RSS

Arsip Kategori: Catatan Harian

Suatu Hari Di Masa depan

Mari bercerita tentang suatu hari di masa depan.

Hari yang perlahan akan datang.

Aku membayangkan saat itu, aku duduk disebuah kursi kayu. Diteras dari rumah sederhana baik bentuk dan ukurannya. Dengan sebuah halaman yang tidak begitu luas. Tapi cukup hijau dengan bunga dan rerumputan. Disamping tempatku duduk ada sebuah meja bulat dengan secangkir kopi diatasnya. Meja itupun terbuat dari kayu. Yang ku buat dengan tanganku sendiri. Tak begitu bagus memang. Tapi bukankah yang paling penting dari sebuah benda adalah fungsinya ?

Disamping meja bulat itu ada satu lagi kursi kayu. Seorang wanita duduk disitu membaca buku. Itulah kamu. Kita duduk bersebelahan memandang halaman. Dengan jeda meja bulat itu. Mengapa hanya ada secangkir kopi ? Karena kau boleh memilih minumanmu sendiri. Mungkin itu teh , susu atau segelas air putih. Begitu juga yang kau baca saat itu. Bisa saja sebuah buku cerita, majalah atau buku resep masakan. Atau mungkin kau sedang meng-koreksi tulisanmu sendiri. Karena aku selalu suka pada wanita yang pandai menulis. Untukku , cukuplah sesekali menatap dan menikmati wajah tenangmu itu.

Mengapa sesekali ? Karena kau tahu bahwa aku harus lebih sering melihat kedepan. Yah,.. karena ada “bocah – bocah” kecil yang sedang bermain di halaman. Masalahnya kemudian adalah berapa jumlah mereka ? Inilah yang sebelumnya harus kita diskusikan. Munkin jumlah ideal adalah tiga. Walau aku selalu ingin punya anak lima. Tapi aku tak akan memaksamu dengan inginku. Kau yang memutuskan . lalu semuanya kita serahkan pada Tuhan.

Mungkin kau bertanya . mengapa aku ingin punya banyak anak ? Sejujurnya aku tak punya jawaban. Aku hanya merasa bahwa itu akan menyenangkan. Sebanding dengan kerepotan yang akan ditimbulkan. Aku hanya berfikir seberapapun anak yang kita miliki. Kita hanya perlu keikhlasan. Lalu berusaha memastikan bahwa mereka cukup memperoleh perlindungan, makan, pakaian, hiburan dan pendidikan. Soal rezeki bukankah sudah ada yang mengatur. Bila kita bersungguh – sungguh mencari. Tuhan pasti akan memudahkan.

Kembali ke halaman. Para bocah masih berlarian dengan gembira. Menikmati minggu sore yang cerah. Sesekali terdengar teriakan dan tawa dari bibir mungil mereka. Sungguh indah melihatnya. Mereka akan tumbuh besar melalui tangan kita. Kita harus selalu berdo’a, semoga segala kebaikan menyertai jalan hidup mereka.

Senja perlahan turun. Aku berpaling menatap kearahmu. Saat itu pun kau sedang menatapku. Kita lalu berbagi senyuman yang sama. Kau berdiri mengambil gelas – gelas di meja lalu membawanya kedalam. Aku mengerti. Akupun berdiri , lalu berseru memanggil anak – anak kita. Nama mereka mungkin nanti adalah Umar, Aisyah dan Ali. Tapi itupun aku harus meminta dulu persetujuanmu.

Aku menuntun mereka mengajak membersihkan diri. Hari mulai gelap dan maghrib akan segera tiba. Aku selalu berharap bahwa kita bisa menjadi keluarga yang selalu dekat dengan Tuhan. Walau aku tahu itu tidak lah mudah untuk dilakukan. Aku akan mengajak anak laki – laki kita ke mesjid. Dan kau melakukannya di rumah dengan gadis kecil kita. Sungguh indah ,…!

Bila hidup seperti itu yang bisa ku jalani. Aku tidak perduli. Bila nantinya aku hanya jadi seorang petani. Dan kau hanya seorang ibu rumah tangga. Juga aku tak masalah bila karenanya harus melewatkan begitu banyak kesenangan dunia. Aku bersedia untuk menjalani hari – hari yang setiap hari sama. Membosankan dan kurang berwarna. Karena mimpiku adalah hidup sederhana. Bila kau tidak suka yang seperti itu. Maka aku hanya perlu memastikan, bahwa bukan kau wanita yang akan duduk di kursi itu.

Perlahan aku tutup pintu. Dan disini aku menunggu hari itu.

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 14, 2012 in Aku Menulis, Catatan Harian

 

Tag: , ,

Orang – Orang Paling Goblok Di Dunia

Picture taken from somewhere at Google.com

Beberapa hari yang lalu. Aku hadir dalam sebuah acara buka bersama. Acara itu merupakan kunjungan safari ramadhan yang dihadiri pejabat penting di daerahku. Dan seperti biasa karena pejabat penting datang ke daerah adalah hal yang langka. Maka kesempatan itu digunakan masyarakat untuk melihat langsung sosok pemimpin mereka. Dari sana muncullah berbagai tanggapan dan cerita dari masyarakat tentang sosok pemimpin mereka. Mulai yang biasa, yang lucu sampai yang ter…la…lu..!

Salah satu komentar adalah dari seorang yang kebetulan melihat langsung dari dekat  tentang betapa kurusnya beliau. Yang menarik bagiku adalah tanggapan beberapa orang terhadap komentar itu. Ada yang bilang beban tugas beliau sangat berat sementara pengalaman minim. Maklum terpilih karena mengandalkan popularitas ortu. Ada yang bilang wibawa kurang karena punya dosa nasional dimasa lalu. Ada juga yang bilang beliau masih berkabung karena adiknya baru saja meninggal dunia. Nah yang paling menarik bagiku adalah bagian terakhir bahwa sang adik meninggal karena OD.Walau kabar itu belum tentu benar tentu saja. Tapi untungnya saling komen tersebut terjadi setelah buka puasa. Jadi paling gak puasanya sempat diselamatkan. Karena kebetulan “si beliau” datang ketempat acara tepat saat berbuka tiba.

Saya sempat bingung OD itu apaan ? Tapi kemudian saya tahu bahwa OD itu adalah ketika suatu benda masuk kedalam tubuh secara berlebihan sehingga membuat nyawa melayang. Dan “sesuatu” itu pastilah berbahaya sehingga memiliki efek mematikan. Karena kalau benda itu kacang paling efeknya jerawatan , kalau benda itu telur paling bintilan atau bisulan, kalau benda itu seafood paling gatal – gatal.

Sekali lagi berita itu sangat mungkin tidak benar. Maklumlah ketika orang rame bercerita selalu saja ada orang sok tahu yang ingin jadi pusat perhatian. Lalu mengarang cerita agar terlihat hebat. Atau bisa saja penghasut dan yang semacam itulah. Walau kematian karena OD atau overdosis bukanlah kejadian luar biasa. Sering kita mendengarnya. Bahkan cukup banyak pesohor dunia yang jadi korbannya.

Yang sulit dipahami adalah alasan – alasan mereka melakukan itu. Karena kematian dengan cara itu sama saja dengan bunuh diri. Karena biasanya mereka sendirilah yang memperlakukan diri mereka seperti itu.

Memang saat ini kejadian bunuh diri sudah sangat lumrah. Bahkan tak pandang umur dan kelas sosial. Tua muda, kaya miskin, terkenal atau yang tidak, ada saja yang melakukannya. Kadang mereka melakukannya karena alasan – alasan yang sepele. Terutama dikalangan yang berumur muda. Ada yang karena malu tak naik kelas, tidak dibelikan sepeda atau motor oleh ortu dan yang paling banyak persoalan asmara. Untuk yang tua biasanya karena himpitan ekonomi, penyakit yang tak kunjung sembuh, banyak hutang, masalah keluarga dan kadang juga asmara.

Apapun alasannya tetap saja sulit diterima. Karena kalau mereka mau membuka mata dan berfikir maka ada begitu banyak alasan untuk tetap hidup lalu mengapa memilih mati karena satu alasan bodoh. Ada banyak hal – hal sederhana dalam hidup yang indah untuk dijalani. Tapi mereka memilih yang rumit. Mungkin itulah yang disebut gelap mata sehingga tidak bisa melihat dunia dalam pandangan yang lebih luas.

Yang kadang bikin tak habis pikir justru cukup banyak mereka yang memilih mati itu adalah orang yang dari segi apapun terlihat sangat baik. Bila yang bunuh diri adalah orang susah kita mungkin akan sedikit maklum. Dan paling – paling cuma ikut turut prihatin. Tapi kalau yang mati itu orang kaya , terkenal, berwajah cantik atau tampan lalu dari keluarga terhormat. Yang seperti inilah yang bikin kita sakit kepala. Kok bisa !

Dia menyia – nyiakan hidup yang jadi dambaan banyak orang. Begitu sempit kah dunia mereka hingga tak menemukan jalan keluar ? Seandainya sebelum bunuh diri, mereka mengumpulkan uang untuk dipakai pelesir keliling Indonesia. Pasti dunia akan menyenangkan dan penuh gairah. Kalau kurang puas ? ya, keliling Asia. Kurang puas juga ? Mengapa tidak keliling dunia. Tapi entahlah, mungkin saking sempitnya dunia bagi mereka hingga mereka memilih untuk berkeliling akhirat.

Tapi yang goblok adalah mereka yang bunuh diri karena urusan cinta dan asmara. Bagiku cinta itu omong kosong. Karena kitalah yang mengatur cinta. Bukan cinta yang mengatur kita. Hingga saat putus cinta. Kita lah yang harusnya membunuh cinta bukan cinta yang membunuh kita. Tidak masuk akal hanya karena cinta pada satu wanita atau pria kita menutup buku pada yang lain. Padahal ada 7 miliar mahluk seperti itu dimuka bumi.

Dalam hubungan pria wanita cinta sejati itu bullshit. Cinta sejati antara pria wanita baru tercipta ketika terbentuk sebuah keluarga. Dan bisa saja awal mereka membentuk keluarga itu tidak didasari “cinta”. Mungkin mereka menikah karena dijodohkan. Proses dalam menjalani hidup berkeluarga itulah akan terpupuk cinta . Karena disana ada saling belajar, berbagi, saling memahami, saling melindungi, berkorban , bersabar dan bermacam – macam ujian yang dilewati bersama. Disanalah akan muncul cinta sejati bila mereka berhasil melewati semuanya. Kalau kemudian terjadi poligami, mungkin bisa ditanyakan pada Aa Gym. Karena buktinya Teh Ninih balik lagi.

Cinta yang disebut- sebut cinta sejati semodel Romeo – Juliet yang berakhir bunuh diri itu. Bagiku termasuk yang Bullshit. Dan yang mengagungkannya atau menganggap begitu dipastikan mereka orang – orang goblok.Aku berani bertaruh , seandainya Romeo dan juliet jadi menikah. Empat tahun kemudian mereka pasti sudah bercerai. Mengapa ? Tanyakan saja pada Hollywood atau Tom cruise.

Jadi teramat naif orang yang bunuh diri karena masalah asmara. Terlalu banyak cinta di dunia ini hingga tak ada alasan untuk terpaku pada satu cinta. Ada seribu alasan untuk jatuh cinta kepada siapa saja. Bahkan pada orang yang sebelumnya kita tidak memiliki perasaan apa – apa. Bahkan pada orang yang sebelumnya tidak kita sukai. Aku banyak kenal teman yang ngamuk ketika dijodohkan ortunya. Bahkan sampai curhat kiri kanan mau pake bunuh diri. Karena sudah punya pacar. Lalu menangis Bombai atau sekarang Mumbai saat dinikahkan. Setelah itu , seminggu gak ada kabar. Tiga minggu belum ada juga. Lima bulan kemudian udah hamil. Beberapa tahun kemudian anak belepotan.  Lalu iseng nanya “ andai dulu kamu bunuh diri gimana ya ?” Jawabnya sambil senyum – senyum,” ah ! Itukan dulu gak serius.”

Jiah ! Bunuh diri kok gak serius ? Opo tho iki !

Jadi mereka yang pernah berpikir yang tidak – tidak karena urusan asmara. Jangan sampai masuk dalam golongan orang – orang goblok. Karena jatuh cinta (lagi) itu sangat lah mudah.

Mau bukti ? Dekat – dekat lah denganku.[AbieOmar]

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 8, 2012 in Aku Menulis, Catatan Harian, Opini

 

Tag: , ,

Road To Celebes : Bantimurung

Day Six (19 Maret 2012)

Hari – hari terakhir saya di Makassar agak sedikit terganggu oleh kondisi cuaca yang tak begitu baik. Hujan kerap turun tiba – tiba. Padahal hari itu saya beserta rombongan harus mengakhiri keberadaan kami di Makassar. Dan berencana untuk kembali ke Pare – Pare. Tak terasa seminggu berlalu begitu cepat bagi saya. Artinya liburan akan segera berakhir.  Karena kami akan bertolak dari Pare – Pare ke Kalimantan menggunakan kapal di keesokan hari. Maka hari itu kami berencana kembali. Tapi sebelum itu ada sedikit hal tertunda yang harus kami selesaikan. Mengunjungi lokasi wisata di Bantimurung Kabupaten Maros yang cukup terkenal di Sulawesi Selatan.

Jarak dari Makassar menuju Bantimurung di Maros tidak begitu jauh. Hanya lalu lintas kendaraan yang padat di lintas membuat perjalanan kami sedikit tersendat. Tapi secara umum tak ada masalah. Karena kami tak tahu jalan kesana , kami beberapa kali singgah untuk bertanya. Saat kami telah berada di jalur yang benar. Maka perjalanan pun menjadi lancar. Jarak yang 41 KM kami tempuh hampir satu jam. Karena hujan gerimis dengan setia mengiringi perjalanan kami. Juga jalan yang tidak lebar dan volume kendaraan yang cukup ramai.

Saat saya sampai satu hal yang sangat mencolok adalah tulisan raksasa yang terlihat di tebing yang cukup tinggi.

Lalu di ada replika kupu – kupu raksasa yang menjadi pintu gerbang untuk masuk ke areal taman Nasional Bantimurung. Tapi kami tak langsung masuk karena saat itu kami merasa cukup lapar. Kami memutuskan mencari makan dulu. Karena kami berencana akan menghabiskan waktu seharian di dalam. Hari itu hari senin, bukan hari berlibur hingga tempat itu terlihat sepi pengunjung. Di tambah lagi cuaca yang tak bersahabat. Kami pikir akan agak sulit mencari makan di dalam. Setelah menyusuri jalan kami menemukan tempat makan yang sangat menarik. Coto kuda. Wah rasanya lumayan beda dengan yang biasa. Bahkan seorang teman tidak begitu suka. Karena aroma dagingnya memang agak aneh. Tapi bagi saya justru lebih enak. Hehehe,….

Setelah kenyang kami pun meluncur menuju lokasi. Sempat singgah sebentar melihat penangkaran kupu – kupu milik warga. Dan dari situ saya memperoleh informasi bahwa di dalam ada penangkaran milik pemerintah yang lebih besar. Sebelum kami ke lokasi utama. Kami memutuskan untuk singgah sebentar ke lokasi penangkaran kupu – kupu. Kami sempat masuk ke laboratorium tempat penelitian dan pengembak biakan kupu – kupu. Hanya ada tiga orang pekerja/peneliti di dalam. Kami meminta idzin untuk melihat – lihat. Hanya perlu mengisi buku tamu. Dan seorang peneliti dengan ramah menjelaskan siklus kehidupan atau proses metamorfosa kupu – kupu. Mulai dari telur – ulat – kepompong sampai kupu-kupu. Termasuk menunjukkan beberapa kandang tempat proses itu berlangsung. Disitu saya bisa melihat telur , lalu dikandang lain ada ulat dan kandang lainnya lagi ada kepompong. Disamping gedung laboratorium ada taman besar yang di beri jaring tempat kupu – kupu dewasa bermain. Tapi sayang entah kenapa , belum waktunya atau cuaca yang tidak bagus kami tak melihat seekor pun kupu-kupu menampakkan batang sayapnya. Sehingga saya hanya bisa memandangi ratusan jenis kupu – kupu yang telah diawetkan dan terpasang rapi di dinding.

Saya sempat sedih juga melihat nasib si kupu-kupu yang dijadikan mummi. Walau yang menarik ternyata proses pengawetannya sama sekali tidak menggunakan air keras atau zat kimia apapun. Kupu – kupu yang diawetkan cukup di bunuh di tusuk kepalanya dengan jarum lalu setelah mati di jemur hingga kering, sebelum di masukkan ke bingkai kaca. Konon cara ini lebih murah dan hasilnya lebih bagus. Walau agak kasihan, tapi saya pikir – pikir dengan diawetkan justru lebih baik bagi kupu – kupu. Karena eksistensinya menjadi lebih lama. Karena di berita saya lihat ternyata umur kupu – kupu dewasa hanya bertahan lima hari. Jadi pilih hidup yang bagimana untuk tuan kupu – kupu ?

Setelah puas melihat – lihat dan berphoto. Termasuk juga meminta petugas yang ada untuk berphoto bersama kami meninggalkan tempat itu.

Kami pun menuju lokasi gua dan air terjun.Tapi cuaca makin memburuk , hujan turun sangat deras sehingga kami terpaksa beteduh cukup lama di stand penjual cindera mata. Yang kebetulan kosong. Cukup lama saya bahkan sempat tertidur. Setelah hujan reda kami pun beranjak menuju loket pembelian karcis masuk. Ada dua harga, untuk wisatawan lokal sebesar, Rp 15.000,- sedang wisman sebesar, Rp 50.000,-.

Suasana benar – benar sepi didalam. Jumlah pengunjung bisa di hitung dengan jari. Tapi justru sebuah kebetulan bagi kami. Kami bisa mengeluarkan seluruh ekspresi dan hasrat narsis sepuas – puasnya. Tanpa harus menggangu dan terganggu oleh keberadaan orang lain.

Tujuan pertama kami adalah gua Bantimurung. Jaraknya 800 Meter dari lokasi utama air terjun. Melewati jalan beton setapak yang cukup menanjak menyusuri sungai. Saya belum pernah melihat gua secara langsung sebelumnya. Dan gua itu lumayan besar. Kami menyewa senter sekaligus menggunakan jasa guide yang menawarkan diri. Guide kami seorang bapak yang cukup berumur. Ia memandu kami menyusuri gua itu. Menunjukkan tempat – tempat yang menurutnya istimewa. Ada batu jodoh, yang katanya bila seorang ingin cepet dapat jodoh bisa mengalungkan tali di batu tersebut. Lalu ada tempat duduk batu yang katanya adalah tempat bertapa Karaeng batimurung. Ada juga mata air yang disebutnya bisa membuat awet muda dan membuat wajah jadi bersih. Bisa menghilangkan jerawat dan sebagainya.

Batu Jodoh .

Sekira dua jam kami ditempat itu. Setelah itu,………. Saatnya bermain air. Karena hari itu diwarnai turunnya hujan yang berkepanjangan. Bahkan saat itupun gerimis masih tetap turun. Membuat jeram air terjun menjadi sangat deras dan besar. Sangat sulit untuk mencari posisi mandi di bawah air terjun. Sebenarnya di daerah bawah ada tempat pemandian juga . Tapi bagi kami kurang seru, kami lalu berusaha mencari posisi yang memungkinkan untuk ditempati bermain air yang sedekat mungkin dengan air terjun. Bahkan seorang teman sempat terseret arus saat ti. Untung saja masih  bisa ngerem. Kalo tidak, saya pikir dia bisa mendapat cedera lumayan. Karena dibawah posisi kami diatas tebing ,walau tidak curam tapi jaraknya masih lebih 10 meter ke bawah.

Maen airrrrr,.......

Begaya dulu sebelum pulang , heheheheh

Saya menghabiskan waktu cukup lama di tempat itu. Jam empat sore kami pun berkemas untuk pulang. Tempat yang cukup menyenangkan juga berkesan bagi saya. Saat keluar kami singgah mencarai cendera mata untuk di bawa pulang. Dan karena Batimurung terkenal dengan kupu – kupu. Maka cendera mata yang ada tak jauh – jauh dari itu. Gantungan kunci berisi fosil kupu – kupu banyak sekali dan dijual bervariasi mulai harga lima ribuan. Ada juga fosil lain seperti kumbang dan kalajengking. Tentu saja harganya beda. Juga ada juga kumpulan bermacam – macam fosil kupu – kupu yang masukkan dalam bingkai.

Setelah puas melihat – lihat kami pun pulang. Walau ada beberapa hal yang agak mengganggu. Seperti harus membayar ongkos parkir dua kali. Dan harganya pun aneh, saya merasa seperti di peras oleh oknum – oknum itu. Tapi saya malas berdebat hingga menuruti saja mau mereka.

Jam lima sore saya beserta rombongan meninggalkan Bantimurung menuju Pare – Pare. Karena keesokan hari kami sudah harus balik ke kalimantan. Saya tiba di Pare – Pare sekira jam sembilan malam.

Selamat tinggal Makassar . Waktu dan lelah yang terkorban terasa sebanding dengan pengalaman yang saya dapatkan. Perjalanan ini benar – benar memuaskan. Bahkan saya dan teman – teman berencana akan melakukan nya lagi di kesempatan yang ada di masa depan. Walau rute perjalanan akan di ubah. Bila sebelumnya melewati daerah – daerah pesisir, maka nantinya melewati daerah pegunungan. Semoga saja rencana itu kesampaian.

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada April 9, 2012 in Aku Menulis, Catatan Harian

 

Road To Celebes : Meet Bloofers

Day Five (17 Maret 2012)

Kami bangun cukup awal minggu pagi itu. Karena saya dan teman lain punya banyak rencana hari itu. Dari saran paman teman saya tempat rekreasi yang cukup ramai dan terkenal di Makassar selain Pantai Losari adalah Wahana permainan Trans Studio. Dan kesanalah rencana kami hari itu.

Sekira pukul delapan pagi kami berangkat. Kami menggunakan sepeda motor sementara si paman menggunakan mobil memandu kami. Karena kami tidak tahu jalan. Kami tidak bergabung di mobil karena si paman hanya bisa bersama kami sampai jam tiga sore. Setelah itu beliau harus ke bandara menjemput istrinya yang baru pulang dari umroh. Sementra saya dan teman – teman berencana menghabiskan waktu sepuas – puasnya hari itu. Bahkan berencana pulang di malam hari.

Sebelum sampai di Trans studio kami di ajak singgah makan coto makassar . Tempatnya bernama Coto Nusantara. Ramai sekali disana, jumlah pengunjung tidak sebanding dengan kapasitas ruangan. Yang mau makan harus antri. Bahkan berjalan disela – sela mejapun cukup sulit. Konon coto disini memang terkenal, bahkan menjadi tujuan wisata kuliner dari luar daerah. Bahkan konon pernah masuk acara kuliner di TV swasta nasional. Juga kerap di datangi artis ibukota. Dan melihat jumlah pengunjung yang luar biasa sepertinya klaim itu memang benar.

Dari sana kami menuju trans studio. Wahana permainan ini disebut – sebut sempat menjadi wahana permainan indoor terbesar di Indonesia. Sampai kemudian wahana yang sama di bangun di Bandung. Masuk kesana saya merasa cukup antusias, maklum baru pertama. Dan selama di dalam hampir semua permainan yang diangga paling menantang saya coba. Hampir empat jam saya dan teman – teman menghabiskan waktu berputar – putar di tempat itu.

Serasa Di Eropa , hehehehhehh,....

Jam tiga sore seperti yang kami rencanakan, kami akan menuju Losari. Karena ada beberapa barang yang ingin kami beli disana. Beberapa peralatan camping , karena sepertinya  disini harganya lebih murah dan pilihan lebih banyak di banding di kalimantan. Sekaligus mencari oleh – oleh untuk dibaa pulang.

Sedang saya sendiri tentu saja berencana bertemu teman – teman Bloofers makassar. Apalagi janji yang dibuat melalui Fanspage Bloofers sudah deal. Teman – teman Bloofers Makassar sebenarnya akan mengadakan kopdar juga pada tanggal 21. Tapi tetap bersedia menghadiri kopdar dadakan ini. Setelah sempat inbox – an, saya dapat nomor HP Phuji lipi Astuty. Panggilannya disana Uty kalo gak saya gak salah terka. Kami menjanjikan bertemu jam lima sore. Dan dia berjajnji akan mengajak teman – teman Boofers Makassar yang lain.

Saya sampai di Losari jam setengah lima sore. Singgah makan sebentar lalu menuju lokasi sendiri. Kami berpisah karena teman saya yang lain menuju kota untuk hunting barang. Tepat jam lima belum ada tanda – tanda kemunculan Bloofers Makassar. Bahkan saat lewat setengah jam juga belum muncul. Sebelumnya saya sudah beberapa kali menelepon Phuji. Katanya sudah on the way. Beberapa kali juga kirim sms.

Dan akhirnya mereka datang juga, ketika jarum jam merapat diangka enam. Yang pertama menghampiri saya adalah Arya Poetra . Setelah berbagi sapa dan bersalaman.  Saat saya tanya teman yang lain , rupanya mereka berdiri tak jauh dari kami. Setelah saling berkenalan kami pun mengobrol. Walau saya agak susah untuk mengingat nama mereka satu – persatu karena perkenalan yang terlalu singkat. Tapi yang sempat saya ingat dari yang hadir antara lain, laki – lakinya Arya poetra, Muhaimin Tawwa , Ucank Nate (Nama – Nama yang cukup familiar di grup Bloofers) juga ada Gafur dan seorang lagi yang saya lupa namanya. Sedangkan wanitanya ada Phuji, Pipi, Cahya, zee nunu, Mirna Adriani, Rahmi or Nhami, Uswatun Hasanah Musa, Bunda fiqthiya beserta keluarga dan yang lain – lain. Satu yang agak disayangkan tak bisa hadir adalah Lathifah Ratih. Padahal sebelumnya sangat antusias. Bahkan berencana berangkat dari Sinjai hari itu (Saya sempat liat peta jarak Sinjai – makassar itu lumayan. Di Peta Bila Makassar ada di sisi kiri, Sinjai ada di sisi kanan).Namun karena ada musibah keluarga, jadi gak bisa datang. Tapi walau orangnya gak bisa hadir paling tidak suaranya sampai. Kami sempat bicara di telepon . begitu juga dengan ….. yang berdomisili di Palu, kami pun sempat berbincang di telepon.

Karena hari sudah maghrib pertemuan itu gak bisa lama. Setelah mengobrol lalu foto – foto. Beberapa bloofers ada yang harus cabut duluan, diantaranya si bunda. Saya lalu di ajak makan pisang epe’ . Yang merupakan makanan khas makassar. Walaupun di Pare – Pare saya sudah pernah rasain. Kami pun pergi sholat maghrib dulu. Setelah itu berkumpul kembali di tempat penjual pisang epe’. Dan melanjutkan ngobrol bersama teman bloofers.

Kesan yang saya dapat luar biasa. Saya merasa beruntung bergabung dengan grup Bloofers sehingga bisa mengenal mereka. Sebelumnya saya tidak terlalu berharap tapi menyangka akan jadi semeriah ini. Ajakan untuk kopdar dengan Bloofers makassar di grup awalnya hanya iseng – iseng. Siapa sangka ternyata mendapat sambutan positif. Mereka semua pribadi – pribadi yang ramah, terbuka dan sangat bersemangat. Sayang ada beberapa yang tak bisa gabung. Tapi untuk sebuah pertemuan dadakan acara ini sudah lebih dari cukup bagi saya. Pokoknya untuk Bloofers makassar “ You all the best” lah. Dan buat teman – teman Bloofers dari daerah lain yang kebetulan main ke makassar , gak ada salahnya untuk mencoba menghubungi mereka. Siapa tau bernasib baik seperti saya, heheheeh

Dan saya sendiri setelah bergabung di grup bloofers. Bila suatu hari berkunjung kedaerah yang lain , yang akan saya lakukan sepertinya menghubungi teman – teman bloofers setempat. Karena jumlah anggota Bloofers yang ribuan dan tersebar di seluruh nusantara. Saya pikir mereka ada disetiap daerah. Lagipula tak ada salahnya mencoba bukan ?

Pertemuan dengan teman Bloofers makassar saya anggap bonus terbesar dari perjalanan saya di pulau Sulawesi ini. Tapi tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat. Dan tiba saat untuk berpisah , sudah sekira jam sembilan saat itu. Karena ada beberapa teman yang rumahnya cukup jauh. Yaitu di maros sehingga harus pulang bila tidak ingin kemalaman di jalan. Kami pun berpisah dengan membawa kesan di hati masing – masing.

Sekali lagi Thank’s Bloofers Makassar atas keramahannya.

Saya kembali ke Losari karena teman saya menunggu disana. Setelah meninggalkan Losari saya dan yang lain singgah di benteng rotterdam . Disanalah saya mengahabiskan malam , minum kopi di warung emperan yang menjadikan trotoar sebagi tempat berjualan. Disana kami juga ada janji bertemu teman asal sedaerah yang kebetulan sedang berada di makassar.

