RSS

R.A Kartini Dan Islam


R.A Kartini adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia yang paling terkenal. Karena beliau satu dari sedikit wanita yang turut serta terlibat dalam sejarah perjuangan bangsa. walau dalam bidang yang berbeda. Bulan ini adalah bulan kelahiran beliau. Tanggal 21 menjadi hari lahir sekaligus libur nasional untuk mengenang jasa – jasa beliau.

Ada satu hal menarik yang ingin saya share . Kartini dikenal sebagai tokoh emansipasi dan menjadi rujukan bagi kaum Feminis untuk menuntut persamaan hak dalam segala bidang dengan kaum laki – laki. Yang kadang di istilahkan dengan “kesetaraan gender”. Apakah salah ? Tentu saja tidak.

Dalam Islam, di hadapan tuhan sebagai hamba tidak ada perbedaan antara laki – laki dan perempuan. Walaupun tidak juga bisa disamakan secara “apple to apple”. Karena secara fitrah laki – laki memang tidak sama dengan perempuan. Mulai faktor biologis sampai psikologis mereka jelas berbeda. Hingga kadang apa yang dituntut oleh kaum feminis kadang terasa berlebihan

Hingga sepak terjang kaum feminis kadang terasa bertentangan dengan nilai – nilai Islam. Bahkan tak jarang terkesan melecehkan pandangan – pandangan Islam. Diawah ini ada artikel menarik yang sangat sayang untuk tidak di share. Saya kutip dari Republika.co.id . Sebenarnya awalnya blog saya ini hanya akan saya isi dengan tulisan pribadi dan beberapa tulisan teman. Tapi artikel ini terlalu bagus untuk tidak di bagi. selengkapnya dibawah ini :

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Teguh Setiawan/Wartawan Senior Republika

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis;

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca.

Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.

Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.

Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.

Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.

Namun, Kartini tidak menceritakan pertemuannya dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang — lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat. Adalah Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, yang menuliskan kisah ini.

Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.

Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.

Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.

“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.

Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia.

Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, karena Kyai Sholeh meninggal dunia.

Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.

Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.

Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.

Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis; Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.

Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.
Redaktur: Heri Ruslan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 2, 2012 in Berita

 

Di Hati ibu

Oleh Coffee Paid pada 11 Maret 2012

Ibu tidak sedang bicara denganmu, sayang.
Ibu sedang bicara pada diri sendiri.

“bulan itu ada dimana?”
tentu saja,
di hati ibu.

Sebelum kau lahir,
ibu slalu menaruhnya
di ingatanmu.
Lewat petikan senar gitar yang lembut
dan
kalimatkalimat lirih ..
Setiap saat
mendoakanmu “smoga kau bahagia sepanjang usiamu”

jika hitam adalah langit ibu,
hujan adalah tangisan,
keduanya tidak akan pernah menyakitimu.
Slalu ada awan putih
berbentuk mawar
disana.

Kepahitan akan musnah oleh harapan…
Kembangkanlah
hatimu
dan hati ibu,
akan berkembang indah seperti milikmu.

Ibu tidak sedang menarik tanganmu.
Ibu sedang menuntunmu.

“cinta itu ada dimana?”
tentu saja di hati ibu.

Sebelum kau lahir
hingga kau tumbuh besar,
ibu slalu bilang pada Tuhan,
jika di panjangkan usia ini,
ibu mau hati yang sama seperti yang ibu miliki sekarang…

Mendoakanmu,
menuntunmu,
mengasihimu.

Sumber : Fitri Eiya , One of my favorite Friend.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada April 2, 2012 in Catatan Teman, Puisi

 

Road To Celebes : Middle Of Celebes


Day three (16 Maret 2012)

Cuaca sangat cerah hari itu. Kondisi yang sangat ideal untuk melakukan perjalanan. Apalagi mengingat perjalanan saya kemarin yang hampir sepanjang jalan di guyur hujan. Perjalanan cukup jauh akan saya tempuh hari ini. Dari Majenne ke Pare – pare adalah perjalanan antar provinsi. Sulawesi Barat – Sulawesi Selatan. Kami akan melintasi beberapa kabupaten, karena posisi kami saat itu di malunda kami akan melewati Majenne – Polewali – Pinrang lalu Pare-Pare dengan jarak tempuh ± 200 – 250 KM.
Sekira jam sebelas saya beserta yang lain memulai perjalanan. Jalan disini tak terlalu lebar dan tidak begitu mulus tapi tidak juga jelek. Dibeberapa tempat banyak sekali perbaikan. Sejak daerah ini mengalami pemekaran menjadi provinsi sendiri , otomatis status jalan berubah menjadi jalan Provinsi. Sehingga sepertinya Pemda setempat menjadikan perbaikan jalan sebagai prioritas utama dalam pembangunan infrastruktur, sebagai urat nadi kehidupan sosial dan ekonomi daerah ini . Dimana – mana ada pelebaran jalan , pembangunan jembatan dan lain – lain. Tapi hal itu tak terlalu mengganggu perjalanan kami. Karena kondisi lalu lintas disini tak terlalu padat. Volume kendaraan di jalan bisa di bilang kecil hingga kami bisa melaju dengan nyaman. Dan satu hal yang saya acungi jempol adalah para pengguna jalan disini cukup taat lalu lintas. Berbeda sekali di tempat saya yang penuh dengan “setan jalanan”. Mungkin ini disebabkan volume kepemilikan kendaraan yang terbatas. Atau bisa juga, seperti menurut cerita bahwa polantas disini terkenal “ganas”.
Well . Saya menempuh jalur pesisir. Berbeda dengan medan jalan yang kami tempuh di hari sebelumnya yang berkelok – kelok dan turun naik. Kali ini jalan yang kami lewati relatif lurus dan rata. Sepanjang jalan kami ditemani panorama laut di sebelah kanan kami. Laut biru jernih berpasir putih , bagi saya pribadi semuanya terlihat indah. Ditempat saya ini semua pemandangan langka. Karena kebanyakan pantai di tempat saya adalah pantai berlumpur bukan berpasir. Di rute ini menjadi salah satu rute terbaik yang kami lewati. Sebenarnya beberapa kali saya ingin singgah untuk mengambil gambar. Tapi kami malas menghentikan kendaraan yang telah melaju cukup kencang . Juga bingung mau berhenti dimana. Karena semua terlihat sama, sama bagusnya. Akhirnya keindahan itu kebanyakan saya rekam di otak saja. Sekaligus berharap di depan kami akan menemui yang lebih keren. Apalagi jalan dalam satu rombongan seperti ini , saya tak bisa berhenti sesukanya.
Satu tempat yang cukup menarik perhatian saya diperjalanan adalah sebuah pulau kecil yang tampak terpisah dari daratan luas. Tapi tidak jauh dan ada jembatan kecil yang menghubung kesana. Orang disana bilang itu disebut Pulau Taimanu atau dapat diartikan Pulau Tai ayam. Mungkin karena bentuknya yang mirip dengan sebutannya. Tapi karena tak tahu apakah itu objek wisata atau bukan. Lagipula saya tak melihat jalan masuk kesana di pinggir jalan poros. Juga teman – teman yang lain terlihat cuek , akhirnya pulau itu terlewati begitu saja. Tapi yang pasti. Pulau itu terlihat keren. ( Iseng – iseng saya searching soal pulau itu di blog sebelah saya dapat gambar dan artikel tentang pulau ini ).

Tapi tak apalah pulau itu terlewat. Karena saya punya satu kalimat sakti. Seorang pengembara tidak pernah menyesali apa yang ditinggalkannya dan tak pernah cemas dengan apa yang akan ada didepannya. Dan setiap yang terlewat pasti ada penggantinya. Sekira setengah jam kemudian kesaktian kalimat itu terbukti. Tidak begitu jauh dari tempat itu. Saya melewati jalan dipinggir tebing yang langsung berbatasan dengan laut. Dan ada reruntuhan batu – batu raksasa di tebing sebelah kanan yang jatuh ke laut. Tanpa di komando kami semua berhenti ber-narsis ria dan mengambil gambar.

Setelah puas melampiaskan hasrat narsis, perjalanan pun berlanjut.
Kami memasuki kota Majenne. Yang pertama kami lakukan adalah singgah di POM bensin untuk mengisi bahan bakar. Tidak ada yang istimewa ditempat ini. Sama seperti tipikal kota – kota lain yang akan kami lewati selanjutnya. Deretan ruko di sepanjang jalan. Hingga tak ada hal menarik yang membuat kami merasa harus singgah. Perjalanan kami teruskan menuju Polewali Mandar. Perjalanan yang tak terasa karena jaraknya yang tidak begitu jauh. Di Polewali pun tipikal kotanya tak jauh berbeda dengan majenne. Cuma terlihat lebih ramai dengan ruko – ruko dan semacamnya. Satu – satunya hal yang menarik bagi saya adalah nama salah satu kota , yaitu Wonomulyo. Bagaimana bisa ada nama kota di jantung daerah Mandar berbahasa Jawa. Usut punya usut ternyata dulunya tempat ini adalah daerah transmigrasi yang diisi oleh transmigran asal Pulau Jawa. Kelihatannya mereka tergolong transmigran yang berhasil. Kota ini adalah buktinya.
Meninggalkan Polman kabupaten yang akan kami lewati selanjutnya adalah Pinrang. Diperjalanan kami tertarik untuk singgah di sebuah kios kecil yang berjualan buah Durian dan langsat. Harganya cukup murah . Durian berukuran cukup besar harganya 15.000. Karena malas membawa akhirnya kami memutuskan menyantapnya disitu. Dan sungguh tidak mengecewakan daging buahnya tebal dan manis. Bahkan si ibu yang berjualan sempat bilang “kalau tidak bagus tidak usah dibayar”. Beliau juga bilang , musim buah sudah lewat hingga harganya agak mahal. Karena beliau juga membeli sebelum menjual. Saat lagi musim si ibu menjual hasil dari kebun sendiri. Dan harganya hanya 5.000 sebutir. Luar biasa murah, di tempat saya durian seukuran ini harganya rata – rata 50.000.

Setelah selesai perjalanan ke Pinrang dilanjutkan. Di Pinrang kami berencana singgah di tempat keluarga teman saya. Sekira jam empat sore kami tiba disana. Disini kami disuguhi hidangan daging bebek atau mentok. Kebetulan tante teman saya beternak bebek. Selera makan kami luar biasa, apalagi si bebek di masak rica – rica super pedas. Yang lebih penting hidangan itu untuk kami semua, karena orang – orang di rumah itu tak ada yang makan bebek. Oh ,. Ya ! Yang menarik disini adalah ternyata anak si tante yang juga sepupu teman saya adalah seorang artis. Tapi tentu saja skala lokal di pare – pare. Apalagi kalau bukan penyanyi bugis . Namanya andhika Syaputra. Tapi kemungkinan pasti kalian tak kenal. Teman saya sendiri yang saya tanyain , emang lagunya apa ? Dia juga gak tau. Heheheheheh
Kami beristirahat disana . Mandi lalu cuci motor. Setelah sholat maghrib kami melanjutkan perjalanan ke Pare – Pare. Kami sempat diberi bebek dua ekor untuk di bawa ke pare – pare, ketempat yang akan kami rencanakan untuk menginap disana malam itu (Dirumah saudara si tante, yang juga merupakan tante yang lain dari teman saya) . Tapi tentu saja tak ada yang mau bawa. Tak sampai setengah jam kami tiba di Pare – Pare.
Karena disini kami hanya semalam. Dan besok berencana melanjutkan perjalanan ke makassar. Malam itu kami gunakan sebaik – baiknya. Dan tempat yang kami tuju malam itu adalah pasar senggol. Menikmati secangkir Sarabba’ di temani Pisang epe’. Suasana cukup ramai , banyak stand – stand yang entah berjualan apa. Yang jelas makanan atau mungkin minuman. Uniknya stand itu beberapa di lengkapi proyektor dan layar raksasa. Tempat yang kami tongkrongi itu tepat di pinggir laut dekat daerah pelabuhan. Kata teman saya pada minggu subuh sampai pagi tempat ini jadi tempat pemandian raksasa. Tempat ratusan bahkan mungkin ribuan orang mandi bareng.Dan menjadi salah keunikan kota Pare – Pare. Saya sebenarnya penasaran ingin melihat, tapi sayang besok hari sabtu rencana kami adalah melanjutkan perjalanan ke makassar. Dan bermalam minggu di kota makassar. Hingga keinginan itu hanya tertinggal sebagai rasa penasaran.
Saya tidur nyenyak malam itu. Perjalanan hari itu cukup melelahkan. Tapi di sisi lain cukup memuaskan.
Perjalanan saya selanjutnya adalah menuju ke Jantung Provinsi Sulawesi Selatan. Dimana disana saya merasa beruntung bisa bersentuhan dengan keramahan Bloofers di Kota Daeng.
Makassar , here I Come !
Bersambung !

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 30, 2012 in Aku Menulis, Catatan Harian

 

Road To Celebes : Sambabo Waterfalls

Day two (15 Maret 2012)

Kota Mamuju di guyur hujan saat kapal Ferry yang membawa kami tiba disana pukul  4 sore. Molor hampir 8 jam dari waktu normal. Karena kondisi laut yang sangat buruk. Tapi tak apalah , seperti kata salah seorang teman saya “ yang penting sampai dengan selamat dulu “. Soal lain bisa diatur kembali.

Sebelumnya saya sudah pernah menginjak kota ini. Tapi tak ada memori yang tersisa karena saat itu sudah lewat terlalu lama. Lagipula sama seperti saat ini , dulu pun di Mamuju ini saya hanya singgah sebentar seperti transit saja untuk tujuan selanjutnya. Karena menginap di Mamuju tidak ada dalam rencana kami, maka sore itu kami bermaksud melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Majenne.

Keluar dari pelabuhan . Seperti biasa kami harus melapor di pos polisi terdekat sembari menunjukkan surat jalan kami pada polisi disini. Surat jalan di stempel dan seperti yang kami sudah duga “pungli lagi”. Jam menunjukkan pukul ± 05.00 ketika kami menunggalkan kota Mamuju. Jarak menuju Majenne hampir 100 KM. Tapi kami akan singgah dulu di sebuah kecamatan bernama Malunda yang masuk wilayah Majenne. Dan jaraknya hanya ±60 KM dari Mamuju. Disanalah tempat menginap pertama yang kami rencanakan.

