RSS

Arsip Bulanan: April 2012

Road To Celebes : Bantimurung

Day Six (19 Maret 2012)

Hari – hari terakhir saya di Makassar agak sedikit terganggu oleh kondisi cuaca yang tak begitu baik. Hujan kerap turun tiba – tiba. Padahal hari itu saya beserta rombongan harus mengakhiri keberadaan kami di Makassar. Dan berencana untuk kembali ke Pare – Pare. Tak terasa seminggu berlalu begitu cepat bagi saya. Artinya liburan akan segera berakhir.  Karena kami akan bertolak dari Pare – Pare ke Kalimantan menggunakan kapal di keesokan hari. Maka hari itu kami berencana kembali. Tapi sebelum itu ada sedikit hal tertunda yang harus kami selesaikan. Mengunjungi lokasi wisata di Bantimurung Kabupaten Maros yang cukup terkenal di Sulawesi Selatan.

Jarak dari Makassar menuju Bantimurung di Maros tidak begitu jauh. Hanya lalu lintas kendaraan yang padat di lintas membuat perjalanan kami sedikit tersendat. Tapi secara umum tak ada masalah. Karena kami tak tahu jalan kesana , kami beberapa kali singgah untuk bertanya. Saat kami telah berada di jalur yang benar. Maka perjalanan pun menjadi lancar. Jarak yang 41 KM kami tempuh hampir satu jam. Karena hujan gerimis dengan setia mengiringi perjalanan kami. Juga jalan yang tidak lebar dan volume kendaraan yang cukup ramai.

Saat saya sampai satu hal yang sangat mencolok adalah tulisan raksasa yang terlihat di tebing yang cukup tinggi.

Lalu di ada replika kupu – kupu raksasa yang menjadi pintu gerbang untuk masuk ke areal taman Nasional Bantimurung. Tapi kami tak langsung masuk karena saat itu kami merasa cukup lapar. Kami memutuskan mencari makan dulu. Karena kami berencana akan menghabiskan waktu seharian di dalam. Hari itu hari senin, bukan hari berlibur hingga tempat itu terlihat sepi pengunjung. Di tambah lagi cuaca yang tak bersahabat. Kami pikir akan agak sulit mencari makan di dalam. Setelah menyusuri jalan kami menemukan tempat makan yang sangat menarik. Coto kuda. Wah rasanya lumayan beda dengan yang biasa. Bahkan seorang teman tidak begitu suka. Karena aroma dagingnya memang agak aneh. Tapi bagi saya justru lebih enak. Hehehe,….

Setelah kenyang kami pun meluncur menuju lokasi. Sempat singgah sebentar melihat penangkaran kupu – kupu milik warga. Dan dari situ saya memperoleh informasi bahwa di dalam ada penangkaran milik pemerintah yang lebih besar. Sebelum kami ke lokasi utama. Kami memutuskan untuk singgah sebentar ke lokasi penangkaran kupu – kupu. Kami sempat masuk ke laboratorium tempat penelitian dan pengembak biakan kupu – kupu. Hanya ada tiga orang pekerja/peneliti di dalam. Kami meminta idzin untuk melihat – lihat. Hanya perlu mengisi buku tamu. Dan seorang peneliti dengan ramah menjelaskan siklus kehidupan atau proses metamorfosa kupu – kupu. Mulai dari telur – ulat – kepompong sampai kupu-kupu. Termasuk menunjukkan beberapa kandang tempat proses itu berlangsung. Disitu saya bisa melihat telur , lalu dikandang lain ada ulat dan kandang lainnya lagi ada kepompong. Disamping gedung laboratorium ada taman besar yang di beri jaring tempat kupu – kupu dewasa bermain. Tapi sayang entah kenapa , belum waktunya atau cuaca yang tidak bagus kami tak melihat seekor pun kupu-kupu menampakkan batang sayapnya. Sehingga saya hanya bisa memandangi ratusan jenis kupu – kupu yang telah diawetkan dan terpasang rapi di dinding.

