terjadi. Sekaligus saya gunakan untuk mencari informasi sebanyak mungkin soal kabar teman – teman yang masih saya ingat namanya. Oh ,. Ya … rumahnya Kak Ullah ini tepat dipinggir jalan poros. Tempatnya bernama Salu Tambung. Dulunya adalah salah satu dusun dari desa Sambabo , tapi sekarang statusnya telah menjadi desa. Dan terpisah dari Desa Sambabo. Pusat Desa Sambabo sendiri berjarak ± 5 KM dari situ. Terletak didataran yang cukup tinggi.

Karena waktu yang sempit sementara besok saya harus sudah harus berangkat. Malam itu saya gunakan untuk berkunjung ke rumah teman – teman terdekat. Karena ternyata cukup banyak juga teman yang tinggal tidak jauh dari rumah Kak Ullah. Dan sebuah kebetulan yang tak dinyana , tak jauh didepan rumah kak Ullah diseberang jalan tinggal salah satu teman terakrab saya dulu. Namanya Ratna , sekarang dia juga tinggal di Salu Tambung. Dulunya waktu saya disini . kami semua masih tinggal diatas di Sambabo.

Karena dia membuka toko , maka saya pura – pura membeli sesuatu. Sekaligus ingin memastikan seperti apa dia sekarang. Tidak banyak yang berubah darinya selain bahwa dia sekarang memakai jilbab. Saat pertama bertemu seperti dia sudah lupa. Walau dari tatapannya saya bisa melihat ada rasa penasaran. “ Kamu Ratna kan ?”. Dia kelihatan tertegun. “ wah ,.. saya sudah dilupa ternyata . saya Pidi .” Dan dia pun setengah histeris sembari memukul pundak saya. Kami pun bercerita , dia bilang waktu lihat pertama. Dia sudah agak bingung, karena merasa mengenal tapi dia tidak yakin.

Dan kalimat standar pertama yang dia tanyakan adalah “kamu sudah kawin belum ?”. “ Belum “ jawabku. Di tertawa “ cepat – cepatlah kamu kawin , sebentar lagi kamu kadaluwarsa itu. Aku ni dah dua kali kawin”. Wah,.. dia tak berubah sama sekali. Tetap ceplas – ceplos seperti dulu. Dan juga perhatian seperti yang dulu – dulu.Dia menanyakan aku menginap dimana trus sudah makan apa belum. Dia menyuruh saya memanggil teman – teman (yang saat itu tertinggal dirumah Kak Ullah) yang lain untuk kerumahnya. Karena sepertinya dia melihat tampang kelaparan diwajahku. Tapi karena saya memang sudah makan di warung saat pertama datang di Salu Tambung ini. Maka saya menolak.

Lagipula yang terpenting bagiku malam itu adalah dapat tempat menginap. Kami cukup kelelahan.

Kami bangun pagi dengan perasaan segar. Kopi dan beberapa panganan telah menanti kami. Kopi disini adalah minuman standar . Terutama di Sambabo yang akan saya datangi sebentar lagi. Mungkin karena disana suhunya cukup dingin maka kopi jadi penghangat yang pas. Dan kopinya nikmat, tak kalah dengan kopi Toraja yang terkenal itu. Dulu waktu saya tinggal disini, teh menjadi minuman langka. Bukan karena tidak ada tapi karena tidak ladzim. Kopi disini hasil tanaman sendiri.

Setelah sarapan kami bergegas ke tempat tujuan utama yaitu Desa Sambabo. Kami berencana mandi disana. Karena disana ada air terjun yang bisa jadi salah satu yang terindah di Sulawesi. Sayang tak terjamah hingga tak terpublikasi. Hanya ± 20 menit waktu tempuh dari Salu Tambung dan jalan poros Mamuju – Majenne. Dan disanalah tempat saya banyak menghabiskan waktu , saat dulu tinggal disini.

At sambabo

Kehebohan sedikit terjadi setibanya kami disana. Tempat ini agak jarang didatangi orang asing. Apalagi sepagi ini. Belum lagi penampilan kami yang agak berbeda. Kami langsung menuju sungai dan acara mandi pagi orang – orang pun buyar. Mereka semua agak sedikit bingung dan heran dengan kehadiran kami disana. Yang begitu tiba jepret sana – jepret sini dengan kamera. Al hasil sebagian besar mengurungkan niat mandi dan yang lain – lain. Atau mempercepatnya. Disini sungai masih dijadikan sarana MCK oleh sebagian besar warganya, karena jaraknya memang tak jauh dari pemukiman.

Sungainya berbatu dan sungguh indah. Disini ada air terjun beringkat tiga dan tingkat terbawah memiliki ketinggian yang cukup luar biasa. Saya tak tahu pastinya tapi perkiraan saya bisa mencapai 25 – 30 meter. Sebuah ukuran yang luar biasa. Bisa tiga kali lipat ketinggian air terjun di Batimurung. Walau dari segi debit air Batimurung jauh lebih hebat. Tapi soal bentuk disini jauh lebih artistik. Bila di Batimurung bentuk aliran air terjunnya sedikit diagonal, disini betul – betul vertikal. Dan sangat bisa di bilang “waterfall atau air jatuh”.Sayang kami hanya bisa mengeksplorasi dua tingkatan. Karena posisi kami diatas air terjun . untuk melihat tingkatan terbawah dan tertinggi kami harus turun kebawah lembah. Dan itu harus menempuh jalan berputar yang cukup jauh. Kami terlalu malas untuk melakukannya. Apalagi yang ada ini juga sudah cukup indah. Tapi menjadi kurang afdol karena tingkat tertinggi itu tidak terabadikan oleh kamera kami.