Jalan yang saya lewati luar biasa. Ada anekdot yang mengatakan “Mamuju adalah singkatan dari Maju mundur jurang”. Dan anekdot itu cukup mewakili kondisi jalan yang saya lewati. Medan jalannya lumayan terjal dan berkelok – kelok juga sempit. Apalagi kondisi cuaca yang tak terlalu bagus. Sepanjang jalan kami di guyur hujan gerimis. Untunglah kami membawa jas hujan sehingga sedikit meolong keadaan. Tapi satu hal yang juga cukup membantu adalah aspalnya lumayan bagus. Walau ada beberapa yang rusak, tapi secara umum cukup baik.

Tapi karena itu adalah jalan poros provinsi penghubung antar provinsi maka kami cukup banyak menemui truk besar lalu lalang dan tentu saja mobil – mobil lain. Karena jalan tidak begitu lebar saya harus ekstra hati – hati. Padahal saat itu gelap sudah mulai turun dan hujan belum ada tanda akan berhenti. Dan kami berpacu dengan waktu karena kemalaman di jalan bukanlah salah satu opsi. Saya memacu kendaraan dalam keadaan lapar dan kedinginan. Walau begitu saya tetap menikmati perjalanan , karena jalur yang saya lewati cukup menantang dan kondisi alam yang sangat berbeda dengan tempat asal saya. Hutan dan bukit yang saya lewati cukup membuat mata terhibur. Secara umum ini perjalanan yang cukup menarik.

Saya beserta teman – teman sampai di Malunda ketika hari sudah cukup gelap. Jam setengah 7 malam. Dan yang kami pikirkan saat itu adalah tempat menginap. Di malunda tempat yang kami datangi adalah sebuah desa bernama Sambabo. Sebuah desa yang melekat cukup kuat di benakku. Karena disitulah satu – satunya tempat di Sulawesi yang pernah masuk dalam daftar perjalanan hidup saya. Saya pernah tinggal disini walau tidak terlalu lama ± 6 bulan. Disini saya punya cukup banyak teman tapi masalahnya saya meninggalkan tempat ini sudah sangat lama ± 10 tahunan. Dan saya sedikit berjudi , apakah orang – orang yang saya kenal disana masih mengenal saya ? Terus terang saya tak punya satu pun keluarga disini. Jadi sejak saya meninggalkan tempat ini dulu, sampai sekarang komunikasi hampir – hampir terputus. Tapi satu hal yang membuat saya optimis adalah dulu waktu saya tinggal disini , orang – orang disini semuanya sudah seperti keluarga semua.

BismiLLah,.. sembari mengingat – mengingat yang pertama saya lakukan adalah mencari tempat bertanya. Dan berhasil saya hanya perlu bertanya sekali. Karena nama yang saya tanyakan ternyata ada. Akhirnya aku mendatangi rumah yang di tunjuk. Rumah milik seorang yang dulu bisa dibilang telah menjadi kakak angkatku. Namanya Abdullah, saya biasa memanggilnya Kak Ullah. Pertama bertemu dia agak terperangah setengah kurang percaya. Kalimat pertama yang meluncur dari mulutku setelah mengucap salam adalah “ kakak masih ingat saya gak ?” Dia menjawab “ kenapa tidak , kamu Pidi kan !” . Aku sangat terharu dan tanpa tersadar kami berpelukan.

Malam itu kami beristirahat di rumah Kak Ullah. Dan kami bercerita cukup banyak tentang keadaan tempat ini serta perubahan – perubahan yang terjadi. Sekaligus saya gunakan untuk mencari informasi sebanyak mungkin soal kabar teman – teman yang masih saya ingat namanya. Oh ,. Ya … rumahnya Kak Ullah ini tepat dipinggir jalan poros. Tempatnya bernama Salu Tambung. Dulunya adalah salah satu dusun dari desa Sambabo , tapi sekarang statusnya telah menjadi desa. Dan terpisah dari Desa Sambabo. Pusat Desa Sambabo sendiri berjarak ± 5 KM dari situ. Terletak didataran yang cukup tinggi.

Karena waktu yang sempit sementara besok saya harus sudah harus berangkat. Malam itu saya gunakan untuk berkunjung ke rumah teman – teman terdekat. Karena ternyata cukup banyak juga teman yang tinggal tidak jauh dari rumah Kak Ullah. Dan sebuah kebetulan yang tak dinyana , tak jauh didepan rumah kak Ullah diseberang jalan tinggal salah satu teman terakrab saya dulu. Namanya Ratna , sekarang dia juga tinggal di Salu Tambung. Dulunya waktu saya disini . kami semua masih tinggal diatas di Sambabo.

Karena dia membuka toko , maka saya pura – pura membeli sesuatu. Sekaligus ingin memastikan seperti apa dia sekarang. Tidak banyak yang berubah darinya selain bahwa dia sekarang memakai jilbab. Saat pertama bertemu seperti dia sudah lupa. Walau dari tatapannya saya bisa melihat ada rasa penasaran. “ Kamu Ratna kan ?”. Dia kelihatan tertegun. “ wah ,.. saya sudah dilupa ternyata . saya Pidi .” Dan dia pun setengah histeris sembari memukul pundak saya. Kami pun bercerita , dia bilang waktu lihat pertama. Dia sudah agak bingung, karena merasa mengenal tapi dia tidak yakin.

Dan kalimat standar pertama yang dia tanyakan adalah “kamu sudah kawin belum ?”. “ Belum “ jawabku. Di tertawa “ cepat – cepatlah kamu kawin , sebentar lagi kamu kadaluwarsa itu. Aku ni dah dua kali kawin”. Wah,.. dia tak berubah sama sekali. Tetap ceplas – ceplos seperti dulu. Dan juga perhatian seperti yang dulu – dulu.Dia menanyakan aku menginap dimana trus sudah makan apa belum. Dia menyuruh saya memanggil teman – teman (yang saat itu tertinggal dirumah Kak Ullah) yang lain untuk kerumahnya. Karena sepertinya dia melihat tampang kelaparan diwajahku. Tapi karena saya memang sudah makan di warung saat pertama datang di Salu Tambung ini. Maka saya menolak.

Lagipula yang terpenting bagiku malam itu adalah dapat tempat menginap. Kami cukup kelelahan.

Kami bangun pagi dengan perasaan segar. Kopi dan beberapa panganan telah menanti kami. Kopi disini adalah minuman standar . Terutama di Sambabo yang akan saya datangi sebentar lagi. Mungkin karena disana suhunya cukup dingin maka kopi jadi penghangat yang pas. Dan kopinya nikmat, tak kalah dengan kopi Toraja yang terkenal itu. Dulu waktu saya tinggal disini, teh menjadi minuman langka. Bukan karena tidak ada tapi karena tidak ladzim. Kopi disini hasil tanaman sendiri.

Setelah sarapan kami bergegas ke tempat tujuan utama yaitu Desa Sambabo. Kami berencana mandi disana. Karena disana ada air terjun yang bisa jadi salah satu yang terindah di Sulawesi. Sayang tak terjamah hingga tak terpublikasi. Hanya ± 20 menit waktu tempuh dari Salu Tambung dan jalan poros Mamuju – Majenne. Dan disanalah tempat saya banyak menghabiskan waktu , saat dulu tinggal disini.

At sambabo

Kehebohan sedikit terjadi setibanya kami disana. Tempat ini agak jarang didatangi orang asing. Apalagi sepagi ini. Belum lagi penampilan kami yang agak berbeda. Kami langsung menuju sungai dan acara mandi pagi orang – orang pun buyar. Mereka semua agak sedikit bingung dan heran dengan kehadiran kami disana. Yang begitu tiba jepret sana – jepret sini dengan kamera. Al hasil sebagian besar mengurungkan niat mandi dan yang lain – lain. Atau mempercepatnya. Disini sungai masih dijadikan sarana MCK oleh sebagian besar warganya, karena jaraknya memang tak jauh dari pemukiman.

Sungainya berbatu dan sungguh indah. Disini ada air terjun beringkat tiga dan tingkat terbawah memiliki ketinggian yang cukup luar biasa. Saya tak tahu pastinya tapi perkiraan saya bisa mencapai 25 – 30 meter. Sebuah ukuran yang luar biasa. Bisa tiga kali lipat ketinggian air terjun di Batimurung. Walau dari segi debit air Batimurung jauh lebih hebat. Tapi soal bentuk disini jauh lebih artistik. Bila di Batimurung bentuk aliran air terjunnya sedikit diagonal, disini betul – betul vertikal. Dan sangat bisa di bilang “waterfall atau air jatuh”.Sayang kami hanya bisa mengeksplorasi dua tingkatan. Karena posisi kami diatas air terjun . untuk melihat tingkatan terbawah dan tertinggi kami harus turun kebawah lembah. Dan itu harus menempuh jalan berputar yang cukup jauh. Kami terlalu malas untuk melakukannya. Apalagi yang ada ini juga sudah cukup indah. Tapi menjadi kurang afdol karena tingkat tertinggi itu tidak terabadikan oleh kamera kami.

Slow Speed mode

Slow Speed mode

Yang agak patut disayangkan adalah bahwa tempat seindah ini tidak terpublikasi sehingga menjadi surga yang teraniaya. Karena keindahan yang terbentuk oleh susunan batu – batu menjadi rangkaian indah hanya jadi tempat membuang hajat. Alias menjadi WC alam raksasa bagi warga sekitar. Dulu waktu tinggal disini , saya sudah pernah menyusuri sungai ini . Termasuk pernah melihat tingkat terbawah sekaligus tetinggi dari air terjun ini. Saat menyusuri sungai ini dulu, juga rasa takjub tak henti – henti terpancar dari hati saya. Keindahan susunan bebatuan di setiap tempat dengan formasi yang bermacam – macam. Dan Sebagian besar sungai berada di jepitan tebing yang curam di kedua sisinya.

Andai saja ada tempat seperti ini di kalimantan. Saya yakin ia akan menjadi keajaiban. Dan menjadi tempat wisata terbaik. Kalau saja bisa. Dan saat pulang kami masih disuguhi hamparan laut dari ketinggian. Karena memang Sambabo berada di dataran tinggi ( saat kesini kami mendaki sepanjang jalan). Tapi tak jauh dari laut. Hingga keluar dari desa itu laut akan langsung terpampang di depan. Dan menatap dari ketinggian , sungguh sangat indah. Walau agak sulit mencari anggel kamera yang tepat karena terhalang pepohonan.

Nice View

Nice View

Well. Disana saya bertemu teman – teman yang sebagian besar masih mengingat saya. Walau ada juga yang dalam kondisi ingat – ingat lupa. Dirumah salah seorang teman disana saya menghabiskan waktu cukup lama disana. Ngobrol menggali kenangan lama. Oh,.. ya . Disini saya dipanggil Pidi. Mereka bahkan tak banyak yang tahu nama asli saya. Nama Pidi adalah nama yang mereka berikan pada saya. Yang awalnya adalah semacam ejekan. Saya punya bawaan lahir yaitu mata saya mudah sekali berkedip. Mungkin bisa 2 – 3 kali orang normal. Nah berkedip dalam bahasa disana adalah “kapidi – pidi”. Karena awal bertemu dulu mereka tak tahu nama saya. Akhirnya oleh mereka dipanggil kapidi – pidi. Seiring waktu yang tertinggal hanya Pidi. Dan menjadi nama resmi saya.

Sebenarnya saya ingin sekali tinggal lebih lama disini. Bahkan ingin rasanya waktu seminggu yang saya punya, saya habiskan disini. Apalagi teman – teman disini setengah memaksa agar saya tinggal saja. Tapi saya gak mau bikin rombongan saya ngamuk. Apalagi kami hanya rombongan kecil. Bila hilang satu akan terasa sekali dampaknya. Lagipula kami semua bisa dibilang buta tentang Sulawesi. Dan modal utama kami adalah berani dan nekat. Jadi “stay in group” sangat penting.

Siang hari setelah berpamitan dengan orang – orang disini kami melanjutkan perjalanan. Dan jarak yang ditempuh cukup jauh ± 300 KM. Dan melintas antar provinsi. Sulawesi Barat – Sulawesi Selatan.

Tujuan kami selanjutnya Pare – Pare. Salah satu kota tersibuk di Sulawesi selatan. Dan di perjalanan ini lah kami banyak belajar tentang kondisi sosial masyarakat Sulawesi secara umum. Juga ada tips – tips bagi yang suatu saat tertarik menyusuri rute kami.

Bersambung !

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 27, 2012 in Aku Menulis, Catatan Harian

 

Tag: , , ,

Road To Celebes

Bulan ini sungguh luar biasa. Hal yang direncanakan cukup lama akhirnya terealisasi. Touring di pulau Sulawesi. Tapi kami hanya punya waktu seminggu. Karena harus menyesuaikan jadwal cuti teman – teman. Maka rute paling realistis untuk waktu sesempit itu adalah Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan melewati jalur pesisir.

Sebenarnya tulisan ini agak terlambat. Padahal sebelumnya aku berencana membuat catatan  yang akan aku posting setiap hari. Tapi karena aku terlalu menikmati perjalanan dan berusaha memanfaatkan waktu yang sempit secara maksimal, akhirnya niat itu gak kesampaian. Lagipula keterbatasan akses komunikasi khususnya internet membuat niat itu jadi lebih sulit. Lalu daripada tidak samasekali akhirnya aku buatlah rangkuman catatan ini.

DAY ONE ( 14 maret 2012)

Perjalanan dimulai dari tempat kami Muara Badak (Sebuah daerah ± 60 KM dari Samarinda, Kaltim). Kami berangkat berlima menggunakan tiga sepeda motor. Start pukul 09.00 pagi menuju Balikpapan yang dari tempatku jaraknya ± 180 KM. Waktu tempuh yang dibutuhkan berkisar 3 – 4 jam. Tapi karena kami berangkat rombongan dan kerap harus saling menunggu dan mengatur kecepatan, kami tiba disana pukul 01.30.

Setelah singgah membeli beberapa perlengkapan kecil. Kami menuju pelabuhan Ferry Balikpapan – mamuju yang kondisinya sangat padat.Karena pelabuhannya sangat sempit dan harus berbagi tempat dengan penampungan material kerikil untuk bahan bangunan. Jadi di banding pelabuhan tempat ini lebih mirip lokasi proyek. Sungguh memprihatinkan.

Ternyata kapal belum datang. Dari keterangan orang disana, kapal datang jam 03.00. Kami lalu menuju ke tempat polisi pelabuhan untuk menunjukkan surat jalan yang telah kami buat beberapa hari sebelumnya. Disana surat kami di beri stempel dan dimintai uang Rp 20.000. Kenapa saya bilang “”dimintai” ? Karena yakin 100% itu pungutan liar. Bahkan saat mengurus surat jalan di Polres Samarinda beberapa hari sebelumnya kami juga mengalami hal yang sama. Disini dimintai Rp 50.000 . Membayar 50.000 untuk selembar kertas yang disebut “surat jalan”aku pikir terlalu mahal. Tapi karena Polisi selalu benar , aku malas mendebatnya. Ironis dengan tulisan besar yang terpampang disana bahwa “ Polisi pelayan masyarakat”. Dari celetukan temen semboyan itu harusnya berbunyi “ Polisi pelayan masyarakat, kalau ada duit”.Lalu apa alasan itu aku anggap pungli ? Karena kami tidak diberi bukti pembayaran atau semacam tanda terima. Sehingga kami bisa tahu itu pungutan resmi. Yang ada Cuma kata – kata “ satu lembarnya 50.000 dik”.

Kembali ke pelabuhan. Karena kapal belum datang . Dan andaipun telah datang juga harus melewati proses bongkar muat yang cukup lama. Kami akhirnya mencari mesjid terdekat untuk shalat dan beristirahat sejenak.

Balik ke pelabuhan jam 5 . Ternyata kapal sudah datang. Kami lalu ke loket untuk membeli tiket. Karena kami membawa kendaraan kami di minta ke ruang sebelah untuk menunjukkan surat jalan ke dinas perhubungan. Dan bisa di tebak, pungutan liar lagi. Disini kami dimintai 25.000 untuk selembar kertas. Lalu saya iseng berkata, Kok bayar terus sih ! Ini uang apalagi pak ? Dan si bapak langsung emosi. Intinya ia berkata ini uang “jasa pelabuhan”. Aku bingung juga ini jasa apaan. Lalu aku bilang lebih lanjut,” ya udah pak aku mau bayar berapapun, yang penting ada tanda terima. Atau semacamnya yang disitu ada tertera nominal yang harus aku bayar . Dia makin gondok dan entah ngomong apa aja. Ya udah karena gak mau jadi panjang. Aku bayar aja. Sebenarnya bukan masalah bayarnya yang aku berat kan. Tapi aparat – aparat kayak gini udah di bayar sama perintah yang notabene pakai uang rakyat. Masih juga nyari uang haram dengan memeras rakyat. Semoga hal ini dapat mendapat perhatian serius dari instansi terkait. Kalau memang benar harus membayar , buatlah jadi jelas dengan mencantumkan nominal diatas kertas – kertas itu. Apa susahnya sih !

Setelah itu kami membeli tiket. Harga tiket pun berbeda dari yang dibayar dan yang tertera di lembaran tiketnya. Disitu tertulis 288.000 , sementara yang harus dibayar 326.000. Dan juga berbeda yang tertera di website ASDP yang tertera 304.000. Bener – bener tak professional pikirku. Dan tetap kami harus membayar harga termahal. Tapi tak apalah , hal terpenting yang ada dipikiran kami adalah pulau Sulawesi. Anggap aja itulah takdir buruk jadi orang Indonesia.

Setelah proses bongkar muat yang cukup lama. Kendaraan kami baru bisa masuk ke kapal ferry ± jam 06.30. Kapal berangkat jam 07.30. Dan petualangan pun dimulai.

Diatas kapal Ferry  Balikpapan – mamuju ini, merupakan episode paling mendebarkankan disepanjang perjalan yang aku lewati. Ferry ini bukan kapal besar tapi laut yang harus dilintasi berada pada kondisi terburuknya. Bahkan kami lah ferry terakhir yang berani tetap berlayar. Ombak luar biasa besar , sejak memasuki laut lepas kapal tidak pernah bisa berjalan tenang. Mesin kapal pun hampir – hampir tak pernah dalam kondisi di gas.  Barang – barang dalam kapal pun ikut terhempas . Bahkan ada salah satu mobil truk besar dalam kapal terlepas ikatannya. Malam itu suasana horror cukup terasa. Bahkan salah seorang teman kami yang baru pertama kali naik kapal langsung trauma.

On The Boat

Dari salah seorang penumpang kami sempat bercerita mengatakan “ saya sudah sepuluh tahun bolak – balik Balikpapan – Mamuju, tapi baru kali ini ketemu ombak sebesar ini”. Juga ada seorang ibu yang kurang lebih berkata sama. Karena sudah diatas kapal kami hanya bisa pasrah. Tapi aku sedikit berbangga diantara kami berlima , hanya aku yang tidak mabuk. Keempat temanku KO semua. Ada dua yang “Jackpot” istilah mereka untuk muntah – muntah. Sedang yang dua lagi hampir tak bergerak dari tempat duduknya sepanjang jalan dengan tampang menggenaskan.

Sepertinya malam itu menjadi salah satu “malam terpanjang” dalam hidup kami. Karena kondisi gelap , kami hanya bisa melihat hempasan air , bahkan sampai ke tempat teratas kapal. Tapi Segelap, semengerikan dan semenakutkan apapun malam toh akhirnya akan berakhir juga. Dan pagipun akan datang setelahnya.

Ketika cahaya pagi itu datang. Kami masih in the middle of nowhere. Di lautan lepas. Hati pun ikut cerah. Walaupun bukan berarti penderitaan berakhir. Bila malam kami hanya bisa membayangkan ombak seperti apa yang kami lewati. Saat hari terang apa yang kami bayangkan sekarang tertera jelas di depan mata. Lipatan ombak yang tinggi dan dalam menjadi menu mata selanjutnya. Aku tak henti – hentinya berdzikir dan berdoa. Apalagi saat kapal berada disela – sela lipatan ombak, aku bisa melihat puncak ombak hampir setara dengan kapal. Dan saat kapal ada dipuncak ombak, kapal seakan mau jatuh karena oleng. aku tak tahu berapa tinggi ombak , tapi 8 – 10 meter mungkin tercapai.

Dan pikiran agak tenang saat melihat bayangan gunung di kejauhan. Pulau Sulawesi sebelah barat telah terlihat. Tapi masih butuh waktu cukup lama untuk merapat kesana. Ketika semakin dekat . SubhanaLLah,.. kami disuguhi pendangan yang menurutku sangat indah. Inilah Mamuju, ibukota Sulawesi Barat yang ber kontur pegunungan. Satu bukti bahwa kondisi laut yang buruk adalah, kami tak melihat satupun perahu nelayan yang beroperasi. Kami menjadi satu – satu nya benda besar yang terapung dilaut saat itu. Dan waktu tempuh yang normalnya 12 jam kami tempuh hampir 20 jam. Kapal bersandar dipelabuhan jam 4 sore. Bahkan Ferry yang berlayar kearah sebaliknya terlihat sandar disisi lain pelabuhan, tidak berani beroperasi. Padahal seharusnya hari itu dia ada di Balikpapan.

Samar - Samar terlihat bayangan gunung di kejauhan

Kamis sore itu dalam kondisi hujan kami menjejakkan kaki pertama kali di pulau Sulawesi. Tepatnya Mamuju ibukota Sulawesi Barat. Salah satu hal yang cukup menarik untuk diceritakan adalah, saat dikapal kami bertemu seorang dari NTT yang berada dalam perjalanan panjang mengelilingi Indonesia. Saat bertemu kami dia telah melewati 23 provinsi dengan lama waktu hampir 6 bulan. Luar biasa. Dan saat mendarat di Mamuju sore itu kami menyempatkan diri foto bareng.

Si pengeliling Indonesia berdiri paling sebelah kiri kami.

Si pengeliling Indonesia berdiri paling sebelah kiri kami.

Disini tempat paling barat di pulau Sulawesi. Dan salah satu tempat paling menantang untuk dilewati menjadi titik awal rute kami.

Perjalanan panjang menyusuri dua propinsi di Pulau Sulawesi pun di mulai…… !!!

Bersambung .

 
9 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 26, 2012 in Aku Menulis, Catatan Harian

 

Menikahlah !

Aku selalu bersyukur menjadi laki – laki. Karena bagiku lelaki itu berkaki panjang, bermata terang dan berdada lapang. Tentu saja ini ungkapan yang aku buat sendiri. Berkaki panjang maksudnya lebih bebas melangkah dan bisa kemana – mana tanpa terhalang terlalu banyak batasan. Bermata terang karena lebih banyak yang bisa dilihat, keindahan alam dan tempat – tempat mengasyikkan. Tapi tentu saja kalau mau memanfaatkan kaki yang panjang. Dan dada yang lapang maksudnya lelaki lebih siap dengan segala perubahan, berpikiran terbuka dan tidak terlalu sensitif hingga tidak gampang tersinggung atau sakit hati.

Dalam beberapa hal bagiku menjadi laki – laki itu jauh lebih mudah. Tapi dalam beberapa hal yang lain kadang ada rasa iri pada perempuan.
Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 11, 2012 in Opini

 

Tag: , , , ,

Margin OF Horror

“Apa,…. ke dukun?” Tanyaku setengah ingin tertawa.

“Bukan , tapi paranormal.” Jawabnya.

“Emang apa bedanya?”

“Ya, bedalah. Loe mau gak.?” kali ini nadanya tinggi.

Aku tak bisa menahan tawa. Bagaimana tidak, Irwan kawanku sekantor, yang selalu tampil “hebat” memintaku menemaninya ke paranormal. Benar kata orang, penampilan kerap menipu. Dan temanku ini buktinya. Tapi, sepertinya menarik juga. Aku kadang penasaran dengan aktivitas klenik. Walaupun menganggapnya omong kosong. Lagipula sekedar menemani. Kurasa tak ada salahnya. Apalagi siang ini tidak banyak yang dikerjakan dikantor.
Read the rest of this entry »

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 22, 2011 in Aku Menulis, Fiksi, Humor

 

Tag: , ,