Saya sempat sedih juga melihat nasib si kupu-kupu yang dijadikan mummi. Walau yang menarik ternyata proses pengawetannya sama sekali tidak menggunakan air keras atau zat kimia apapun. Kupu – kupu yang diawetkan cukup di bunuh di tusuk kepalanya dengan jarum lalu setelah mati di jemur hingga kering, sebelum di masukkan ke bingkai kaca. Konon cara ini lebih murah dan hasilnya lebih bagus. Walau agak kasihan, tapi saya pikir – pikir dengan diawetkan justru lebih baik bagi kupu – kupu. Karena eksistensinya menjadi lebih lama. Karena di berita saya lihat ternyata umur kupu – kupu dewasa hanya bertahan lima hari. Jadi pilih hidup yang bagimana untuk tuan kupu – kupu ?

Setelah puas melihat – lihat dan berphoto. Termasuk juga meminta petugas yang ada untuk berphoto bersama kami meninggalkan tempat itu.

Kami pun menuju lokasi gua dan air terjun.Tapi cuaca makin memburuk , hujan turun sangat deras sehingga kami terpaksa beteduh cukup lama di stand penjual cindera mata. Yang kebetulan kosong. Cukup lama saya bahkan sempat tertidur. Setelah hujan reda kami pun beranjak menuju loket pembelian karcis masuk. Ada dua harga, untuk wisatawan lokal sebesar, Rp 15.000,- sedang wisman sebesar, Rp 50.000,-.

Suasana benar – benar sepi didalam. Jumlah pengunjung bisa di hitung dengan jari. Tapi justru sebuah kebetulan bagi kami. Kami bisa mengeluarkan seluruh ekspresi dan hasrat narsis sepuas – puasnya. Tanpa harus menggangu dan terganggu oleh keberadaan orang lain.

Tujuan pertama kami adalah gua Bantimurung. Jaraknya 800 Meter dari lokasi utama air terjun. Melewati jalan beton setapak yang cukup menanjak menyusuri sungai. Saya belum pernah melihat gua secara langsung sebelumnya. Dan gua itu lumayan besar. Kami menyewa senter sekaligus menggunakan jasa guide yang menawarkan diri. Guide kami seorang bapak yang cukup berumur. Ia memandu kami menyusuri gua itu. Menunjukkan tempat – tempat yang menurutnya istimewa. Ada batu jodoh, yang katanya bila seorang ingin cepet dapat jodoh bisa mengalungkan tali di batu tersebut. Lalu ada tempat duduk batu yang katanya adalah tempat bertapa Karaeng batimurung. Ada juga mata air yang disebutnya bisa membuat awet muda dan membuat wajah jadi bersih. Bisa menghilangkan jerawat dan sebagainya.

Batu Jodoh .

Sekira dua jam kami ditempat itu. Setelah itu,………. Saatnya bermain air. Karena hari itu diwarnai turunnya hujan yang berkepanjangan. Bahkan saat itupun gerimis masih tetap turun. Membuat jeram air terjun menjadi sangat deras dan besar. Sangat sulit untuk mencari posisi mandi di bawah air terjun. Sebenarnya di daerah bawah ada tempat pemandian juga . Tapi bagi kami kurang seru, kami lalu berusaha mencari posisi yang memungkinkan untuk ditempati bermain air yang sedekat mungkin dengan air terjun. Bahkan seorang teman sempat terseret arus saat ti. Untung saja masih  bisa ngerem. Kalo tidak, saya pikir dia bisa mendapat cedera lumayan. Karena dibawah posisi kami diatas tebing ,walau tidak curam tapi jaraknya masih lebih 10 meter ke bawah.

Maen airrrrr,.......

Begaya dulu sebelum pulang , heheheheh

Saya menghabiskan waktu cukup lama di tempat itu. Jam empat sore kami pun berkemas untuk pulang. Tempat yang cukup menyenangkan juga berkesan bagi saya. Saat keluar kami singgah mencarai cendera mata untuk di bawa pulang. Dan karena Batimurung terkenal dengan kupu – kupu. Maka cendera mata yang ada tak jauh – jauh dari itu. Gantungan kunci berisi fosil kupu – kupu banyak sekali dan dijual bervariasi mulai harga lima ribuan. Ada juga fosil lain seperti kumbang dan kalajengking. Tentu saja harganya beda. Juga ada juga kumpulan bermacam – macam fosil kupu – kupu yang masukkan dalam bingkai.

Setelah puas melihat – lihat kami pun pulang. Walau ada beberapa hal yang agak mengganggu. Seperti harus membayar ongkos parkir dua kali. Dan harganya pun aneh, saya merasa seperti di peras oleh oknum – oknum itu. Tapi saya malas berdebat hingga menuruti saja mau mereka.

Jam lima sore saya beserta rombongan meninggalkan Bantimurung menuju Pare – Pare. Karena keesokan hari kami sudah harus balik ke kalimantan. Saya tiba di Pare – Pare sekira jam sembilan malam.

Selamat tinggal Makassar . Waktu dan lelah yang terkorban terasa sebanding dengan pengalaman yang saya dapatkan. Perjalanan ini benar – benar memuaskan. Bahkan saya dan teman – teman berencana akan melakukan nya lagi di kesempatan yang ada di masa depan. Walau rute perjalanan akan di ubah. Bila sebelumnya melewati daerah – daerah pesisir, maka nantinya melewati daerah pegunungan. Semoga saja rencana itu kesampaian.

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada April 9, 2012 in Aku Menulis, Catatan Harian

 

Road To Celebes : Meet Bloofers

Day Five (17 Maret 2012)

Kami bangun cukup awal minggu pagi itu. Karena saya dan teman lain punya banyak rencana hari itu. Dari saran paman teman saya tempat rekreasi yang cukup ramai dan terkenal di Makassar selain Pantai Losari adalah Wahana permainan Trans Studio. Dan kesanalah rencana kami hari itu.

Sekira pukul delapan pagi kami berangkat. Kami menggunakan sepeda motor sementara si paman menggunakan mobil memandu kami. Karena kami tidak tahu jalan. Kami tidak bergabung di mobil karena si paman hanya bisa bersama kami sampai jam tiga sore. Setelah itu beliau harus ke bandara menjemput istrinya yang baru pulang dari umroh. Sementra saya dan teman – teman berencana menghabiskan waktu sepuas – puasnya hari itu. Bahkan berencana pulang di malam hari.

Sebelum sampai di Trans studio kami di ajak singgah makan coto makassar . Tempatnya bernama Coto Nusantara. Ramai sekali disana, jumlah pengunjung tidak sebanding dengan kapasitas ruangan. Yang mau makan harus antri. Bahkan berjalan disela – sela mejapun cukup sulit. Konon coto disini memang terkenal, bahkan menjadi tujuan wisata kuliner dari luar daerah. Bahkan konon pernah masuk acara kuliner di TV swasta nasional. Juga kerap di datangi artis ibukota. Dan melihat jumlah pengunjung yang luar biasa sepertinya klaim itu memang benar.

Dari sana kami menuju trans studio. Wahana permainan ini disebut – sebut sempat menjadi wahana permainan indoor terbesar di Indonesia. Sampai kemudian wahana yang sama di bangun di Bandung. Masuk kesana saya merasa cukup antusias, maklum baru pertama. Dan selama di dalam hampir semua permainan yang diangga paling menantang saya coba. Hampir empat jam saya dan teman – teman menghabiskan waktu berputar – putar di tempat itu.

Serasa Di Eropa , hehehehhehh,....

Jam tiga sore seperti yang kami rencanakan, kami akan menuju Losari. Karena ada beberapa barang yang ingin kami beli disana. Beberapa peralatan camping , karena sepertinya  disini harganya lebih murah dan pilihan lebih banyak di banding di kalimantan. Sekaligus mencari oleh – oleh untuk dibaa pulang.

Sedang saya sendiri tentu saja berencana bertemu teman – teman Bloofers makassar. Apalagi janji yang dibuat melalui Fanspage Bloofers sudah deal. Teman – teman Bloofers Makassar sebenarnya akan mengadakan kopdar juga pada tanggal 21. Tapi tetap bersedia menghadiri kopdar dadakan ini. Setelah sempat inbox – an, saya dapat nomor HP Phuji lipi Astuty. Panggilannya disana Uty kalo gak saya gak salah terka. Kami menjanjikan bertemu jam lima sore. Dan dia berjajnji akan mengajak teman – teman Boofers Makassar yang lain.

Saya sampai di Losari jam setengah lima sore. Singgah makan sebentar lalu menuju lokasi sendiri. Kami berpisah karena teman saya yang lain menuju kota untuk hunting barang. Tepat jam lima belum ada tanda – tanda kemunculan Bloofers Makassar. Bahkan saat lewat setengah jam juga belum muncul. Sebelumnya saya sudah beberapa kali menelepon Phuji. Katanya sudah on the way. Beberapa kali juga kirim sms.

Dan akhirnya mereka datang juga, ketika jarum jam merapat diangka enam. Yang pertama menghampiri saya adalah Arya Poetra . Setelah berbagi sapa dan bersalaman.  Saat saya tanya teman yang lain , rupanya mereka berdiri tak jauh dari kami. Setelah saling berkenalan kami pun mengobrol. Walau saya agak susah untuk mengingat nama mereka satu – persatu karena perkenalan yang terlalu singkat. Tapi yang sempat saya ingat dari yang hadir antara lain, laki – lakinya Arya poetra, Muhaimin Tawwa , Ucank Nate (Nama – Nama yang cukup familiar di grup Bloofers) juga ada Gafur dan seorang lagi yang saya lupa namanya. Sedangkan wanitanya ada Phuji, Pipi, Cahya, zee nunu, Mirna Adriani, Rahmi or Nhami, Uswatun Hasanah Musa, Bunda fiqthiya beserta keluarga dan yang lain – lain. Satu yang agak disayangkan tak bisa hadir adalah Lathifah Ratih. Padahal sebelumnya sangat antusias. Bahkan berencana berangkat dari Sinjai hari itu (Saya sempat liat peta jarak Sinjai – makassar itu lumayan. Di Peta Bila Makassar ada di sisi kiri, Sinjai ada di sisi kanan).Namun karena ada musibah keluarga, jadi gak bisa datang. Tapi walau orangnya gak bisa hadir paling tidak suaranya sampai. Kami sempat bicara di telepon . begitu juga dengan ….. yang berdomisili di Palu, kami pun sempat berbincang di telepon.

Karena hari sudah maghrib pertemuan itu gak bisa lama. Setelah mengobrol lalu foto – foto. Beberapa bloofers ada yang harus cabut duluan, diantaranya si bunda. Saya lalu di ajak makan pisang epe’ . Yang merupakan makanan khas makassar. Walaupun di Pare – Pare saya sudah pernah rasain. Kami pun pergi sholat maghrib dulu. Setelah itu berkumpul kembali di tempat penjual pisang epe’. Dan melanjutkan ngobrol bersama teman bloofers.

Kesan yang saya dapat luar biasa. Saya merasa beruntung bergabung dengan grup Bloofers sehingga bisa mengenal mereka. Sebelumnya saya tidak terlalu berharap tapi menyangka akan jadi semeriah ini. Ajakan untuk kopdar dengan Bloofers makassar di grup awalnya hanya iseng – iseng. Siapa sangka ternyata mendapat sambutan positif. Mereka semua pribadi – pribadi yang ramah, terbuka dan sangat bersemangat. Sayang ada beberapa yang tak bisa gabung. Tapi untuk sebuah pertemuan dadakan acara ini sudah lebih dari cukup bagi saya. Pokoknya untuk Bloofers makassar “ You all the best” lah. Dan buat teman – teman Bloofers dari daerah lain yang kebetulan main ke makassar , gak ada salahnya untuk mencoba menghubungi mereka. Siapa tau bernasib baik seperti saya, heheheeh

Dan saya sendiri setelah bergabung di grup bloofers. Bila suatu hari berkunjung kedaerah yang lain , yang akan saya lakukan sepertinya menghubungi teman – teman bloofers setempat. Karena jumlah anggota Bloofers yang ribuan dan tersebar di seluruh nusantara. Saya pikir mereka ada disetiap daerah. Lagipula tak ada salahnya mencoba bukan ?

Pertemuan dengan teman Bloofers makassar saya anggap bonus terbesar dari perjalanan saya di pulau Sulawesi ini. Tapi tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat. Dan tiba saat untuk berpisah , sudah sekira jam sembilan saat itu. Karena ada beberapa teman yang rumahnya cukup jauh. Yaitu di maros sehingga harus pulang bila tidak ingin kemalaman di jalan. Kami pun berpisah dengan membawa kesan di hati masing – masing.

Sekali lagi Thank’s Bloofers Makassar atas keramahannya.

Saya kembali ke Losari karena teman saya menunggu disana. Setelah meninggalkan Losari saya dan yang lain singgah di benteng rotterdam . Disanalah saya mengahabiskan malam , minum kopi di warung emperan yang menjadikan trotoar sebagi tempat berjualan. Disana kami juga ada janji bertemu teman asal sedaerah yang kebetulan sedang berada di makassar.

Tengah malam kami kembali ke tempat kami menginap. Hari yang cukup padat dan melelahkan tapi juga memuaskan. Saya beristirahat karena besok sudah harus kembali. Tapi sebelumnya kami akan singgah di Batimurung Kabupaten Maros. Karena itu tempat yang di rekomendasikan oleh banyak orang untuk kami.

Bersambung .

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada April 5, 2012 in Aku Menulis, Catatan Harian

 

Tag: ,

Road To Celebes : Go To Makassar

Day Four (17 Maret 2012)

Akhirnya kami akan sampai pada tujuan utama dari perjalanan yang cukup panjang namun singkat ini. Yah,.. Kami akan ke Makassar yang sekaligus menjadi Rute akhir kami. Kenapa Makassar ? karena kalau ke Sulawesi selatan tidak ke makassar , apa kata dunia ? Makassar adalah trade mark dari Provinsi ini. Dan menjadi pusat atau mungkin jantung yang membuat denyut nadi provinsi ini berdenyut.

Saya beserta rombongan meninggalkan Pare – pare pada pukul dua siang. Jarak Pare – Pare menuju Makassar lumayan jauh. Sekira 200 KM , dan akan melewati beberapa kabupaten, diantaranya Barru, Pangkep dan Maros. Tapi istirahat yang cukup dan antusiasme yang tinggi membuat kami sangat bersemangat. Apalagi kesan terdalam biasanya ada di pengalaman pertama.

Cuaca cerah dan kondisi jalan yang bagus membuat perjalanan sangat lancar. Walau di beberapa tempat ada perbaikan tapi secara umum tidak mengganggu. Tempat pengisian bahan bakar atau SPBU juga ada disepanjang jalan. Jarak antara Pare – pare Makassar tidak terlalu jauh. Tidak sampai satu jam kami telah memasuki kabupaten tersebut. Tak banyak berbeda dengan kota  – kota lain yang saya lewati. Yang menarik saat kami melewati kota itu. Kami sempat melihat sekelompok mahasiswa yang melakukan demo. Saya tak tahu apa yang mereka sampaikan. Sepertinya soal BBM.Memang saat itu isu kenaikan BBM mulai berhembus. Tapi tentu saja kami tak tertarik.

Dan kota Barru kami sedikit dapat masalah. Karena berbelok kiri tanpa memperhatikan isyarat lampu. Karena kami pikir lampu merah hanya untuk yang mengambil arah lurus. Dan sialnya kami kepergok polisi. Saya bisa mendengar suara peluitnya yang meminta kami berhenti. Tapi kami justru memutar gas lebih kencang. Saya tak tahu apa kami dikejar, yang pasti setelah melaju cukup lama. Kelihatan aman saja.

Selepas Barru kami memasuki Kabupaten Pangkep. Perjalanan melewati Kabupaten ini terasa sangat panjang. Sepertinya lebih dari separuh jarak yang kami tempuh melewati kabupaten ini. Tapi hal yang membuat saya merasa salut adalah semua jalan yang kami lewati menggunakan dua jalur. Walau bila ada perbaikan jalur akan disatukan. Jalan pun relatif mendatar hampir tanpa tanjakan dan turunan. Satu hal yang menarik perhatian saya disini adalah deretan penjual buah markisa dan deretan penjual ikan bakar yang saya lihat dibeberapa tempat.

Kami memasuki pusat kota kabupaten Pangkep sekira jam tiga sore. Kota ini jauh lebih ramai dari kota Barru. Mungkin karena jaraknya yang lebih dekat dengan makassar. Atau juga mungkin karena kabupatennya yang lebih luas, sehingga pendapatan daerahnya lebih besar. Sehingga APBD sebagai modal pembangunan juga tinggi.

Memasuki kota perjalanan kami cukup terhambat. Satu hal yang agak ironis. Bila diluar kota hampir semua jalan bagus. Di pusat kota justru jalanannya cukup buruk. Dan beberapa tempat cukup sempit. Padahal kondisi lalu lintas dalam kota lebih ramai dan padat. Kondisi ini di perparah oleh keramaian kampanye pemilukada di jalan yang saya lewati. Waktu kami banyak terbuang di kota ini. Karena kami berjalan nyaris merayap.

Selepas Pangkep kami menuju di Maros. Jaraknya tidak terlalu saya pikir. Setiba di Maros sebenarnya bisa dibilang kami telah sampai Makassar. Karena kedua kota ini rasanya seperti bersambung saja. Mungkin Maros “jadi korban” perluasan kota Makassar. Karena kami sampai di kota ini sudah cukup senja. Rencana kami untuk singgah dulu di Batimurung di batalkan. Dan direncanakan ulang untuk singgah saat pulang dari Makassar. Lagipula saat itu kami belum tahu jalan menuju kesana.

Di Maros paman teman kami telah menunggu. Karena di rumahnya lah rencananya kami menginap selama tinggal di Makassar. Kami sampai dirumah beliau sekira jam enam sore. Beristirahat sejenak dan membersihkan diri.

Malam harinya dengan menggunakan mobil kami diajak oleh si paman menikmati kota Makassar di malam hari. Singgah sebentar Menikmati seafood di rumah makan tepi laut yang ada live musiknya. Lalu setelah itu kami menuju Pantai Losari. Karena malam itu malam minggu suasana cukup ramai . Padahal kami datang kesana hampir jam sepuluh.

Dan pada hari itu juga saya tergerak untuk menghubungi Bloofers makassar melalui Fanpage Facebook Bloofers. Dan hebatnya saya mendapat respon yang cukup positif. Akhirnya kami merencanakan akan melakukan kopdar di keesokan harinya . Tepatnya hari minggu.

Malam yang cukup melelahkan. Setelah perjalanan yang cukup jauh, lalu malamnya masih digunakan untuk jalan – jalan. Tak ada yang lebih saya butuhkan saat itu selain beristirahat. Apalagi esok hari saya bersama teman – teman sepertinya akan punya hari yang padat.

Bagaimana serunya Kopdar bersama teman – teman Bloofers makassar ? Karena artikel ini sudah terlalu panjang maka akan saya tulis lengkap di artikel selanjutnya.

Bersambung !

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 5, 2012 in Aku Menulis, Catatan Harian

 

R.A Kartini Dan Islam


R.A Kartini adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia yang paling terkenal. Karena beliau satu dari sedikit wanita yang turut serta terlibat dalam sejarah perjuangan bangsa. walau dalam bidang yang berbeda. Bulan ini adalah bulan kelahiran beliau. Tanggal 21 menjadi hari lahir sekaligus libur nasional untuk mengenang jasa – jasa beliau.

Ada satu hal menarik yang ingin saya share . Kartini dikenal sebagai tokoh emansipasi dan menjadi rujukan bagi kaum Feminis untuk menuntut persamaan hak dalam segala bidang dengan kaum laki – laki. Yang kadang di istilahkan dengan “kesetaraan gender”. Apakah salah ? Tentu saja tidak.

Dalam Islam, di hadapan tuhan sebagai hamba tidak ada perbedaan antara laki – laki dan perempuan. Walaupun tidak juga bisa disamakan secara “apple to apple”. Karena secara fitrah laki – laki memang tidak sama dengan perempuan. Mulai faktor biologis sampai psikologis mereka jelas berbeda. Hingga kadang apa yang dituntut oleh kaum feminis kadang terasa berlebihan

Hingga sepak terjang kaum feminis kadang terasa bertentangan dengan nilai – nilai Islam. Bahkan tak jarang terkesan melecehkan pandangan – pandangan Islam. Diawah ini ada artikel menarik yang sangat sayang untuk tidak di share. Saya kutip dari Republika.co.id . Sebenarnya awalnya blog saya ini hanya akan saya isi dengan tulisan pribadi dan beberapa tulisan teman. Tapi artikel ini terlalu bagus untuk tidak di bagi. selengkapnya dibawah ini :

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Teguh Setiawan/Wartawan Senior Republika

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis;

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca.

Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.

Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.

Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.

Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.

Namun, Kartini tidak menceritakan pertemuannya dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang — lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat. Adalah Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, yang menuliskan kisah ini.

Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.

Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.

Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.

“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.

Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia.

Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, karena Kyai Sholeh meninggal dunia.

Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.

Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.

Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.

Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis; Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.

Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.
Redaktur: Heri Ruslan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 2, 2012 in Berita

 

Di Hati ibu

Oleh Coffee Paid pada 11 Maret 2012

Ibu tidak sedang bicara denganmu, sayang.
Ibu sedang bicara pada diri sendiri.

“bulan itu ada dimana?”
tentu saja,
di hati ibu.

Sebelum kau lahir,
ibu slalu menaruhnya
di ingatanmu.
Lewat petikan senar gitar yang lembut
dan
kalimatkalimat lirih ..
Setiap saat
mendoakanmu “smoga kau bahagia sepanjang usiamu”

jika hitam adalah langit ibu,
hujan adalah tangisan,
keduanya tidak akan pernah menyakitimu.
Slalu ada awan putih
berbentuk mawar
disana.

Kepahitan akan musnah oleh harapan…
Kembangkanlah
hatimu
dan hati ibu,
akan berkembang indah seperti milikmu.

Ibu tidak sedang menarik tanganmu.
Ibu sedang menuntunmu.

“cinta itu ada dimana?”
tentu saja di hati ibu.

Sebelum kau lahir
hingga kau tumbuh besar,
ibu slalu bilang pada Tuhan,
jika di panjangkan usia ini,
ibu mau hati yang sama seperti yang ibu miliki sekarang…

Mendoakanmu,
menuntunmu,
mengasihimu.

Sumber : Fitri Eiya , One of my favorite Friend.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada April 2, 2012 in Catatan Teman, Puisi