Slow Speed mode

Slow Speed mode

Yang agak patut disayangkan adalah bahwa tempat seindah ini tidak terpublikasi sehingga menjadi surga yang teraniaya. Karena keindahan yang terbentuk oleh susunan batu – batu menjadi rangkaian indah hanya jadi tempat membuang hajat. Alias menjadi WC alam raksasa bagi warga sekitar. Dulu waktu tinggal disini , saya sudah pernah menyusuri sungai ini . Termasuk pernah melihat tingkat terbawah sekaligus tetinggi dari air terjun ini. Saat menyusuri sungai ini dulu, juga rasa takjub tak henti – henti terpancar dari hati saya. Keindahan susunan bebatuan di setiap tempat dengan formasi yang bermacam – macam. Dan Sebagian besar sungai berada di jepitan tebing yang curam di kedua sisinya.

Andai saja ada tempat seperti ini di kalimantan. Saya yakin ia akan menjadi keajaiban. Dan menjadi tempat wisata terbaik. Kalau saja bisa. Dan saat pulang kami masih disuguhi hamparan laut dari ketinggian. Karena memang Sambabo berada di dataran tinggi ( saat kesini kami mendaki sepanjang jalan). Tapi tak jauh dari laut. Hingga keluar dari desa itu laut akan langsung terpampang di depan. Dan menatap dari ketinggian , sungguh sangat indah. Walau agak sulit mencari anggel kamera yang tepat karena terhalang pepohonan.

Nice View

Nice View

Well. Disana saya bertemu teman – teman yang sebagian besar masih mengingat saya. Walau ada juga yang dalam kondisi ingat – ingat lupa. Dirumah salah seorang teman disana saya menghabiskan waktu cukup lama disana. Ngobrol menggali kenangan lama. Oh,.. ya . Disini saya dipanggil Pidi. Mereka bahkan tak banyak yang tahu nama asli saya. Nama Pidi adalah nama yang mereka berikan pada saya. Yang awalnya adalah semacam ejekan. Saya punya bawaan lahir yaitu mata saya mudah sekali berkedip. Mungkin bisa 2 – 3 kali orang normal. Nah berkedip dalam bahasa disana adalah “kapidi – pidi”. Karena awal bertemu dulu mereka tak tahu nama saya. Akhirnya oleh mereka dipanggil kapidi – pidi. Seiring waktu yang tertinggal hanya Pidi. Dan menjadi nama resmi saya.

Sebenarnya saya ingin sekali tinggal lebih lama disini. Bahkan ingin rasanya waktu seminggu yang saya punya, saya habiskan disini. Apalagi teman – teman disini setengah memaksa agar saya tinggal saja. Tapi saya gak mau bikin rombongan saya ngamuk. Apalagi kami hanya rombongan kecil. Bila hilang satu akan terasa sekali dampaknya. Lagipula kami semua bisa dibilang buta tentang Sulawesi. Dan modal utama kami adalah berani dan nekat. Jadi “stay in group” sangat penting.

Siang hari setelah berpamitan dengan orang – orang disini kami melanjutkan perjalanan. Dan jarak yang ditempuh cukup jauh ± 300 KM. Dan melintas antar provinsi. Sulawesi Barat – Sulawesi Selatan.

Tujuan kami selanjutnya Pare – Pare. Salah satu kota tersibuk di Sulawesi selatan. Dan di perjalanan ini lah kami banyak belajar tentang kondisi sosial masyarakat Sulawesi secara umum. Juga ada tips – tips bagi yang suatu saat tertarik menyusuri rute kami.

Bersambung !

Iklan
 
6 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 27, 2012 in Aku Menulis, Catatan Harian

 

Tag: , , ,

6 responses to “Road To Celebes : Sambabo Waterfalls

  1. cahya

    Maret 27, 2012 at 4:24 am

    yeey..hebat oi kak abi ^^d
    mau nge-bolang juga deh 😀

     
    • abieomar

      Maret 27, 2012 at 4:42 am

      Boleh , boleh, boleh ,..!
      Tapi datang gak dijemput dan pulang tak diantar ,..
      wkwkwkwkwkwkwkw

       
  2. misscurious83

    Maret 27, 2012 at 5:06 am

    Wiii, keren tempatnya.

     
    • abieomar

      Maret 27, 2012 at 5:31 am

      Yap ,.. dan aslinya lebih keren dari gambarnya , heheheeh

       
  3. Phuji Astuty Lipi

    Maret 27, 2012 at 12:03 pm

    wuihhh mantap nih kak abi, aku saja yg domisili sulawesi blum pernah icip view disana..
    jempol dah…^________^

     
  4. Ida Ratna Isaura

    Maret 29, 2012 at 12:21 pm

    bagus banget. . . . 🙂

    hahaha. . . jeprat jepret orang mandi ceritanya 😀 wkwkwk

    asik tuh kak mandi di sungai, asal engga kintir 😀

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: