RSS

Road To Celebes : Middle Of Celebes

30 Mar


Day three (16 Maret 2012)

Cuaca sangat cerah hari itu. Kondisi yang sangat ideal untuk melakukan perjalanan. Apalagi mengingat perjalanan saya kemarin yang hampir sepanjang jalan di guyur hujan. Perjalanan cukup jauh akan saya tempuh hari ini. Dari Majenne ke Pare – pare adalah perjalanan antar provinsi. Sulawesi Barat – Sulawesi Selatan. Kami akan melintasi beberapa kabupaten, karena posisi kami saat itu di malunda kami akan melewati Majenne – Polewali – Pinrang lalu Pare-Pare dengan jarak tempuh ± 200 – 250 KM.
Sekira jam sebelas saya beserta yang lain memulai perjalanan. Jalan disini tak terlalu lebar dan tidak begitu mulus tapi tidak juga jelek. Dibeberapa tempat banyak sekali perbaikan. Sejak daerah ini mengalami pemekaran menjadi provinsi sendiri , otomatis status jalan berubah menjadi jalan Provinsi. Sehingga sepertinya Pemda setempat menjadikan perbaikan jalan sebagai prioritas utama dalam pembangunan infrastruktur, sebagai urat nadi kehidupan sosial dan ekonomi daerah ini . Dimana – mana ada pelebaran jalan , pembangunan jembatan dan lain – lain. Tapi hal itu tak terlalu mengganggu perjalanan kami. Karena kondisi lalu lintas disini tak terlalu padat. Volume kendaraan di jalan bisa di bilang kecil hingga kami bisa melaju dengan nyaman. Dan satu hal yang saya acungi jempol adalah para pengguna jalan disini cukup taat lalu lintas. Berbeda sekali di tempat saya yang penuh dengan “setan jalanan”. Mungkin ini disebabkan volume kepemilikan kendaraan yang terbatas. Atau bisa juga, seperti menurut cerita bahwa polantas disini terkenal “ganas”.
Well . Saya menempuh jalur pesisir. Berbeda dengan medan jalan yang kami tempuh di hari sebelumnya yang berkelok – kelok dan turun naik. Kali ini jalan yang kami lewati relatif lurus dan rata. Sepanjang jalan kami ditemani panorama laut di sebelah kanan kami. Laut biru jernih berpasir putih , bagi saya pribadi semuanya terlihat indah. Ditempat saya ini semua pemandangan langka. Karena kebanyakan pantai di tempat saya adalah pantai berlumpur bukan berpasir. Di rute ini menjadi salah satu rute terbaik yang kami lewati. Sebenarnya beberapa kali saya ingin singgah untuk mengambil gambar. Tapi kami malas menghentikan kendaraan yang telah melaju cukup kencang . Juga bingung mau berhenti dimana. Karena semua terlihat sama, sama bagusnya. Akhirnya keindahan itu kebanyakan saya rekam di otak saja. Sekaligus berharap di depan kami akan menemui yang lebih keren. Apalagi jalan dalam satu rombongan seperti ini , saya tak bisa berhenti sesukanya.
Satu tempat yang cukup menarik perhatian saya diperjalanan adalah sebuah pulau kecil yang tampak terpisah dari daratan luas. Tapi tidak jauh dan ada jembatan kecil yang menghubung kesana. Orang disana bilang itu disebut Pulau Taimanu atau dapat diartikan Pulau Tai ayam. Mungkin karena bentuknya yang mirip dengan sebutannya. Tapi karena tak tahu apakah itu objek wisata atau bukan. Lagipula saya tak melihat jalan masuk kesana di pinggir jalan poros. Juga teman – teman yang lain terlihat cuek , akhirnya pulau itu terlewati begitu saja. Tapi yang pasti. Pulau itu terlihat keren. ( Iseng – iseng saya searching soal pulau itu di blog sebelah saya dapat gambar dan artikel tentang pulau ini ).

Tapi tak apalah pulau itu terlewat. Karena saya punya satu kalimat sakti. Seorang pengembara tidak pernah menyesali apa yang ditinggalkannya dan tak pernah cemas dengan apa yang akan ada didepannya. Dan setiap yang terlewat pasti ada penggantinya. Sekira setengah jam kemudian kesaktian kalimat itu terbukti. Tidak begitu jauh dari tempat itu. Saya melewati jalan dipinggir tebing yang langsung berbatasan dengan laut. Dan ada reruntuhan batu – batu raksasa di tebing sebelah kanan yang jatuh ke laut. Tanpa di komando kami semua berhenti ber-narsis ria dan mengambil gambar.