Tengah malam kami kembali ke tempat kami menginap. Hari yang cukup padat dan melelahkan tapi juga memuaskan. Saya beristirahat karena besok sudah harus kembali. Tapi sebelumnya kami akan singgah di Batimurung Kabupaten Maros. Karena itu tempat yang di rekomendasikan oleh banyak orang untuk kami.

Bersambung .

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada April 5, 2012 in Aku Menulis, Catatan Harian

 

Tag: ,

Road To Celebes : Go To Makassar

Day Four (17 Maret 2012)

Akhirnya kami akan sampai pada tujuan utama dari perjalanan yang cukup panjang namun singkat ini. Yah,.. Kami akan ke Makassar yang sekaligus menjadi Rute akhir kami. Kenapa Makassar ? karena kalau ke Sulawesi selatan tidak ke makassar , apa kata dunia ? Makassar adalah trade mark dari Provinsi ini. Dan menjadi pusat atau mungkin jantung yang membuat denyut nadi provinsi ini berdenyut.

Saya beserta rombongan meninggalkan Pare – pare pada pukul dua siang. Jarak Pare – Pare menuju Makassar lumayan jauh. Sekira 200 KM , dan akan melewati beberapa kabupaten, diantaranya Barru, Pangkep dan Maros. Tapi istirahat yang cukup dan antusiasme yang tinggi membuat kami sangat bersemangat. Apalagi kesan terdalam biasanya ada di pengalaman pertama.

Cuaca cerah dan kondisi jalan yang bagus membuat perjalanan sangat lancar. Walau di beberapa tempat ada perbaikan tapi secara umum tidak mengganggu. Tempat pengisian bahan bakar atau SPBU juga ada disepanjang jalan. Jarak antara Pare – pare Makassar tidak terlalu jauh. Tidak sampai satu jam kami telah memasuki kabupaten tersebut. Tak banyak berbeda dengan kota  – kota lain yang saya lewati. Yang menarik saat kami melewati kota itu. Kami sempat melihat sekelompok mahasiswa yang melakukan demo. Saya tak tahu apa yang mereka sampaikan. Sepertinya soal BBM.Memang saat itu isu kenaikan BBM mulai berhembus. Tapi tentu saja kami tak tertarik.

Dan kota Barru kami sedikit dapat masalah. Karena berbelok kiri tanpa memperhatikan isyarat lampu. Karena kami pikir lampu merah hanya untuk yang mengambil arah lurus. Dan sialnya kami kepergok polisi. Saya bisa mendengar suara peluitnya yang meminta kami berhenti. Tapi kami justru memutar gas lebih kencang. Saya tak tahu apa kami dikejar, yang pasti setelah melaju cukup lama. Kelihatan aman saja.

Selepas Barru kami memasuki Kabupaten Pangkep. Perjalanan melewati Kabupaten ini terasa sangat panjang. Sepertinya lebih dari separuh jarak yang kami tempuh melewati kabupaten ini. Tapi hal yang membuat saya merasa salut adalah semua jalan yang kami lewati menggunakan dua jalur. Walau bila ada perbaikan jalur akan disatukan. Jalan pun relatif mendatar hampir tanpa tanjakan dan turunan. Satu hal yang menarik perhatian saya disini adalah deretan penjual buah markisa dan deretan penjual ikan bakar yang saya lihat dibeberapa tempat.

Kami memasuki pusat kota kabupaten Pangkep sekira jam tiga sore. Kota ini jauh lebih ramai dari kota Barru. Mungkin karena jaraknya yang lebih dekat dengan makassar. Atau juga mungkin karena kabupatennya yang lebih luas, sehingga pendapatan daerahnya lebih besar. Sehingga APBD sebagai modal pembangunan juga tinggi.

Memasuki kota perjalanan kami cukup terhambat. Satu hal yang agak ironis. Bila diluar kota hampir semua jalan bagus. Di pusat kota justru jalanannya cukup buruk. Dan beberapa tempat cukup sempit. Padahal kondisi lalu lintas dalam kota lebih ramai dan padat. Kondisi ini di perparah oleh keramaian kampanye pemilukada di jalan yang saya lewati. Waktu kami banyak terbuang di kota ini. Karena kami berjalan nyaris merayap.

Selepas Pangkep kami menuju di Maros. Jaraknya tidak terlalu saya pikir. Setiba di Maros sebenarnya bisa dibilang kami telah sampai Makassar. Karena kedua kota ini rasanya seperti bersambung saja. Mungkin Maros “jadi korban” perluasan kota Makassar. Karena kami sampai di kota ini sudah cukup senja. Rencana kami untuk singgah dulu di Batimurung di batalkan. Dan direncanakan ulang untuk singgah saat pulang dari Makassar. Lagipula saat itu kami belum tahu jalan menuju kesana.

Di Maros paman teman kami telah menunggu. Karena di rumahnya lah rencananya kami menginap selama tinggal di Makassar. Kami sampai dirumah beliau sekira jam enam sore. Beristirahat sejenak dan membersihkan diri.

Malam harinya dengan menggunakan mobil kami diajak oleh si paman menikmati kota Makassar di malam hari. Singgah sebentar Menikmati seafood di rumah makan tepi laut yang ada live musiknya. Lalu setelah itu kami menuju Pantai Losari. Karena malam itu malam minggu suasana cukup ramai . Padahal kami datang kesana hampir jam sepuluh.

Dan pada hari itu juga saya tergerak untuk menghubungi Bloofers makassar melalui Fanpage Facebook Bloofers. Dan hebatnya saya mendapat respon yang cukup positif. Akhirnya kami merencanakan akan melakukan kopdar di keesokan harinya . Tepatnya hari minggu.

Malam yang cukup melelahkan. Setelah perjalanan yang cukup jauh, lalu malamnya masih digunakan untuk jalan – jalan. Tak ada yang lebih saya butuhkan saat itu selain beristirahat. Apalagi esok hari saya bersama teman – teman sepertinya akan punya hari yang padat.

Bagaimana serunya Kopdar bersama teman – teman Bloofers makassar ? Karena artikel ini sudah terlalu panjang maka akan saya tulis lengkap di artikel selanjutnya.

Bersambung !

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 5, 2012 in Aku Menulis, Catatan Harian

 

Road To Celebes : Middle Of Celebes


Day three (16 Maret 2012)

Cuaca sangat cerah hari itu. Kondisi yang sangat ideal untuk melakukan perjalanan. Apalagi mengingat perjalanan saya kemarin yang hampir sepanjang jalan di guyur hujan. Perjalanan cukup jauh akan saya tempuh hari ini. Dari Majenne ke Pare – pare adalah perjalanan antar provinsi. Sulawesi Barat – Sulawesi Selatan. Kami akan melintasi beberapa kabupaten, karena posisi kami saat itu di malunda kami akan melewati Majenne – Polewali – Pinrang lalu Pare-Pare dengan jarak tempuh ± 200 – 250 KM.
Sekira jam sebelas saya beserta yang lain memulai perjalanan. Jalan disini tak terlalu lebar dan tidak begitu mulus tapi tidak juga jelek. Dibeberapa tempat banyak sekali perbaikan. Sejak daerah ini mengalami pemekaran menjadi provinsi sendiri , otomatis status jalan berubah menjadi jalan Provinsi. Sehingga sepertinya Pemda setempat menjadikan perbaikan jalan sebagai prioritas utama dalam pembangunan infrastruktur, sebagai urat nadi kehidupan sosial dan ekonomi daerah ini . Dimana – mana ada pelebaran jalan , pembangunan jembatan dan lain – lain. Tapi hal itu tak terlalu mengganggu perjalanan kami. Karena kondisi lalu lintas disini tak terlalu padat. Volume kendaraan di jalan bisa di bilang kecil hingga kami bisa melaju dengan nyaman. Dan satu hal yang saya acungi jempol adalah para pengguna jalan disini cukup taat lalu lintas. Berbeda sekali di tempat saya yang penuh dengan “setan jalanan”. Mungkin ini disebabkan volume kepemilikan kendaraan yang terbatas. Atau bisa juga, seperti menurut cerita bahwa polantas disini terkenal “ganas”.
Well . Saya menempuh jalur pesisir. Berbeda dengan medan jalan yang kami tempuh di hari sebelumnya yang berkelok – kelok dan turun naik. Kali ini jalan yang kami lewati relatif lurus dan rata. Sepanjang jalan kami ditemani panorama laut di sebelah kanan kami. Laut biru jernih berpasir putih , bagi saya pribadi semuanya terlihat indah. Ditempat saya ini semua pemandangan langka. Karena kebanyakan pantai di tempat saya adalah pantai berlumpur bukan berpasir. Di rute ini menjadi salah satu rute terbaik yang kami lewati. Sebenarnya beberapa kali saya ingin singgah untuk mengambil gambar. Tapi kami malas menghentikan kendaraan yang telah melaju cukup kencang . Juga bingung mau berhenti dimana. Karena semua terlihat sama, sama bagusnya. Akhirnya keindahan itu kebanyakan saya rekam di otak saja. Sekaligus berharap di depan kami akan menemui yang lebih keren. Apalagi jalan dalam satu rombongan seperti ini , saya tak bisa berhenti sesukanya.
Satu tempat yang cukup menarik perhatian saya diperjalanan adalah sebuah pulau kecil yang tampak terpisah dari daratan luas. Tapi tidak jauh dan ada jembatan kecil yang menghubung kesana. Orang disana bilang itu disebut Pulau Taimanu atau dapat diartikan Pulau Tai ayam. Mungkin karena bentuknya yang mirip dengan sebutannya. Tapi karena tak tahu apakah itu objek wisata atau bukan. Lagipula saya tak melihat jalan masuk kesana di pinggir jalan poros. Juga teman – teman yang lain terlihat cuek , akhirnya pulau itu terlewati begitu saja. Tapi yang pasti. Pulau itu terlihat keren. ( Iseng – iseng saya searching soal pulau itu di blog sebelah saya dapat gambar dan artikel tentang pulau ini ).

Tapi tak apalah pulau itu terlewat. Karena saya punya satu kalimat sakti. Seorang pengembara tidak pernah menyesali apa yang ditinggalkannya dan tak pernah cemas dengan apa yang akan ada didepannya. Dan setiap yang terlewat pasti ada penggantinya. Sekira setengah jam kemudian kesaktian kalimat itu terbukti. Tidak begitu jauh dari tempat itu. Saya melewati jalan dipinggir tebing yang langsung berbatasan dengan laut. Dan ada reruntuhan batu – batu raksasa di tebing sebelah kanan yang jatuh ke laut. Tanpa di komando kami semua berhenti ber-narsis ria dan mengambil gambar.

Setelah puas melampiaskan hasrat narsis, perjalanan pun berlanjut.
Kami memasuki kota Majenne. Yang pertama kami lakukan adalah singgah di POM bensin untuk mengisi bahan bakar. Tidak ada yang istimewa ditempat ini. Sama seperti tipikal kota – kota lain yang akan kami lewati selanjutnya. Deretan ruko di sepanjang jalan. Hingga tak ada hal menarik yang membuat kami merasa harus singgah. Perjalanan kami teruskan menuju Polewali Mandar. Perjalanan yang tak terasa karena jaraknya yang tidak begitu jauh. Di Polewali pun tipikal kotanya tak jauh berbeda dengan majenne. Cuma terlihat lebih ramai dengan ruko – ruko dan semacamnya. Satu – satunya hal yang menarik bagi saya adalah nama salah satu kota , yaitu Wonomulyo. Bagaimana bisa ada nama kota di jantung daerah Mandar berbahasa Jawa. Usut punya usut ternyata dulunya tempat ini adalah daerah transmigrasi yang diisi oleh transmigran asal Pulau Jawa. Kelihatannya mereka tergolong transmigran yang berhasil. Kota ini adalah buktinya.
Meninggalkan Polman kabupaten yang akan kami lewati selanjutnya adalah Pinrang. Diperjalanan kami tertarik untuk singgah di sebuah kios kecil yang berjualan buah Durian dan langsat. Harganya cukup murah . Durian berukuran cukup besar harganya 15.000. Karena malas membawa akhirnya kami memutuskan menyantapnya disitu. Dan sungguh tidak mengecewakan daging buahnya tebal dan manis. Bahkan si ibu yang berjualan sempat bilang “kalau tidak bagus tidak usah dibayar”. Beliau juga bilang , musim buah sudah lewat hingga harganya agak mahal. Karena beliau juga membeli sebelum menjual. Saat lagi musim si ibu menjual hasil dari kebun sendiri. Dan harganya hanya 5.000 sebutir. Luar biasa murah, di tempat saya durian seukuran ini harganya rata – rata 50.000.

Setelah selesai perjalanan ke Pinrang dilanjutkan. Di Pinrang kami berencana singgah di tempat keluarga teman saya. Sekira jam empat sore kami tiba disana. Disini kami disuguhi hidangan daging bebek atau mentok. Kebetulan tante teman saya beternak bebek. Selera makan kami luar biasa, apalagi si bebek di masak rica – rica super pedas. Yang lebih penting hidangan itu untuk kami semua, karena orang – orang di rumah itu tak ada yang makan bebek. Oh ,. Ya ! Yang menarik disini adalah ternyata anak si tante yang juga sepupu teman saya adalah seorang artis. Tapi tentu saja skala lokal di pare – pare. Apalagi kalau bukan penyanyi bugis . Namanya andhika Syaputra. Tapi kemungkinan pasti kalian tak kenal. Teman saya sendiri yang saya tanyain , emang lagunya apa ? Dia juga gak tau. Heheheheheh
Kami beristirahat disana . Mandi lalu cuci motor. Setelah sholat maghrib kami melanjutkan perjalanan ke Pare – Pare. Kami sempat diberi bebek dua ekor untuk di bawa ke pare – pare, ketempat yang akan kami rencanakan untuk menginap disana malam itu (Dirumah saudara si tante, yang juga merupakan tante yang lain dari teman saya) . Tapi tentu saja tak ada yang mau bawa. Tak sampai setengah jam kami tiba di Pare – Pare.
Karena disini kami hanya semalam. Dan besok berencana melanjutkan perjalanan ke makassar. Malam itu kami gunakan sebaik – baiknya. Dan tempat yang kami tuju malam itu adalah pasar senggol. Menikmati secangkir Sarabba’ di temani Pisang epe’. Suasana cukup ramai , banyak stand – stand yang entah berjualan apa. Yang jelas makanan atau mungkin minuman. Uniknya stand itu beberapa di lengkapi proyektor dan layar raksasa. Tempat yang kami tongkrongi itu tepat di pinggir laut dekat daerah pelabuhan. Kata teman saya pada minggu subuh sampai pagi tempat ini jadi tempat pemandian raksasa. Tempat ratusan bahkan mungkin ribuan orang mandi bareng.Dan menjadi salah keunikan kota Pare – Pare. Saya sebenarnya penasaran ingin melihat, tapi sayang besok hari sabtu rencana kami adalah melanjutkan perjalanan ke makassar. Dan bermalam minggu di kota makassar. Hingga keinginan itu hanya tertinggal sebagai rasa penasaran.
Saya tidur nyenyak malam itu. Perjalanan hari itu cukup melelahkan. Tapi di sisi lain cukup memuaskan.
Perjalanan saya selanjutnya adalah menuju ke Jantung Provinsi Sulawesi Selatan. Dimana disana saya merasa beruntung bisa bersentuhan dengan keramahan Bloofers di Kota Daeng.
Makassar , here I Come !
Bersambung !

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 30, 2012 in Aku Menulis, Catatan Harian

 

Road To Celebes : Sambabo Waterfalls

Day two (15 Maret 2012)

Kota Mamuju di guyur hujan saat kapal Ferry yang membawa kami tiba disana pukul  4 sore. Molor hampir 8 jam dari waktu normal. Karena kondisi laut yang sangat buruk. Tapi tak apalah , seperti kata salah seorang teman saya “ yang penting sampai dengan selamat dulu “. Soal lain bisa diatur kembali.

Sebelumnya saya sudah pernah menginjak kota ini. Tapi tak ada memori yang tersisa karena saat itu sudah lewat terlalu lama. Lagipula sama seperti saat ini , dulu pun di Mamuju ini saya hanya singgah sebentar seperti transit saja untuk tujuan selanjutnya. Karena menginap di Mamuju tidak ada dalam rencana kami, maka sore itu kami bermaksud melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Majenne.

Keluar dari pelabuhan . Seperti biasa kami harus melapor di pos polisi terdekat sembari menunjukkan surat jalan kami pada polisi disini. Surat jalan di stempel dan seperti yang kami sudah duga “pungli lagi”. Jam menunjukkan pukul ± 05.00 ketika kami menunggalkan kota Mamuju. Jarak menuju Majenne hampir 100 KM. Tapi kami akan singgah dulu di sebuah kecamatan bernama Malunda yang masuk wilayah Majenne. Dan jaraknya hanya ±60 KM dari Mamuju. Disanalah tempat menginap pertama yang kami rencanakan.

Jalan yang saya lewati luar biasa. Ada anekdot yang mengatakan “Mamuju adalah singkatan dari Maju mundur jurang”. Dan anekdot itu cukup mewakili kondisi jalan yang saya lewati. Medan jalannya lumayan terjal dan berkelok – kelok juga sempit. Apalagi kondisi cuaca yang tak terlalu bagus. Sepanjang jalan kami di guyur hujan gerimis. Untunglah kami membawa jas hujan sehingga sedikit meolong keadaan. Tapi satu hal yang juga cukup membantu adalah aspalnya lumayan bagus. Walau ada beberapa yang rusak, tapi secara umum cukup baik.

Tapi karena itu adalah jalan poros provinsi penghubung antar provinsi maka kami cukup banyak menemui truk besar lalu lalang dan tentu saja mobil – mobil lain. Karena jalan tidak begitu lebar saya harus ekstra hati – hati. Padahal saat itu gelap sudah mulai turun dan hujan belum ada tanda akan berhenti. Dan kami berpacu dengan waktu karena kemalaman di jalan bukanlah salah satu opsi. Saya memacu kendaraan dalam keadaan lapar dan kedinginan. Walau begitu saya tetap menikmati perjalanan , karena jalur yang saya lewati cukup menantang dan kondisi alam yang sangat berbeda dengan tempat asal saya. Hutan dan bukit yang saya lewati cukup membuat mata terhibur. Secara umum ini perjalanan yang cukup menarik.

Saya beserta teman – teman sampai di Malunda ketika hari sudah cukup gelap. Jam setengah 7 malam. Dan yang kami pikirkan saat itu adalah tempat menginap. Di malunda tempat yang kami datangi adalah sebuah desa bernama Sambabo. Sebuah desa yang melekat cukup kuat di benakku. Karena disitulah satu – satunya tempat di Sulawesi yang pernah masuk dalam daftar perjalanan hidup saya. Saya pernah tinggal disini walau tidak terlalu lama ± 6 bulan. Disini saya punya cukup banyak teman tapi masalahnya saya meninggalkan tempat ini sudah sangat lama ± 10 tahunan. Dan saya sedikit berjudi , apakah orang – orang yang saya kenal disana masih mengenal saya ? Terus terang saya tak punya satu pun keluarga disini. Jadi sejak saya meninggalkan tempat ini dulu, sampai sekarang komunikasi hampir – hampir terputus. Tapi satu hal yang membuat saya optimis adalah dulu waktu saya tinggal disini , orang – orang disini semuanya sudah seperti keluarga semua.

BismiLLah,.. sembari mengingat – mengingat yang pertama saya lakukan adalah mencari tempat bertanya. Dan berhasil saya hanya perlu bertanya sekali. Karena nama yang saya tanyakan ternyata ada. Akhirnya aku mendatangi rumah yang di tunjuk. Rumah milik seorang yang dulu bisa dibilang telah menjadi kakak angkatku. Namanya Abdullah, saya biasa memanggilnya Kak Ullah. Pertama bertemu dia agak terperangah setengah kurang percaya. Kalimat pertama yang meluncur dari mulutku setelah mengucap salam adalah “ kakak masih ingat saya gak ?” Dia menjawab “ kenapa tidak , kamu Pidi kan !” . Aku sangat terharu dan tanpa tersadar kami berpelukan.

Malam itu kami beristirahat di rumah Kak Ullah. Dan kami bercerita cukup banyak tentang keadaan tempat ini serta perubahan – perubahan yang terjadi. Sekaligus saya gunakan untuk mencari informasi sebanyak mungkin soal kabar teman – teman yang masih saya ingat namanya. Oh ,. Ya … rumahnya Kak Ullah ini tepat dipinggir jalan poros. Tempatnya bernama Salu Tambung. Dulunya adalah salah satu dusun dari desa Sambabo , tapi sekarang statusnya telah menjadi desa. Dan terpisah dari Desa Sambabo. Pusat Desa Sambabo sendiri berjarak ± 5 KM dari situ. Terletak didataran yang cukup tinggi.

Karena waktu yang sempit sementara besok saya harus sudah harus berangkat. Malam itu saya gunakan untuk berkunjung ke rumah teman – teman terdekat. Karena ternyata cukup banyak juga teman yang tinggal tidak jauh dari rumah Kak Ullah. Dan sebuah kebetulan yang tak dinyana , tak jauh didepan rumah kak Ullah diseberang jalan tinggal salah satu teman terakrab saya dulu. Namanya Ratna , sekarang dia juga tinggal di Salu Tambung. Dulunya waktu saya disini . kami semua masih tinggal diatas di Sambabo.

Karena dia membuka toko , maka saya pura – pura membeli sesuatu. Sekaligus ingin memastikan seperti apa dia sekarang. Tidak banyak yang berubah darinya selain bahwa dia sekarang memakai jilbab. Saat pertama bertemu seperti dia sudah lupa. Walau dari tatapannya saya bisa melihat ada rasa penasaran. “ Kamu Ratna kan ?”. Dia kelihatan tertegun. “ wah ,.. saya sudah dilupa ternyata . saya Pidi .” Dan dia pun setengah histeris sembari memukul pundak saya. Kami pun bercerita , dia bilang waktu lihat pertama. Dia sudah agak bingung, karena merasa mengenal tapi dia tidak yakin.

Dan kalimat standar pertama yang dia tanyakan adalah “kamu sudah kawin belum ?”. “ Belum “ jawabku. Di tertawa “ cepat – cepatlah kamu kawin , sebentar lagi kamu kadaluwarsa itu. Aku ni dah dua kali kawin”. Wah,.. dia tak berubah sama sekali. Tetap ceplas – ceplos seperti dulu. Dan juga perhatian seperti yang dulu – dulu.Dia menanyakan aku menginap dimana trus sudah makan apa belum. Dia menyuruh saya memanggil teman – teman (yang saat itu tertinggal dirumah Kak Ullah) yang lain untuk kerumahnya. Karena sepertinya dia melihat tampang kelaparan diwajahku. Tapi karena saya memang sudah makan di warung saat pertama datang di Salu Tambung ini. Maka saya menolak.

Lagipula yang terpenting bagiku malam itu adalah dapat tempat menginap. Kami cukup kelelahan.

Kami bangun pagi dengan perasaan segar. Kopi dan beberapa panganan telah menanti kami. Kopi disini adalah minuman standar . Terutama di Sambabo yang akan saya datangi sebentar lagi. Mungkin karena disana suhunya cukup dingin maka kopi jadi penghangat yang pas. Dan kopinya nikmat, tak kalah dengan kopi Toraja yang terkenal itu. Dulu waktu saya tinggal disini, teh menjadi minuman langka. Bukan karena tidak ada tapi karena tidak ladzim. Kopi disini hasil tanaman sendiri.

Setelah sarapan kami bergegas ke tempat tujuan utama yaitu Desa Sambabo. Kami berencana mandi disana. Karena disana ada air terjun yang bisa jadi salah satu yang terindah di Sulawesi. Sayang tak terjamah hingga tak terpublikasi. Hanya ± 20 menit waktu tempuh dari Salu Tambung dan jalan poros Mamuju – Majenne. Dan disanalah tempat saya banyak menghabiskan waktu , saat dulu tinggal disini.

At sambabo

Kehebohan sedikit terjadi setibanya kami disana. Tempat ini agak jarang didatangi orang asing. Apalagi sepagi ini. Belum lagi penampilan kami yang agak berbeda. Kami langsung menuju sungai dan acara mandi pagi orang – orang pun buyar. Mereka semua agak sedikit bingung dan heran dengan kehadiran kami disana. Yang begitu tiba jepret sana – jepret sini dengan kamera. Al hasil sebagian besar mengurungkan niat mandi dan yang lain – lain. Atau mempercepatnya. Disini sungai masih dijadikan sarana MCK oleh sebagian besar warganya, karena jaraknya memang tak jauh dari pemukiman.

Sungainya berbatu dan sungguh indah. Disini ada air terjun beringkat tiga dan tingkat terbawah memiliki ketinggian yang cukup luar biasa. Saya tak tahu pastinya tapi perkiraan saya bisa mencapai 25 – 30 meter. Sebuah ukuran yang luar biasa. Bisa tiga kali lipat ketinggian air terjun di Batimurung. Walau dari segi debit air Batimurung jauh lebih hebat. Tapi soal bentuk disini jauh lebih artistik. Bila di Batimurung bentuk aliran air terjunnya sedikit diagonal, disini betul – betul vertikal. Dan sangat bisa di bilang “waterfall atau air jatuh”.Sayang kami hanya bisa mengeksplorasi dua tingkatan. Karena posisi kami diatas air terjun . untuk melihat tingkatan terbawah dan tertinggi kami harus turun kebawah lembah. Dan itu harus menempuh jalan berputar yang cukup jauh. Kami terlalu malas untuk melakukannya. Apalagi yang ada ini juga sudah cukup indah. Tapi menjadi kurang afdol karena tingkat tertinggi itu tidak terabadikan oleh kamera kami.

Slow Speed mode

Slow Speed mode

Yang agak patut disayangkan adalah bahwa tempat seindah ini tidak terpublikasi sehingga menjadi surga yang teraniaya. Karena keindahan yang terbentuk oleh susunan batu – batu menjadi rangkaian indah hanya jadi tempat membuang hajat. Alias menjadi WC alam raksasa bagi warga sekitar. Dulu waktu tinggal disini , saya sudah pernah menyusuri sungai ini . Termasuk pernah melihat tingkat terbawah sekaligus tetinggi dari air terjun ini. Saat menyusuri sungai ini dulu, juga rasa takjub tak henti – henti terpancar dari hati saya. Keindahan susunan bebatuan di setiap tempat dengan formasi yang bermacam – macam. Dan Sebagian besar sungai berada di jepitan tebing yang curam di kedua sisinya.

Andai saja ada tempat seperti ini di kalimantan. Saya yakin ia akan menjadi keajaiban. Dan menjadi tempat wisata terbaik. Kalau saja bisa. Dan saat pulang kami masih disuguhi hamparan laut dari ketinggian. Karena memang Sambabo berada di dataran tinggi ( saat kesini kami mendaki sepanjang jalan). Tapi tak jauh dari laut. Hingga keluar dari desa itu laut akan langsung terpampang di depan. Dan menatap dari ketinggian , sungguh sangat indah. Walau agak sulit mencari anggel kamera yang tepat karena terhalang pepohonan.

Nice View

Nice View

Well. Disana saya bertemu teman – teman yang sebagian besar masih mengingat saya. Walau ada juga yang dalam kondisi ingat – ingat lupa. Dirumah salah seorang teman disana saya menghabiskan waktu cukup lama disana. Ngobrol menggali kenangan lama. Oh,.. ya . Disini saya dipanggil Pidi. Mereka bahkan tak banyak yang tahu nama asli saya. Nama Pidi adalah nama yang mereka berikan pada saya. Yang awalnya adalah semacam ejekan. Saya punya bawaan lahir yaitu mata saya mudah sekali berkedip. Mungkin bisa 2 – 3 kali orang normal. Nah berkedip dalam bahasa disana adalah “kapidi – pidi”. Karena awal bertemu dulu mereka tak tahu nama saya. Akhirnya oleh mereka dipanggil kapidi – pidi. Seiring waktu yang tertinggal hanya Pidi. Dan menjadi nama resmi saya.

Sebenarnya saya ingin sekali tinggal lebih lama disini. Bahkan ingin rasanya waktu seminggu yang saya punya, saya habiskan disini. Apalagi teman – teman disini setengah memaksa agar saya tinggal saja. Tapi saya gak mau bikin rombongan saya ngamuk. Apalagi kami hanya rombongan kecil. Bila hilang satu akan terasa sekali dampaknya. Lagipula kami semua bisa dibilang buta tentang Sulawesi. Dan modal utama kami adalah berani dan nekat. Jadi “stay in group” sangat penting.

Siang hari setelah berpamitan dengan orang – orang disini kami melanjutkan perjalanan. Dan jarak yang ditempuh cukup jauh ± 300 KM. Dan melintas antar provinsi. Sulawesi Barat – Sulawesi Selatan.

Tujuan kami selanjutnya Pare – Pare. Salah satu kota tersibuk di Sulawesi selatan. Dan di perjalanan ini lah kami banyak belajar tentang kondisi sosial masyarakat Sulawesi secara umum. Juga ada tips – tips bagi yang suatu saat tertarik menyusuri rute kami.

Bersambung !

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 27, 2012 in Aku Menulis, Catatan Harian

 

Tag: , , ,