Setelah puas melampiaskan hasrat narsis, perjalanan pun berlanjut.
Kami memasuki kota Majenne. Yang pertama kami lakukan adalah singgah di POM bensin untuk mengisi bahan bakar. Tidak ada yang istimewa ditempat ini. Sama seperti tipikal kota – kota lain yang akan kami lewati selanjutnya. Deretan ruko di sepanjang jalan. Hingga tak ada hal menarik yang membuat kami merasa harus singgah. Perjalanan kami teruskan menuju Polewali Mandar. Perjalanan yang tak terasa karena jaraknya yang tidak begitu jauh. Di Polewali pun tipikal kotanya tak jauh berbeda dengan majenne. Cuma terlihat lebih ramai dengan ruko – ruko dan semacamnya. Satu – satunya hal yang menarik bagi saya adalah nama salah satu kota , yaitu Wonomulyo. Bagaimana bisa ada nama kota di jantung daerah Mandar berbahasa Jawa. Usut punya usut ternyata dulunya tempat ini adalah daerah transmigrasi yang diisi oleh transmigran asal Pulau Jawa. Kelihatannya mereka tergolong transmigran yang berhasil. Kota ini adalah buktinya.
Meninggalkan Polman kabupaten yang akan kami lewati selanjutnya adalah Pinrang. Diperjalanan kami tertarik untuk singgah di sebuah kios kecil yang berjualan buah Durian dan langsat. Harganya cukup murah . Durian berukuran cukup besar harganya 15.000. Karena malas membawa akhirnya kami memutuskan menyantapnya disitu. Dan sungguh tidak mengecewakan daging buahnya tebal dan manis. Bahkan si ibu yang berjualan sempat bilang “kalau tidak bagus tidak usah dibayar”. Beliau juga bilang , musim buah sudah lewat hingga harganya agak mahal. Karena beliau juga membeli sebelum menjual. Saat lagi musim si ibu menjual hasil dari kebun sendiri. Dan harganya hanya 5.000 sebutir. Luar biasa murah, di tempat saya durian seukuran ini harganya rata – rata 50.000.

Setelah selesai perjalanan ke Pinrang dilanjutkan. Di Pinrang kami berencana singgah di tempat keluarga teman saya. Sekira jam empat sore kami tiba disana. Disini kami disuguhi hidangan daging bebek atau mentok. Kebetulan tante teman saya beternak bebek. Selera makan kami luar biasa, apalagi si bebek di masak rica – rica super pedas. Yang lebih penting hidangan itu untuk kami semua, karena orang – orang di rumah itu tak ada yang makan bebek. Oh ,. Ya ! Yang menarik disini adalah ternyata anak si tante yang juga sepupu teman saya adalah seorang artis. Tapi tentu saja skala lokal di pare – pare. Apalagi kalau bukan penyanyi bugis . Namanya andhika Syaputra. Tapi kemungkinan pasti kalian tak kenal. Teman saya sendiri yang saya tanyain , emang lagunya apa ? Dia juga gak tau. Heheheheheh
Kami beristirahat disana . Mandi lalu cuci motor. Setelah sholat maghrib kami melanjutkan perjalanan ke Pare – Pare. Kami sempat diberi bebek dua ekor untuk di bawa ke pare – pare, ketempat yang akan kami rencanakan untuk menginap disana malam itu (Dirumah saudara si tante, yang juga merupakan tante yang lain dari teman saya) . Tapi tentu saja tak ada yang mau bawa. Tak sampai setengah jam kami tiba di Pare – Pare.
Karena disini kami hanya semalam. Dan besok berencana melanjutkan perjalanan ke makassar. Malam itu kami gunakan sebaik – baiknya. Dan tempat yang kami tuju malam itu adalah pasar senggol. Menikmati secangkir Sarabba’ di temani Pisang epe’. Suasana cukup ramai , banyak stand – stand yang entah berjualan apa. Yang jelas makanan atau mungkin minuman. Uniknya stand itu beberapa di lengkapi proyektor dan layar raksasa. Tempat yang kami tongkrongi itu tepat di pinggir laut dekat daerah pelabuhan. Kata teman saya pada minggu subuh sampai pagi tempat ini jadi tempat pemandian raksasa. Tempat ratusan bahkan mungkin ribuan orang mandi bareng.Dan menjadi salah keunikan kota Pare – Pare. Saya sebenarnya penasaran ingin melihat, tapi sayang besok hari sabtu rencana kami adalah melanjutkan perjalanan ke makassar. Dan bermalam minggu di kota makassar. Hingga keinginan itu hanya tertinggal sebagai rasa penasaran.
Saya tidur nyenyak malam itu. Perjalanan hari itu cukup melelahkan. Tapi di sisi lain cukup memuaskan.
Perjalanan saya selanjutnya adalah menuju ke Jantung Provinsi Sulawesi Selatan. Dimana disana saya merasa beruntung bisa bersentuhan dengan keramahan Bloofers di Kota Daeng.
Makassar , here I Come !
Bersambung !

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 30, 2012 in Aku Menulis, Catatan Harian

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: